Vasektomi merupakan ilmu non kurikulum yang belum tentu dikuasai semua dokter. Dr Alfreth Langitan, SpB adalah salah satu orang yang sangat handal menangani vasektomi.
Ia pun tak segan-segan mengajarkan ilmunya kepada dokter-dokter di kabupaten Sulawesi Tengah dan provinsi lain di Sulawesi untuk juga bisa melakukan vasektomi. Karena itulah ia dianggap sebagai pionir vasektomi di Sulawesi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Khusus di Sulawesi Tengah, kita mulai VTP (vasektomi tanpa pisau) sejak tahun 2007 di Sabang kabupaten Donggala. Setelah itu segala macam kendala kita hadapi, mulai dari demografi, infrastruktur, kondisi jalan kepulauan juga waktu. Target di tahun pertama kita 150 orang, tapi realitanya lebih dari 200 hampir 300 orang untuk MOP (medis operasi pria)," ujar Dr Alfreth Langitan, Sp.B, saat berbincang usai operasi vasektomi, Morowali, Kamis (19/1/2012).
Selain melakukan operasi vasektomi, Dr Alfreth juga memberikan training kepada dokter-dokter di kabupaten, dengan cara melibatkan mereka pada operasi yang ia lakukan.
Hal ini diharapkan agar dokter-dokter daerah pun nantinya sudah bisa melakukan vasektomi sendiri di rumah sakit kabupaten, sehingga pasien tidak perlu jauh-jauh harus ke ibukota provinsi untuk melakukan vasektomi.
"Pengalaman saya di Sulawesi Tengah, untuk berhasil kita malah mulai vasektomi pertama di Sabang pada kepala desa. Jadi kepala desa jadi pasien pertama, sehingga memotivasi pria-pria lainnya," lanjut dokter yang lulusan FK Universitas Hasanuddin, Makassar.
Tak hanya kepala desa, menurut Dr Alfreth camat, sekretaris camat di kabupaten Buol juga pernah divasektomi.
"Ini hal yang sangat positif karena orang yang status pendidikan lebih tinggi bisa jadi motivator. Cara-cara seperti ini yang lebih jitu," jelas Dr Alfreth.
Memilih Jadi Dokter Karena Ingin Menolong Orang Banyak
"Waktu zaman SMA karena gelora masa muda saya pernah ingin jadi tentara, lalu saya tanya mendiang bapak, dia bilang kalau jadi tentara nanti bisa mati di medan perang. Akhirnya saya nggak mau jadi tentara. Lalu waktu kelas 3 SMA saya tanya bagaimana kalau jadi dokter, ayah bilang itu sangat bagus karena bisa menolong banyak orang. Nah saat itu saya berpikir saya harus jadi perawat atau dokter," kenang Dr Alfreth.
Saat mendaftar di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar, ia sengaja tak memberitahu orangtuanya. Dokter kelahiran Poso ini baru memberitahu orangtuanya setelah mendapat kiriman telegram yang menyatakan ia lulus ujian masuk FK Universitas Hasanuddin.
"Mendiang bapak saya selalu berpesan bahwa menolong orang lain adalah pekerjaan yang mulia. Itu yang selalu saya ingat. Yang paling terasa adalah saat menolong bapak saya sendiri, bapak saya harus operasi batu empedu. Sejak itu saya bercita-cita jadi dokter bedah," jelas ayah 2 anak ini.
Dr Alfreth juga dikenal sebagai dokter spesialis daerah konflik. Ia sering menjadi dokter relawan yang bertugas di daerah rawan kerusuhan dan krisis.
"Saya sering bolak-balik ke Maluku Utara, crissis center di Makassar, tim kesehatan TNI Polri. Semua daerah konflik saya kunjungi, kecuali Poso. Karena KTP saya kan Poso, nanti malah terjadi hal-hal lain," jelas Dr Alfreth.
Dr Alfreth mengaku keluarganya sudah mengerti dengan kegiatannya dan aktivitasnya yang sering pergi-pergi dan meninggalkan keluarga.
"Siapa lagi yang bisa tolong saudara-saudara disana kalau bukan kita," tutup Dr Alfreth.
BIODATA
Nama lengkap
Dr Alfreth Langitan, Sp.B
Tempat, tanggal lahir
Poso, 12 Februari 1962
Status
Menikah dengan Yodarsy Pappan, Amd dikarunia dengan 2 orang anak.
Pendidikan
Pendidikan Dokter FK Universitas Hasanuddin, Makassar (1987)
Dokter Spesialis FK Unhas (2000)
Organisasi
IDI Sulteng
Persatuan Ahli Bedah Indonesia (PABI)
PKMI
Tempat praktik
RSUD Undata Palu











































