Sebagai dokter kandungan, dr Budi, demikian ia biasa disapa tentu punya cara sendiri untuk 'menghamili' para pasiennya. Terlebih dokter kelahiran Jakarta 41 tahun silam ini punya keahlian khusus, yakni merekayasa kehamilan dengan teknik bayi tabung.
"Bagi saya kalau pasien senang, saya ikut senang. Paling bahagia kalau pasien bisa hamil lalu punya anak, tiap anaknya ulang tahun saya dikirimi foto-fotonya," ungkap dr Budi saat ditemui di Klinik Yasmin Kencana, RS Cipto Mangunkusumo beberapa waktu lalu, seperti ditulis Senin (26/9/2011).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begitu lulus, dr Budi langsung melamar dan diterima sebagai staf pengajar di departemen kebidanan RS Cipto Mangunkusumo. Sambil mengajar, ia juga terus memperdalam ilmu tentang masalah ketidaksuburan atau infertilitas khususnya teknik bayi tabung hingga ke Thailand, Jepang dan Vietnam.
Dalam 5 tahun terakhir, dr Budi banyak sekali menghadapi pasien dengan berbagai masalah ketidaksuburan dan dituntut untuk bisa membantu memecahkannya. Pasangan tidak subur yang mendatangi dr Budi untuk bisa hamil umumnya sangat stres, karena biaya program bayi tabung tidak murah sementara tuntutan keluarga sangat tinggi untuk segera punya momongan.
"Tingkat stresnya sangat tinggi padahal peluangnya untuk hamil hanya 30-40 persen. Sejak menjalani terapi selama 2 minggu, disuntik tiap hari dan khususnya pada saat-saat menunggu hasilnya. Tak jarang ada yang menangis atau marah-marah, kecewa ketika ternyata belum bisa hamil," ungkap dr Budi.
Bagaimana tidak stres, biaya untuk menjalani program bayi tabung tidak bisa dikatakan murah jika dibandingkan dengan peluang hamilnya yang hanya 30-40 persen. Untuk bisa punya anak melalui teknik ini, tiap pasanan harus merogoh kocek rata-rata sekitar Rp 30-60 juta.
Meski begitu dr Budi mengatakan, peluang itu tidak bisa dibilang kecil jika dibandingkan dengan kemungkinan untuk hamil secara alami pada pasangan tidak subur yang hampir 0 persen. Bayi tabung memang tidak menjamin kehamilan 100 persen, tetapi hanya memberi sedikit harapan daripada tidak mungkin hamil sama sekali.
Karena itu tantangan terberat bagi dokter kandungan yang melayani program bayi tabung menurut dr Budi adalah bagiamana memberikan pendampingan psikologis pada pasien. Komunikasi yang baik sangat penting, sama pentingnya dengan pemberian informasi yang lengkap soal peluang kehamilan.
"Kita selalu menyediakan tim khusus untuk melakukan pendampingan psikologis, terdiri dari para konselor yang akan menguatkan pasien agar tidak stres selama menjalani program ini," tambah dr Budi.
Selain mendalami ilmu ketidaksuburan atau infertilitas, dr Budi juga banyak mempelajari kesehatan reproduksi remaja khususnya gangguan haid. Menurutnya, remaja termasuk kelompok berisiko tinggi karena pengetahuan tentang fungsi-fungsi organ reproduksi umumnya masih terbatas.
Selama bekerja di Klinik Yasmin Kencana, dr Budi juga menangani pasien khususnya remaja putri dengan berbagai masalahnya termasuk menstruasi tidak teratur. Banyak yang menganggapnya wajar, namun tak jarang hal itu mengindikasikan kondisi yang lebih serius misalnya endometriosis.
BIODATA
Nama
dr Budi Wiweko, SpOG(K)
Tempat/tanggal lahir
Jakarta, 15 Agustus 1971
Status
Suami dari Siti Nadia Tarmizi
Anak
- Marsadhia Rafifa A Wiweko (8 tahun)
- Ghefira Tahani M Wiweko (6 tahun)
- M Rafi Izdihar Wiweko (8 bulan)
Pendidikan
- Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (1990-2996)
- Spesialis Obstetric and Gynecology di Universitas Indonesia (2001-2005)
- Mahasiswa riset di Hyogo College of Medicine, Nishinomiya-Jepang (September-November 2006)
- Konsultan Endokrinologi Reproduksi dan Kesuburan, Universitas Indonesia (Agustus 2006-Desember 2008)
Pekerjaan
- Staf medis divisi Reproduktif Imunoendokrinologi RSCM (2005-sekarang)
- Asisten manajer bidang akademik Pendidikan Spesialis Obstetric and Gynecology, FKUI (2006-sekarang)
Organisasi
- American Society of Reproductive Medicine
- Indonesian Society of Obstetric and Gynecology
- Society of Assisted Reproductive Technology
- European Society of Human Reproduction and Embryology
- Indonesian Gynecology Endoscopy Society
- Indonesian Assosiation for In Vitro Fertilization
- International Society for Fertility Preservation
- Asia Pasific Interactive on Reproduction











































