Bidang andrologi dan seksologi merupakan bidang spesialisasi baru dan masih jarang diminati pada saat Prof Wimpie Pangkahila baru lulus sekolah kedokteran di Universitas Udayana. Namun Prof Wimpie justru memilih spesialisasi tersebut karena merasa tertantang dengan hal-hal baru.
"Sederhana saja, waktu itu masih ilmu baru. Intinya saya itu suka tantangan dan sesuatu yang nggak pasaran, karena masih baru ya sudah saya masuk dan belum banyak (yang mengambil seksologi)," ujar Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS, Guru Besar dari Departemen Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, saat berbincang dengan detikHealth, Senin (5/11/2011).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Cerita menarik banyak sekali, khususnya di bidang seksologi. Banyak rahasia-rahasia pribadi yang masuk, yang berkaitan dengan masalah seksual, masalah perselingkuhan, itu ada di tangan saya semua. Tapi sebagai dokter saya harus pegang rahasia itu," ujar seksolog kelahiran 13 Desember tersebut.
Prof Wimpie menceritakan ada cerita menarik seputar perselingkuhan suami istri. Suami istri awalnya datang sendiri-sendiri dengan mengkonsultasikan masalah yang mereka hadapi, terutama masalah ketidakpuasan seksual dan perselingkuhan. Dan ketika datang bersama-sama, sang suami atau sang istri tidak mengetahui bahwa sebenarnya Prof Wimpie sudah mengetahui rahasia pasangan tanpa mereka tahu.
"Awalnya sendiri-sendiri, dari istri datang lapor suaminya punya selingkuhan, terus datang suaminya, jadi suaminya nggak tahu kalau saya sudah tahu dia punya selingkuhan," tutur dokter yang aktif di organisasi Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI).
Selama menjadi seksolog, kasus terbanyak yang ditangani Prof Wimpie adalah masalah ketidakharmonisan rumah tangga. Pada pria, masalah terbanyak adalah disfungsi ereksi dan ejakulasi dini, sedangkan pada perempuan terbanyak karena ketidakpuasan pada hubungan seksual dan hilangnya gairah setelah memiliki anak.
Menurut Prof Wimpie, kebanyakan kasus perselingkuhan terjadi karena kurangnya komunikasi antara suami istri. Berawal dari istri yang menolak berhubungan seksual karena memang kurangnya gairah dan suami yang marah karena merasa tidak dilayani oleh istri.
"Karena nggak saling terbuka akhirnya terjadi ketidakharmonisan, istrinya sering menolak karena nggak gairah lagi, suami marah kenapa menolak. Suami mengatakan kewajiban istri harus melayani, tapi nggak tahu kenapa istrinya menolak," katanya.
"Dari mereka sendiri nggak ada komunikasi, banyak suami yang nggak tahu kalau istrinya nggak pernah puas, istrinya juga nggak pernah ngomong kalau nggak pernah puas. Si istri sudah nggak ada gairah tentu menolak, suami marah karena istri menolak dan akhirnya menyalahkan istri. Sedangkan istri berpikir ngapain saya melayani suami kalau nggak pernah puas, jadi seperti lingkaran setan," lanjut Prof Wimpie.
Sangat banyak kasus perselingkuhan yang berawal dari tidak adanya komunikasi antar suami istri. Bahkan menurut Prof Wimpie semakin lama semakin banyak kasus perselingkuhan yang terjadi.
Jika dulu perselingkuhan identik dengan kaum pria, namun sekarang perempuan pun tak kalah banyak.
"Bukan emansipasi, tapi karena kesempatan makin besar. Istri sekarang punya kesempatan lebih banyak untuk bersentuhan dengan orang lain dibandingkan dulu. Dulu kan istri kebanyakan di rumah, jadi kesempatan untuk bersentuhan dengan orang lain sedikit. Sekarang karena perempuan Indonesia bekerja di luar rumah, kesempatan untuk berkenalan dengan orang lain jadi lebih besar," tutur Prof Wimpie, yang juga Ketua Program Magister kekhususan Anti-Aging Medicine, Universitas Udayana, Bali.
Kasus lain seputar masalah seks yang ditangani Prof Wimpie adalah pria yang ingin membesarkan alat kelamin. Hal ini karena masih banyaknya mitos yang percaya bahwa alat kelamin besar itu lebih baik. Padahal, menurut Prof Wimpie tidak ada cara yang dapat memperbesar alat kelamin pria.
"Jangan mau muat iklan yang mengklaim bisa memperbesar alat kelamin pria, karena nggak mungkin. Jadi setelah orang menjadi dewasa dan normal, artinya perkembangan tubuhnya normal, maka tidak mungkin lagi. Kecuali dari kecil dia terhambat perkembangannya terus dia jadi besar nah itu masih mungkin," jelas Prof Wimpie.
Di masyarakat banyak orang yang percaya mitos makin besar penis makin baik, hal ini yang kemudian membuat pria mencari cara untuk mendapatkan alat kelamin lebih besar. Keinginan ini lantas disambut oleh pemasang iklan. Oleh karena itu, hal ini sangat sulit dihilangkan karena ketika ada kebutuhan ada yang menawarkan.
"Nah, nanti ketika sudah banyak korban baru hilang dengan sendirinya. Tapi menunggu ini kan lama. Saya nggak tahu berapa banyak yang jadi korban, susah mau dilakukan penelitian. Yang kita catat kan hanya berapa banyak pria yang datang konsultasi. Penelitiah itu sebenarnya bisa dilakukan tapi susah karena itu harus diperiksa, apakah betul ada kerusakan (di alat kelamin)," tutur Prof Wimpie.
Tak hanya mendalami bidang andrologi dan seksologi, karena memang menyukai hal-hal baru yang belum banyak di pasaran, Prof Wimpie pun membuka pendidikan pasca sarjana Anti-Aging Medicine di Universitas Udayana, Bali, yang merupakan pendidikan pascara sarjana Anti-Aging Medicine pertama di dunia.
Terinspirasi pada dokter yang tidak materialistis
"Waktu kecil saya sakit hepatitis, dokter yang datang itu baik sekali mau datang ke rumah. Artinya dalam keadaan jelas dia bukan dokter yang materialistis, karena waktu itu keluarga saya adalah keluarga yang tidak cukup, tapi dia mau datang. itu yang menginspirasi saya," katanya.
Dokter murah hati dan tidak materialistis itu juga membuat Prof Wimpie sangat ingin menjadi dokter yang benar-benar profesional, tak hanya memikirkan materi dan menjadikan pasien sebagai lahan menjadi uang.
"Jadi dokter itu mungkin bagus, tapi jadi dokter harus betul-betul profesional. Kalau tidak profesional hanya memanfaatkan pasien sebagai lahan. Itu mestinya tidak boleh terjadi. Selalu disarankan jadi dokter yang beretika yang bermoral, artinya ketika dia memberikan pengobatan adalah pengobatan yang betul-betul scientific, ada dasar ilmiahnya dan memang bermanfaat," tutup Prof Wimpie.
BIODATA
Nama lengkap
Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS
Tempat dan tanggal lahir
Bali, 13 Desember (64 tahun)
Pendidikan
S1 Sarjana Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali.
S2 Master Andrologi University of Washington
S3 Doktor Andrologi Universitas Airlangga
Tempat praktik
Pengajar Fakultas Kedokteran Departemen Andrologi dan Seksologi, Anti-Aging Medicine Universitas Udayana, Bali.
Dokter spesialis andrologi dan seksologi di Rumah Sakit Sanglah, Bali.
Organisasi
Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI)
Perhimpunan Dokter Spesialis Andrologi Indonesia
Perhimpunan Kedokteran Anti Penuaan Indonesia (Perkapi)
Indonesian Center for Anti Aging Medicine
(mer/ir)











































