Dr Ari Fahrial Syam dan Balada 'Hidup Mati di Tangan Dokter'

Doctor\'s Life

Dr Ari Fahrial Syam dan Balada 'Hidup Mati di Tangan Dokter'

- detikHealth
Senin, 08 Agu 2011 13:48 WIB
Dr Ari Fahrial Syam dan Balada Hidup Mati di Tangan Dokter
Jakarta - Menjadi dokter di daerah terpencil sama artinya memanggul beban yang berat. Fasilitas yang minim membuat pasien tidak bisa dikirim kemana-mana. Warga terpencil pun seperti menyerahkan hidup matinya di tangan dokter seperti yang pernah dialami Dr Ari Fahrial Syam.

Tentu saja itu pengalaman berharga yang tak terlupakan bagi Dr Ari dalam mengawali karirnya di dunia kedokteran. Dr Ari menuturkan pengalaman saat ia mengikuti program Dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) gelombang 1 untuk daerah terpencil di Jambi.

Ia juga menjadi Kepala Puskesmas Tanjung Kecamatan Kumpeh Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi selama tahun 1992-1995. Daerah tersebut merupakan daerah terpencil yang sepanjang 6 bulan mengalami banjir akibat pasang surut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya bekerja dengan wilayah yang luas, tanggung jawab terhadap 10 desa dan jumlah penduduknya 12.000. Boleh dibilang dalam tanda kutip bahwa hidup mati ada di tangan dokter, karena pasien tidak bisa dikirim atau tidak mungkin kemana-mana lagi," ujar Dr Ari saat berbincang dengan detikHealth belum lama ini seperti ditulis, Senin (8/8/2011).

Menjadi satu-satunya dokter, tentu saja ia dituntut untuk bisa mengobati pasien dalam sakit apapun termasuk bolak-balik membantu proses melahirkan. Dr Ari menceritakan salah satu proses melahirkan yang cukup sulit ketika menghadapi persalinan bayi kembar. Ia harus berjuang agar ibu dan bayi kembarnya selamat dengan peralatan yang minim.

Karena sangat diandalkan oleh warga sebagai 'penyembuh' orang sakit, Dr Ari mengaku yang paling menjadi prioritasnya adalah selalu berusaha agar pasien-pasiennya sembuh dan menjalani hidup sehat. Penyerahan 'hidup mati ke dokter' oleh warga desa menuntutnya untuk pintar dan berhati-hati melakukan tindakan medis.

Kerasnya hidup di daerah terpencil ini kata Dr Ari menjadi pengalaman baru baginya karena sebelumnya ia terbiasa hidup di Jakarta yang semua fasilitasnya mudah ditemui.

"Saya lahir dan besar mulai dari sekolah hingga kuliah di FKUI di Jakarta Pusat yang semua fasilitas ada. Jadi begitu saya bekerja di daerah terpencil yang tidak ada listrik dan sulit air, itu menjadi pengalaman yang masih saya ingat sampai sekarang," ujar Ketua Advokasi PB PAPDI (Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia).

Panggilan menjadi dokter untuk mengabdi ke masyarakat, menurut Dr Ari sudah menjadi cita-citanya sejak masih kecil. Saat kecil ia melihat profesi dokter bisa membuatnya berbagi dengan orang lain dan membantu orang-orang yang mengalami kesusahan. Cita-cita itu terus tertanam hingga ia dewasa.

Dokter Ari mengaku menikmati menjalani profesi sebagai dokter karena ia punya otoritas yang terbilang cukup tinggi dalam menentukan segala macam keputusan, yang berarti segala keputusan ada di tangan dokter dengan dasar-dasar ilmiah.

Dr Ari menceritakan kenapa ia mengambil spesialisasi penyakit dalam. Karena menurutnya permasalahan penyakit yang paling banyak dialami masyarakat adalah penyakit dalam. "Jadi kalau memang ingin berbuat banyak untuk masyarakat saya rasa ya dibidang penyakit dalam ini," ungkapnya.

Dari sekian banyak penyakit dalam yang ada menurut Dr Ari, masalah lambung dan pencernaan adalah masalah yang banyak dialami oleh masyarakat karenanya ia selalu terpacu mendalami ilmu itu agar bisa memecahkan masalah di seputar Gastroenterologi.

"Jika saya bisa mendalami ilmu tersebut, maka saya bisa memecahkan masalah yang ada di pasien khususnya dan masyarakat secara luas umumnya," ujar Dr Ari yang mendapatkan gelar Doktor dalam bidang ilmu biomedik pada 2011.

Dr Ari juga mengakui bergelut di dunia kedokteran sering tidak terlepas dari rasa stres karena profesi dokter terbilang salah satu pekerjaan dengan tingkat stres yang tinggi.

"Kalau saya berprinsip untuk selalu berpikir positif dan jalani saja hidup ini, selain itu saya juga punya hobi menulis (http://staff.blog.ui.ac.id/ari.fahrial/) yang bisa menjadi cara untuk mengurangi stres," ujar dokter dengan 3 anak ini.

Dr Ari mengungkapkan bahwa kalau seseorang senantiasa berbuat baik untuk orang lain, maka suatu saat nanti ketika ia membutuhkan sesuatu maka orang lain akan membantunya.

Saat ini salah satu harapan dari Dr Ari adalah masyarakat bisa hidup dan memiliki tingkat kesehatan yang lebih baik, serta bisa membantu dan menolong lebih banyak orang lagi.

BIODATA

Nama lengkap
dr H Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP

Tempat dan tanggal lahir
Jakarta, 19 Juni 1966

Status perkawinan
Menikah dengan drg Seri Fahrial dan dikaruniai 3 orang anak

Hobi
Menulis dan bermain tenis

Riwayat Pendidikan
1978-1981 : SMPN 40 Jakarta
1981-1984 : SMAN 4 Jakarta
1984-1990 : Dokter umum FKUI Jakarta
1995-2000 : PPDS Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Jakarta
2000-2005 : Konsultan Gastroenterologi Hepatologi-Kolegium PB PAPDI
2006-2011 : Program Doktor Ilmu Biomedik FKUI, Jakarta

Pekerjaan
Staf pengajar di FKUI, asisten ahli

Organisai
Staf divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSUPNCM
Anggota American College of Physician
Ketua Bidang Advokasi Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI)
(ver/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads