DR Dr Rino Alvani Gani, SpPD, K-GEH, FINASIM merupakan seorang dokter spesialis penyakit dalam yang mengkhususkan diri menangani gangguan pada organ hati atau konsultan gastroenterologi hepatologi.
Sebagai 'dokter hati', tentu saja ia banyak menangani orang yang mengalami sakit hati. Menurut Dr Rino, hepatitis B adalah kasus sakit hati yang paling banyak ditanganinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
penanganannya banyak dilakukan oleh internist," ujar DR Dr Rino A Gani, SpPD, K-GEH, FINASIM, saat berbincang dengan detikHealth seperti ditulis, Selasa (27/12/2011).
Sedangkan penanganan hepatitis B, diakui Dr Rina banyak liku-likunya, sehingga sering harus membutuhkan tindakan dokter.
"Sebenarnya kemampuan kita untuk mengatasi hal itu (kasus hepatitis) sudah cukup baik. Saat ini kita sudah mampu melakukan transplantasi hati," lanjut Dr Rino, Kepala Divisi Hepatologi Penyakit Dalam FKUI RSCM.
Dr Rino mengatakan 80 persen lebih kasus hepatitis tidak bergejala, sehingga individu yang merasa pernah terinfeksi oleh virus hepatitis B dan C tentu harus secara berkala, biasanya 6 bulan atau 1 tahun sekali melakukan pemeriksaan.
Pemeriksaannya cukup mudah, yakni tes SGOT dan SGPT (indikator sensitif dari kerusakan hati).
"Banyak pasien merasa dia tidak merasa apa-apa, ya terus sudah dibiarin saja. Itu salah, karena walaupun tidak merasa apa-apa bukan berarti di livernya nggak kenapa-kenapa. Itu harus diperiksa secara dini," jelas dokter yang juga Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia.
Sedangkan untuk orang yang belum pernah terinfeksi, jika dalam keluarganya ada yang menderita hepatitis B, maka sebaiknya segera memeriksakan diri, entah itu ibunya, bapaknya atau saudaranya.
"Bukan genetik tapi menular dalam keluarga bisa terjadi. Itu untuk hepatitis B, kalau C jarang," tegas ayah 2 anak ini.
Dr Rino menjelaskan bahwa penyakit hepatitis B dan C bisa sembuh tanpa harus jadi sirosis (pengerasan hati). Masalahnya kebanyakan pasien tidak tahu bahwa ia sudah menderita hepatitis B atau C, karena memang kebanyakan tidak bergejala.
Pasien baru tahu ketika hepatitis B atau C sudah terlanjur parah dan menjadi kanker hati.
"Sudah jadi kanker hati baru berobat, ya kita mau ngapain lagi. Yang paling bagus ya sebelum-sebelumnya dideteksi dini," jelas dokter kelahiran 17 Juni 1962 ini.
Selain itu, Dr Rino juga mengatakan orang yang pernah melakukan transfusi darah, orang yang hidupnya agak 'bandel' dengan membuat tato dan menggunakan narkoba suntik, sebaiknya juga memeriksakan diri.
Terlahir di keluarga 'dokter hati'
Menjadi dokter sepertinya sudah ada di dalam darah Dr Rino, karena memang ayahnya adalah seorang dokter dan juga spesialis 'dokter hati'.
"Ayah saya dokter. Sebenarnya orangtua saya tidak terlalu menganjurkan saya untuk jadi dokter, tetapi mungkin karena saya melihat aktvitas dari ayah saya, sehingga saya punya ketertarikan di bidang kedokteran. Kebetulan juga ayah saya itu adalah konsultan di gastroenterologi hepatologi," jelas Dr Rino.
Dr Rino memilih menjadi 'dokter hati' selain karena memang terinspirasi ayahnya, juga memang karena menurutnya masalah-masalah yang berhubungan
dengan liver pada waktu itu belum teratasi dengan baik di seluruh Indonesia.
"Sedangkan secara keilmuan bidang tersebut berkembang dengan sangat pesat, sehingga saya tertarik untuk berkecimpung di bidang liver hati," tutup Dr Rino.
BIODATA
Nama lengkap
DR Dr Rino Alvani Gani, SpPD, K-GEH, FINASIM
Tempat tanggal lahir
Watampone Sulawesi Selatan, 17 Juni 1962
Status
Menikah dengan Dr Nelani Samsudin, SpM, dikarunia 2 orang anak
Pendidikan
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (1987)
Spesialis Penyakit Dalam FKUI (1996)
Konsultan Gastroenterologi Hepatologi (2000)
Doktor Ilmu Penyakit Dalam (2011)
Organisasi
Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia
Ketua Indonesian Hepatology Research Center
Kepala Divisi Hepatologi Penyakit Dalam FKUI RSCM
Ketua Komisi Ahli Hepatitis Kementerian Kesehatan RI
Executive Council Asia Pacific Association for Study of the Liver
(mer/ir)











































