"Saya tertarik mendalami herbal karena nenek saya mengajarkan kearifan perawatan kesehatan keluarga kami dengan memakai jamu seperti brotowali, temuireng, temulawak, jahe dan kunyit," ujar dr Hardhi Pranata, saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Senin (17/10/2011).
dr Hardhi menuturkan ia sendiri melakukan pengobatan herbal seperti membersihkan ususnya setiap tahun dengan mengonsumsi 1 sendok makan minyak castor, dikerok punggung dan dada saat masuk angin, menggunakan minyak telon dan kayu putih untuk menjaga kesehatan keluarga secara aman serta berkhasiat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu bukan berarti tidak ada tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam menyelamatkan plasma nutfah dari kekayaan alam hayati Indonesia yang mulai lenyap akibat pembabatan hutan, pencurian hayati serta perubahan fungsi dari hutan.
"Ada 9.500-an jenis tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat, karenanya harus ada lembaga yang mengurus ini," ujar dokter yang juga menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PHDMI).
dr Hardhi menuturkan tantangan terbesar lainnya adalah menginvestaris, mematenkan serta meneliti tumbuhan herbal serta mempercepat program jamu berbasis evidence based medicine. Dalam sertifikasinya jamu ini harus telah didukung oleh Kemkes, BPOM, PBIDI, GP Jamu, BalitroKem Pertanian, BPPT, LIPI, berbagai universitas dan perhimpunan.
Memang penelitian mengenai pengobatan herbal telah dilakukan, tapi menurut dr Hardhi ada satu penelitian yang menarik. Yaitu mengenai penggunaan ekstrak temulawak yang mengandung curcumin dan Xanthorrhizol yang berfungsi sebagai antiinflamasi dan antiplatelet agregasi.
"Saat ini masih dalam tahap uji praklinis oleh PHDMI yang bekerja sama dengan Fakultas Farmasi Unpad, serta ada juga penelitian penggunaan herbal untuk mengurangi efek samping kemoterapi pada pasien kanker payudara di RS Dharmais yang bekerja sama dengan Nanjing University of Chinese Medicine," ungkapnya.
Awal Mula Jadi Dokter
Keinginan dr Hardhi untuk menjadi seorang dokter dimulai dengan kekagumannya pada Prof DR dr H O K Tanzil (yang aslinya bernama Prof. Dr. Tan Thiam Hok), seorang guru besar mikrobiologi FKUI yang merupakan pamannya sendiri. Prof Tanzil sendiri adalah penemu metode pewarnaan tanpa pemanasan untuk mendeteksi basil TBC atau kuman Mycobacterium Tuberculosis.
"Beliau pernah mengatakan pada civitas akademika UI bahwa menjadi dokter itu baik, jadi pedagang itu baik, yang tidak baik adalah kalau dokter memperdagangkan profesinya," ujar konsultan saraf di RSPAD Jakarta.
Saat lulus SMA di Surabaya pada tahun 1969, dr Hardhi diterima di 2 universitas yaitu ITS jurusan kimia dan Universitas Airlangga di jurusan kedokteran. Akhirnya ia memutuskan untuk menjadi dokter karena profesi ini mulia dan pada waktu itu menjadi dokter adalah idola bagi kebanyakan lulusan SMA.
Sedangkan ketertarikan dr Hardhi terhadap spesialis saraf dimulai pada tahun 1985, karena saat itu masih sedikit ahli penyakit saraf di Indonesia. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi dr Hardhi karena penyakit saraf merupakan cabang ilmu yang paling sulit dan rumit untuk dipelajari.
"Selain itu pengobatannya juga kadang menimbulkan frustasi tersendiri bagi pasien, keluarga termasuk dokternya. Saya merasa ada tantangan tapi juga peluang untuk mengembangkan ilmu tersebut," imbuhnya.
Menjadi dokter juga dipenuhi oleh berbagai pengalaman menarik, salah satunya adalah ketika ia baru lulus dokter umum tahun 1978 dan menjalani dokter Inpres di Lampung yang mana ditempatkan di daerah terpencil yaitu kecamatan Cukuh Balak, Tanggamus Lampung.
Saat bertugas di daerah ini ia harus menolong persalinan, pengobatan massal, pelayanan KB dengan medan yang tidak mudah seperti melintasi hutan, naik turun pegunungan serta harus naik speedboat untuk mencapai suatu tempat.
"Sempat juga naik speedboat lalu mogok di tengah samudera padahal itu sudah gelap malam hari ditambah hujan deras. Untuk melihat pelabuhan hanya sayup-sayup terlihat pelita dan Alhamdulilah itu benar-benar pelabuhan Putih Doh dan bukan fatamorgana," ujar dr Hardhi yang juga menjadi dokter Tim Kepresiden.
Meski mendalami dua bidang, dr Hardhi tetap komitmen sebagai ahli saraf yang mendalami dunia herbal agar berbagai herbal yang ada di Indonesia bisa digunakan oleh para dokter disini.
Biodata
Nama: dr Hardhi Pranata, SpS, MARS
Tempat Tanggal Lahir: Surabaya, 23 April 1951
Pendidikan:
Fakultas kedokteran Universitas Airlangga 1977
Fakultas kedokteran Universitas Airlangga untuk spesialis saraf 1990
Magister administrasi rumah sakit UI 2000
Pekerjaan:
Dosen neurologi di FK YARSI, UPN, UKRIDA, UPH
Tim peneliti untuk Nanjing University Chinese Medicine dan RS Khusus Kanker Dharmais
Konsultan neurologis di RSPAD Jakarta
Konsultan neurologis di Bhakti Yudha Depok
Organisasi:
Ketua Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia
Anggota Komite Nasional untuk Saintifikasi Jamu
Wakil ketua Yayasan Stroke Indonesia cabang Jakarta
Ketua MKEK IDI cabang Depok
Penasehat Asosiasi Neurologis Indonesia cabang Jakarta
(ver/ir)











































