"Saya tertarik menggeluti epilepsi karena ternyata bukan hanya sebatas masalah penyakitnya saja, tapi manifestasi dari penyakit ini bisa bermacam-macam termasuk psikososialnya," ujar Dr Irawati Hawari, SpS saat ditemui detikHealth beberapa waktu silam dan ditulis, Senin (2/1/2012).
Meski beberapa orang memiliki jenis bangkitan epilepsi yang sama, tapi kadang pendekatan untuk penanganannya bisa berbeda tergantung dari banyak faktor lain yang mempengaruhi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sama seperti negara-negara lainnya, di Indonesia prevalensi untuk penyandang epilepsi pada usia anak-anak lebih banyak ketimbang usia dewasa. Namun biasanya akan sedikit naik kembali pada usia lanjut.
"Bagi saya semua kasus epilepsi bisa menarik," ujar Dr Irawati yang juga menjadi Ketua dari Yayasan Epilepsi Indonesia.
Dr Irawati menceritakan kadang pasien epilepsi orang dewasa tidak langsung datang ke dokter saraf tapi justru berkonsultasi ke dokter spesialis kesehatan jiwa (psikiater) karena kadang perilakunya seperti 'orang gila'.
Ada bangkitan epilepsi yang bentuknya berupa perubahan perilaku seperti 'orang gila' atau berperilaku aneh misalnya di tempat umum buka baju sampai telanjang, padahal beberapa saat orang tersebut bisa normal kembali.
"Kebetulan suami saya dokter kesehatan jiwa, jadi kadang ada beberapa pasien epilepsi orang dewasa yang justru berkonsultasi kesana karena dianggap gila. Padahal setelah didiagnosis ternyata itu epilepsi," ujar Dr Ira yang lahir di Jakarta 43 tahun silam.
Hal ini karena banyak masyarakat yang berpendapat serangan atau bangkitan epilepsi berarti harus kejang-kejang dan mengeluarkan air liur, padahal epilepsi tidak selalu kejang, ada yang epilepsinya berupa serangan bengong atau perubahan perilaku.
Selain itu terkadang penyandang epilepsi mendapatkan perlakuan diskriminatif atau dikucilkan, padahal epilepsi bukanlah penyakit menular atau yang memalukan sehingga tidak perlu dikucilkan.
"Harapan saya semoga para penyandang epilepsi bisa mendapatkan penanganan yang optimal, tidak selalu dibayangi oleh stigma negatif sehingga mereka bisa hidup selayaknya orang normal lain dengan kualitas hidup yang baik," ujar dokter yang memiliki 3 orang anak ini.
Jadi dokter karena mengikuti orangtua
Sejak kecil Dr Irawati selalu memiliki cita-cita yang berubah-ubah dan bahkan ia sempat memiliki cita-cita ingin menjadi guru TK. Namun setelah lulus SMA akhirnya Dr Irawati memilih untuk menjadi dokter mengikuti jejak orangtua yang juga menjadi dokter yaitu sang ayah Prof Dr dr H Dadang Hawari.
Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara, ia pun melanjutkan pendidikan spesialis Ilmu Penyakit Saraf dari Fakultas Kedokteran UI pada tahun 2006.
"Saya mengambil spesialis saraf karena menurut saya mempelajari otak manusia seperti tidak ada habisnya, semakin dipelajari maka kita semakin tidak tahu apa-apa," ujar dokter yang kadang suka bermain piano disela-sela waktunya.
Lebih lanjut Dr Ira menuturkan kondisi tersebut memicunya untuk terus belajar sehingga diharapkan nantinya ia tidak menjadi orang yang sombong.
BIODATA
Nama lengkap
Dr Irawati Hawari, SpS
Tempat tanggal lahir
Jakarta, 3 desember 1968
Status
Menikah dengan dr Asmarahadi, SpKJ dan dikaruniai anak 3 orang
Pendidikan
Pendidikan dokter umum dari Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, ujian negara di FK Universitas Indonesia (tahun 1996)
Pendidikan spesialis Ilmu Penyakit Saraf (neurologi) di Fakultas Kedokteran UI (tahun 2006)
Organisasi
Anggota Perdossi (Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia)
Anggota IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Jakarta selatan
Ketua umum Yayasan Epilepsi Indonesia
Tempat praktek
RS Permata CIbubur, Jl Alternatif Cibubur-Cileungsi no. 6 A, hari Senin, Selasa, Kamis jam 09.00 - 13.00 (telp 021 8458806).
RS Zahirah, Jl Sirsak no. 21, Jagakarsa, hari Rabu & Jum'at jam 08.30 - 10.30 (telp 021 78888723).
Perum Tebet Mas Indah blok E no. 5 (Jl Tebet Barat I), praktek dengan perjanjian.
(ver/up)











































