Dr Aru Sudoyo dan Risiko Jadi Dokter Penyakit yang Mematikan

Dr Aru Sudoyo dan Risiko Jadi Dokter Penyakit yang Mematikan

Merry Wahyuningsih - detikHealth
Senin, 19 Mar 2012 09:47 WIB
Dr Aru Sudoyo dan Risiko Jadi Dokter Penyakit yang Mematikan
Dr Aru Sudoyo (dok. detikHealth)
Jakarta - Menjadi seorang dokter onkologi alias dokter kanker, membuat DR Dr Aru Sudoyo, SppD, K-HOM, FINASIM, FACP sering menghadapi kematian pada pasiennya. Tak jarang ini pun membuatnya benar-benar berduka bersama keluarga pasien.

Kanker merupakan penyakit yang serius dan mematikan. Tak heran bila banyak penderita kanker akhirnya harus meninggal dunia meski sudah melakukan pengobatan secara bertahun-tahun.

"Dukanya karena kami selalu berhubungan dengan kematian lebih dari bidang-bidang yang lain. Kadang-kadang pasien datang kami sudah bisa perkirakan usianya tinggal sekian dan kami tetap bertanggungjawab untuk membantu menolong kualitas hidup mereka sebaik mungkin," jelas DR Dr Aru Sudoyo, SppD, K-HOM, FINASIM, FACP, Ketua Umum PB PAPDI, saat berbincang dengan detikHealth, seperti ditulis Senin (19/3/2012).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena sering menangani pasien kanker stadium lanjut, Dr Aru pun sering mendapatkan tudingan bahwa pasiennya selalu meninggal dunia. Namun menurutnya, itulah risiko bila menjadi seorang dokter onkologi, dokter penyakit kanker yang mematikan.

"Kami seringkali benar-benar berduka bersama keluarga, karena pertarungan dan perlawanan melawan kanker itu bertahun-tahun harus diakhiri dengan kematian," ujar Dr Aru.

Namun bila kanker dapat dideteksi pada stadium awal, tentu saja akan sangat membahagiakan bagi Dr Aru karena peluang kesembuhan pasien lebih besar. Ia merasa senang bila masih bisa bertemu dengan mantan pasiennya 5 sampai 10 tahun kemudian.

"Sukanya juga karena ilmu darah maupun kanker adalah ilmu yang sulit, jadi selalu ada tantangan untuk belajar untuk yang baru-baru. Walaupun orang bilang 'Pasien loe meninggal mulu', ya karena memang pasien kanker, beda dengan sakit maag," tegas Dr Aru.

Menjadi dokter karena menyukai pelajaran biologi

Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini memutuskan menjadi seorang dokter karena memang menyukai ilmu yang berkaitan dengan kehidupan. Ia mengaku sudah menyelami hal-hal yang berhubungan dengan alam kehidupan sejak kecil.

Saat duduk di bangku SMA pun ia mengaku sangat menyukai pelajaran biologi. Sebagai konsekuensinya, ia pun memilih bidang life science,

"Waktu SMA pelajaran biologi yang paling saya suka kemudian ya konsekuensi yang logis adalah apa yang kita sebut dengan life science, yaitu ilmu yang berkaitan dengan kehidupan, seperti dokter hewan, dokter gigi, dokter," jelas dokter yang kini berpraktik di RS Medistra.

Menjadi seorang dokter merupakan keinginan Dr Aru sendiri. Ia mengatakan orangtuanya bukanlah seorang dokter dan tidak ada hubungan apa-apa. Ayahnya seorang diplomat dan ibunya seorang ibu rumah tangga.

"Saya kebetulan waktu itu beruntung mempunyai waktu untuk merenung pas lulus SMA. Dan ini seperti yang selalu saya pesankan pada orang lain generasi di bawah saya, kalau kita merenung dan menentukan di mana kekuatan kita. Kemampuan matematika saya dulu tidak begitu bagus, akhirnya saya ambil dokter untuk di Indonesia. Mungkin kalau di negara lain misalnya Prancis, saya ambil biologi laut," jelasnya.

Mengukur kemampuan juga ia lakukan untuk menentukan jurusan yang akan ia ambil untuk dokter spesialis. Ia merasa kuat di bidang analisis, hafalan dan merunut datang sehingga muncul simpulan. Dan ilmu yang seperti itu ada dua, yaitu spesialis penyakit dalam dan anak.

"Anak? Saya nggak tahan kalau lihat anak cengeng. Akhirnya saya pilih penyakit dalam," tutur suami Dr Herawati Sudoyo, PhD.

Hal ini diputuskannya setelah menjalani tugas daerah yaitu di Pulau Buru, Kepulauan Maluku. Disana, ia dan rekan-rekannya harus bisa melakukan apapun, termasuk operasi dengan peralatan seadanya.

"Saya bersama teman-teman, kami berempat di Pulau Buru itu, kebetulan itu sebuah pulau di mana pasien-pasien saya tidak boleh keluar dari pulau itu karena dijadikan pulau tahanan politik PKI," kenangnya.

Di pulau itu, Dr Aru dan rekan-rekannya disediakan peralatan tapi mereka harus melakukan sendiri. Mereka harus mampu melakukan operasi sendiri, operasi caesar sendiri, potong usus sendiri, bahkan operasi katarak dengan segala keberhasilan dan kegagalannya.

"Karena sebagai dokter umum, kami pakai buku segala. Jadi saya merasa beruntung bisa mengukur dan mengetes kemampuan saya. Itu yang kemudian membuat saya memilih penyakit dalam," tutupnya.


BIODATA

Nama lengkap
DR Dr Aru Sudoyo, SppD, K-HOM, FINASIM, FACP

Tempat dan tanggal lahir
Washington DC, 29 Juni 1951

Status
Menikah dengan Dr Herawati Sudoyo, PhD

Riwayat pendidikan
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Spesialis Penyakit Dalam FKUI
Konsultan Hematologi Onkologi Medik FKUI

Organisasi
Ketua Umum PB PAPDI (Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia)
Anggota Badan Eksekutif Perhimpunan Penyakit Dalam Sedunia
Anggota Pengurus Yayasan Kanker Indonesia (YKI)



(mer/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads