Dr Kayika Cemaskan Perempuan yang Pasrah Kena Gangguan Seks

Doctor\'s Life

Dr Kayika Cemaskan Perempuan yang Pasrah Kena Gangguan Seks

- detikHealth
Selasa, 12 Jul 2011 17:05 WIB
Dr Kayika Cemaskan Perempuan yang Pasrah Kena Gangguan Seks
Jakarta - Mengalami nyeri seksual atau tidak pernah orgasme sering dialami perempuan. Tapi kebanyakan perempuan pasrah saja mengalami gangguan seks seperti itu. Kondisi ini membuat Dr. dr I Putu Kayika, SpOG sangat prihatin karena sangat jarang perempuan Indonesia yang mau mencari pertolongan medis.

"Saya itu prihatin dengan kondisi perempuan-perempuan kita yang memiliki masalah seksual tapi kemudian tidak bisa mencari jalan keluar terhadap masalahnya," ujar Dr. dr. I Putu Gede Kayika, SpOG saat ditemui detikHealth disela-sela acara sidang promosi doktor di FKUI Salemba, Jakarta, Selasa (12/7/2011).

Hal ini menjadi salah satu alasan yang mendorong Dr Kayika untuk menyelesaikan disertasinya yang berjudul 'Penentuan Indeks Prediksi Disfungsi Seksual pada Perempuan Pengantin Baru' dan telah berhasil mendapatkan gelar doktor dalam Ilmu Kesehatan Masyarakat hari ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Dr Kayika, sebenarnya banyak perempuan Indonesia yang mengalami disfungsi seksual, seperti nyeri seksual, gangguan libido (dorongan seksual), gangguan bangkitan seksual atau gangguan orgasme.

Tapi jika pun perempuan tersebut menyadari bahwa ia mengalami disfungsi seksual, kebanyakan perempuan hanya pasrah dan sangat jarang yang mau mencari pertolongan medis atau pun sekedar mencari referensi tertentu dengan membaca.

"Pertama, kalau mau minta tolong kemana mau minta tolongnya, kemana dia mau berobat? Kan memang tidak ada ahli khusus (yang menangani disfungsi seksual perempuan). Jadi itu salah satu yang menghambat mereka mencari pertolongan," jelas pria kelahiran Denpasar, 23 Mei 1964 ini.

Bapak 3 orang anak ini juga prihatin karena belum banyak dokter yang ahli dan mau peduli dengan disfungsi seksual yang terjadi pada perempuan. Padahal gangguan seksual dapat menjadi pengalaman buruk yang bisa berdampak pada kualitas hubungan dan keharmonisan rumah tangga.

Dalam praktik sehari-harinya, ia sesekali menemukan pasien yang bermasalah disfungsi seksual dan berkonsultasi dengan dokter. Tapi tidak semua dokter bisa menangani dengan baik karena kurangnya pengalaman dalam bidang tersebut.

Jadi menurutnya, Indonesia membutuhkan ahli yang memang bisa mengkhususkan diri dalam gangguan fungsi seksual pada perempuan.

"Mestinya kan ke dokter kandungan, cuma kan dokter kandungan kita tidak semuanya peduli dan care dengan hal-hal disfungsi seksual. Saran saya sebaiknya disosialisasikan, diberikan pelajaran-pelajaran supaya dokter itu bisa care, lebih peduli pada perempuan karena dia tersiksa. Nyeri seksual dibiarkan, sekian tahun menikah tidak pernah merasakan orgasme. Itu kan kasihan," jelas Dr Kayika.

Untuk saat ini, perempuan yang mengalami disfungsi seksual bisa mencari pertolongan kepada dokter kandungan (obgin) atau psikiater bila gangguan seksualnya terjadi karena faktor psikologis seperti trauma seksual dan depresi.

Saat ini Dr Kayika aktif sebagai pengajar di Departemen Obstetri dan Ginekolohi FKUI-RSCM. Menurutnya, menjadi dokter spesialis kandungan adalah sesuatu yang menarik karena bisa menolong ibu yang melahirkan dan menangani masalah dalam persalinan.

"Menolong orang melahirkan dengan baik itu rasanya bahagia," tutur Dr Kayika.

Dr Kayika mengatakan banyak pengalaman-pengalaman menarik yang terjadi selama ia menjadi dokter spesialis kandungan (obgin). Misalnya harus menghadapi keluarga pasien yang tidak terima dengan kondisi ibu atau istrinya yang mengalami pendarahan atau gangguan rahim.

"Itu kondisi-kondisi yang mengejutkan bagi keluarga. Tapi saya kan harus tetap melakukan yang terbaik demi menolong mereka. Tentunya dengan komunikasi yang baik dan diberi penjelasan yang baik," ujar Dr Kayika.


Biodata


Nama: Dr. dr. I Putu Gede Kayika, SpOG
Tempat dan tanggal lahir: Denpasar, 23 Mei 1964
Status: Menikah dengan Ir Made Sudarmini dan dikarunia 3 orang anak
Pendidikan:
SD N Desa Kapal, Kec. Mengwi, Kab. Badung, Bali (1970-1977)
SMP N 1 Denpasar, Bali (1977-1981)
SMA N 1 Denpasar, Bali (1981-1984)
Pendidikan Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta (1984-1990)
Pendidikan Spesialis Obstetri dan Ginekologi FKUI, Jakarta (1994-1998)
Konsultan Obstetri dan Ginekologi Sosial FKUI, Jakarta (2000-2004)
Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran FKUI, Jakarta (2007-2011).
Pekerjaan: Dokter, staf pengajar Divisi Obstetri dan Ginekologi Sosial di FKUI-RSCM




(mer/ir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads