dr Christina Widaningrum yang Terus Berjuang Demi Orang Kusta

Doctor\'s Life

dr Christina Widaningrum yang Terus Berjuang Demi Orang Kusta

- detikHealth
Senin, 30 Jan 2012 11:03 WIB
dr Christina Widaningrum yang Terus Berjuang Demi Orang Kusta
dr Christina (dok. detikhealth)
Jakarta - Mendengar ada orang kusta yang dikucilkan, rasanya sangat menyedihkan bagi dr Christina Widaningrum, MKes. Selain karena bertugas mengurusi kusta di Kementerian Kesehatan, sejak 1987 dr Christina memang sering menangani orang kusta di lapangan.

Sebelum ditugaskan di Kementerian Kesehatan sebagai Kasubdit Pengendalian Lepra dan Frambosia, dr Christina pernah mengurusi Leprosaria atau tempat penampungan kusta di Maluku. Bukan hanya satu atau dua tahun, ia berkarya di tempat itu sejak 1987 hingga 1999.

"Sekitar 12 tahun saya di Puskesmas, di Maluku. Itu leprosaria, jadi ya mengurusi kusta juga. Makanya di sini saya mengurusi kusta, dari tahun 1999 tidak pindah-pindah," kata dokter kelahiran Purwokerto, 24 Juli 1960 ini kepada detikHealth, seperti ditulis Senin (30/1/2012).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama belasan tahun mengurusi kusta, salah satu hal yang paling berkesan bagi dr Christina adalah nasib para penderitanya. Meski saat ini kusta sudah bisa diobati dengan mudah, masih ada saja mayarakat yang mengucilkan penderitanya karena dianggap penyakit kutukan.

Lebih menyedihkan lagi ketika ada sebagian masyarakat yang menganggap kusta sebagai penyakit keturunan. Akibatnya meski hanya satu orang yang kena kusta, satu keluarga bisa terkena dampaknya yakni sama-sama dikucilkan bahkan diusir dari desa.

"Kemarin waktu ke Bengkulu Selatan, ada penderita yang diungsikan dan dibuatkan rumah kecil di tepi sawah. Tidak boleh pulang ke kampungnya. Ternyata bapaknya dulu juga sakit kusta. Waktu meninggal, diseret dari kampungnya dan ditaruh di belakang rumah kecil itu tadi," tutur dr Christina.

Melihat kondisi seperti itu, dr Christina mengaku tidak bisa tinggal diam. Ketika itu ia langsung meminta warga dikumpulkan, lalu diberi pengarahan bahwa kusta bisa disembuhkan dan bukan penyakit keturunan sehingga penderita maupun keluarganya tidak perlu dikucilkan.

Tidak hanya terjadi di Bengkulu Selatan, perilaku diskriminatif dari masyarakat terhadap para penderita atau mantan penderita kusta masih banyak ditemui di mana-mana. Dampaknya antara lain para penderita jadi susah mencari pekerjaan, sehingga hidupnya menjadi kurang produktif.

Akan terus berjuang demi orang kusta

Meski sudah belasan tahun mengurusi kusta, dr Christina sepertinya tidak pernah merasa bosan. Buktinya ia sendiri hampir lupa sejak kapan mengurusi penyakit kuno yang bahkan sudah sering disebut-sebut di dalam kitab suci itu, karena memang tidak merasakan pekerjaannya itu sebagai beban.

Bahkan demi memperjuangkan nasib para penderita, dr Christina dengan penuh semangat mengatakan akan terus berjuang baik dengan pengobatan maupun melalui penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat. Kalaupun kusta belum bisa dihilangkan sampai tuntas, ia berharap nantinya tidak ada lagi yang mengucilkan penderitanya.

"Nggak boleh, nggak boleh itu. Saya akan berjuang keras agar mereka tidak lagi mendapatkan stigma negatif di masyarakat. Kalau masih ada orang kusta dikucilkan maka akan saya datangi, saya kasih penyuluhan," pungkas dr Christina dengan penuh semangat.


BIODATA

Nama:
dr Christina Widaningrum Mkes

Tempat dan tanggal lahir:
Purwokerto, 24 juli 1960

Pendidikan:
Magister Kesehatan Masyarakat (Mkes) Universitas Indonesia
Fakultas Kedokteran Universitas Hassanudin Makassar

Riwayat pekerjaan:
Dokter puskesmas di Maluku (1987-1999)
Kasubdit Pengendalian Lepra dan Frambosia, Kementerian Kesehatan (1999 - sekarang)


(up/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads