Dr Chaidir Mochtar yang Piawai Tangani Cangkok Ginjal

Doctor\'s Life

Dr Chaidir Mochtar yang Piawai Tangani Cangkok Ginjal

- detikHealth
Senin, 16 Jan 2012 10:23 WIB
Dr Chaidir Mochtar yang Piawai Tangani Cangkok Ginjal
Dr Chaidir (dok. detikHealth)
Jakarta - Cangkok atau transplantasi ginjal dibutuhkan bagi pasien gagal ginjal yang tak ingin menjalani cuci darah (hemodialisis) seumur hidup. Jika Anda ingin cangkok ginjal pakai alat canggih laparoskopi, Dr Chaidir A Mochtar, SpU, PhD adalah ahlinya.

Dr Chaidir A Mochtar, SpU, PhD, adalah spesialis urologi dari RSCM yang sudah banyak terlibat dalam menangani kasus bedah urologi. Namun sejak November 2011, ia mulai aktif membantu tim transplantasi ginjal RSCM dengan menggunakan alat canggih laparoskopi.

"Saya dulu waktu pendidikan pernah ikut (menangani transplantasi ginjal) tapi saya tidak tertarik karena dulu saya pikir sudah banyak teman saya yang terlibat. Saya lebih banyak di RSCM sini mengerjakan tumor dan kanker-kanker urologi. Angkat prostat, ginjal, angkat kantung kemih, kanker di bagian urologi," ujar Dr Chaidir A Mochtar, SpU, PhD, spesialis urologi dari RSCM saat berbincang dengan detikHealth, seperti ditulis Senin (16/1/2012).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dr Chaidir menuturkan sebelumnya ia tidak terlalu banyak terlibat dalam transplantasi. Sampai akhirnya ia mempelajari laparoskopi di Belanda dan mengembangkan di RSCM.

"Dan memang tuntutan zaman, teman-teman berharap kita harus mengembangkan laparoscopy living donor disini. Karena memang sudah banyak, ada sekitar 200-300 center di dunia yang mengembangkan laparoskopi. Di Indonesia belum ada yang melakukan itu. Dan karena saya sudah berpengalaman dengan laparoskopi di urologi, saya diminta untuk bantu tim transplantasi ginjal," lanjut dokter yang menyelesaikan pendidikan doktor di University of Amsterdam.

Transplantasi (cangkok) ginjal adalah terapi penggantian ginjal yang melibatkan pencangkokan ginjal dari orang hidup atau mati kepada orang yang membutuhkan. Tindakan ini telah dilakukan di RSCM sejak tahun 1977, yang seluruhnya dilakukan operasi terbuka.

Namun sejak awal November 2011, operasi transplantasi ginjal di RSCM saat ini sudah mengikuti perkembangan yang sesuai dengan standar internasional, karena saat ini mulai dikembangkan teknik pengangkatan ginjal dengan menggunakan laparoskopi.

Sejak awal November 2011, sudah ada 6 transplantasi ginjal telah dilakukan di RSCM dan pengambilan ginjal donornya dilakukan dengan cara laparoskopik.

"Saya terlibat dalam transplantasi langsung menangani laparoskopi. Dari 6 pasien laparoskopi transplantasi ginjal, saya semua terlibat dan dibantu dokter-dokter lain," ujar Dr Chaidir.

Laparoskopi adalah suatu teknik operasi yang menggunakan alat-alat berdiameter 5 hingga 12 mm untuk menggantikan tangan dokter bedah melakukan prosedur bedah dlam rongga perut.

Untuk melihat organ ginjal tersebut digunakan kamera yang juga berukuran mini, dengan terlebih dahulu dimasukkan gas untuk membuat ruangan di rongga perut lebih luas. Dokter bedah melakukan pembedahan dengan melihat layar monitor dan mengoperasikan alat-alat tersebut dengan kedua tangannya.

"Dengan laparoskopi, dokter tidak perlu membuat lubang besar di perut pasien seperti saat operasi caesar, cukup beberapa lubang kecil untuk memasukkan alat," jelas Dr Chaidir.

Ada beberapa keuntungan melakukan transplantasi ginjal dengan laparoskopi, yaitu:

  1. Nyeri pasca operasi lebih ringan karena tidak perlu memotong otot
  2. Jumlah darah yang hilang saat proses operasi lebih sedikit
  3. Lama masa perawatan di RS lebih singkat
  4. Masa penyembuhan lebih cepat
  5. Pasien dapat kembali beraktivitas sehari-hari lebih cepat

"Selama tahun 2011, kita sudah menangani 13 transplantasi ginjal dan 6 diantaranya sudah dengan laparoskopi. Laparoskopi baru dimulai sejak awal November kemarin, artinya dalam 2 bulan saja kita sudah bisa melakukan transplantasi lebih banyak dan meningkatkan jumlah pendonor," lanjur Dr Chaidir.

Ingin jadi dokter karena kakek juga dokter

"Saya jadi dokter karena pengaruh keluarga, kakek saya dokter dari dua belah pihak dokter. Bukan itu saja, dulu niat menjadi dokter masih dianggap keren, bahkan sekarang masih juga," papar ayah 3 anak ini.

Selain itu, pengalaman dengan adiknya yang dulu pernah sakit berat kanker darah dan kemudian meninggal di usia remaja juga turut membuat minat Dr Chaidir menjadi dokter yang handal.

"Untuk spesialisasi pada dasarnya saya ingin spesialisasi yang ada tindakan. Saya kurang berbakat jadi ahli penyakit dalam dan saya sebenarnya menyukai bedah, tapi karena bedah itu juga dibagi-bagi, saya menganggap paling cocok di urologi," jelas Dr Chaidir.


BIODATA

Nama lengkap
Dr Chaidir A Mochtar, SpU, PhD

Tempat, tanggal lahir
Penang, 28 Agustus 1960

Status
Menikah dengan Reziana dikaruniai 3 orang anak

Riwayat pendidikan
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (1987)
Spesialisasi Urologi FKUI (1998)
Doktor University of Amsterdam (2006)

Organisasi
President Elect Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI)
President Persatuan Kontinensia Indonesia (PERKINA)




(mer/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads