Fenomena 'kelihatan gemuk' meski massa tubuh normal ini, rupanya berkaitan erat dengan komposisi di dalam tubuh.
Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa angka BMI yang normal belum tentu menjamin tubuh seseorang sehat dan ideal secara komposisi. Kondisi ini umumnya terjadi karena kadar lemak tubuh yang dominan, sementara massa ototnya minim.
"Status gizi normal tuh maksudnya kayak BMI-nya normal. Itu nggak apa-apa. Jadi misalnya kayak BMI-nya normal, tapi ternyata komposisi tubuhnya lemaknya kebanyakan. Ternyata si ototnya kecil nih," ujar dr Yaze dalam siaran langsung TikTok detikHealth, Kamis (15/10/2026).
dr Yaze menegaskan bahwa fokus utama untuk memperbaiki bentuk tubuh bukanlah memotong porsi makan secara ekstrem demi menurunkan berat bada. Tetapi, merombak komposisi tubuh melalui latihan pembentukan otot.
"Saran aku adalah olahraga yang membentuk si otot. Jadi si lemaknya itu harus dikecilin, ototnya gedein. Jadi berat badannya itu ideal karena banyak ototnya, bukan banyak lemaknya," paparnya.
Ancaman Lemak 'Jahat' di Balik Tubuh Tampak Normal
Lebih lanjut, dr Yaze mewanti-wanti agar masyarakat tidak cepat berpuas diri hanya karena angka timbangan atau BMI berada di rentang aman. Penumpukan lemak yang tinggi, terutama lemak organ dalam (visceral fat), tetap mengintai dan berisiko memicu berbagai penyakit degeneratif hingga gangguan kesuburan.
Kelebihan lemak di area perut, paha, hingga lengan dapat mengendap di organ vital seperti hati (liver) hingga memicu perlemakan hati (fatty liver). Selain itu, endapan lemak di sekitar pankreas berisiko mengganggu kerja insulin dan memicu lonjakan gula darah.
"Terus misalnya dia kebanyakan di organ yang menyebabkan hormonal gangguan juga. Kayak misalnya di rahim, bisa bikin haidnya jadi susah, atau misalnya malah jadi PCOS karena penekanan lemak di visceral tadi," pungkasnya.
Simak Video "Video: Budidaya 'Belatung' Maggot untuk Bersih-bersih Sampah Organik"
(sao/naf)