Dr Andri, SpKJ, Mengulik Sisi Lain Pasien dari Gejala Psikosomatis

Doctor's Life

Dr Andri, SpKJ, Mengulik Sisi Lain Pasien dari Gejala Psikosomatis

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Senin, 02 Apr 2012 09:34 WIB
Dr Andri, SpKJ, Mengulik Sisi Lain Pasien dari Gejala Psikosomatis
dr Andri, SpKJ (foto: DetikHealth)
Jakarta -

Sosok dokter yang satu ini nampaknya sudah tidak asing lagi di kalangan pembaca setia media cetak dan online. Sebab, tak hanya gemar meneliti, dr Andri Sp.KJ juga gemar sekali menulis. Terhitung sudah ada ratusan artikelnya yang dimuat di berbagai media online dan cetak. Dr Andri juga sering mengisi acara diskusi di radio dan seminar.

Dr Andri selalu berusaha untuk menyadarkan masyarakat bahwa gangguan atau penyakit fisik berhubungan erat dengan kondisi mental atau kejiwaan. Penyakit tidak hanya berhubungan dengan kondisi fisik, tetapi juga mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kondisi mental, perilaku, perasaan dan pikiran manusia. Lalu, apa yang membuat dokter yang hobi menulis dan nonton ini tertarik dengan penyakit kejiwaan?

"Saya suka ilmu kejiwaan sejak kuliah di Fakultas Kedokteran UI. Waktu itu kebetulan ada kuliah ilmu budaya dasar yang dibawakan oleh dokter psikiatri A. J. Hukom (alm.), Bapak Ahli Hipnoterapi Medis di Indonesia. Beliau ini yang membuat saya tertarik dengan psikiatri," kata dr Andri saat ditemui detikHealth di Fakultas Kedokteran UKRIDA, Sabtu (31/3/2012).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lewat kuliah tersebut, persepsi dr Andri terhadap ilmu kejiwaan berubah. Jika dulunya ia beranggapan bahwa psikiatri hanya menangani orang sakit jiwa, ternyata semua penyakit membutuhkan psikiatri.

Contohnya adalah penyakit kanker, pasien kanker membutuhkan psikiater karena membutuhkan dorongan untuk menjalani pengobatan. Beberapa gangguan akibat kanker juga membutuhkan pendekatan kejiwaan. Pasien kanker sering merasa takut sebelum menjalani operasi dan rentan mengalami depresi. Maka, di sinilah peran psikiater.

"Saya bertekad akan menjadi psikiater yang juga berkecimpung dengan permasalahan medis dan bisa bekerjasama dengan rekan-rekan spesialis lain untuk kasus-kasus gangguan jiwa tertentu. Dan untuk spesialisasinya, saya lebih memilih berfokus pada psikosomatis," kata dr Andri.

Psikosomatis merupakan konsep yang menyatakan bahwa gangguan fisik disebabkan oleh adanya kondisi kejiwaan. Akibatnya, orang mengeluhkan kondisi fisik, tetapi setelah dilakukan pemeriksaan tidak ditemui latar belakang keluhannya secara fisik. Misalnya, pasien mengeluhkan sakit pada jantung, paru-paru atau ototnya, tetapi setelah diperiksa secara objektif ternyata tidak ditemukan kelainan sama sekali. Ternyata, yang jadi pemicu penyakitnya adalah stres dan depresi, tetapi ia tidak menyadari.

Secara umum, sebenarnya semua penyakit adalah psikosomatis. Artinya, setiap penyakit memiliki pendekatan psikosomatis atau sering dikenal sebagai biopsikososial. Setiap penyakit memiliki sisi biologi, psikologi dan sosial. Dr Andri memberikan contoh penyakit stroke. Penderita penyakit stroke rentan mengalami depresi setelah mengalami serangan stroke, dan depresi juga menyebabkan stroke terjadi lagi secara berulang.

"Kasus ini sering dialami dan terjadi juga pada keluarga saya. Om saya mengalami gejala depresi setelah kena stroke sehingga terkena stroke lagi dan akhirnya meninggal saat kena stroke yang kedua. Jadi, kami melihat ganguan jiwa itu sangat erat hubungannya dengan gangguan fisik," kata dr Andri.

Dr Andri berharap konsep psikosomatis atau biopsikososial dapat diterapkan pada kedokteran di masa depan. Sampai saat ini, tidak banyak dokter dan pasien yang menyadari hal ini karena masih berpikir bahwa dokter itu sifatnya fisik karena melakukan pendekatan biomedis saja. Sebagai contoh, ada sebuah kasus menarik yang pernah ditangani dr Andri.

Ada seorang pasien yang sudah 5 tahun mengalami gejala-gejala psikosomatis, keluhanya berpindah-pindah dari jantung, paru-paru dan segala macam. Pasien ini sudah bingung dan sempat pergi keluar negeri. Setelah membaca tulisan-tulisan dr Andri di beberapa media, pasien ini mengira jangan-jangan dirinya mengalami gangguan psikosomatis. Pasien kemudian menemui dr Andri dan kondisinya membaik setelah beberapa tahun menderita gangguan aneh ini.

"Dasar gangguan psikosomatis itu kan depresi dan cemas. Akhirnya pasien tahu kalau sistem otak kacau, maka pikiran, perasaan dan perilaku juga ikut ngaco. Sistem otak kacau karena disebabkan stres, stres itu disebabkan lingkungan dan genetik. Gangguan ini berputar-putar dan kita harus memotong siklus itu," kata dr Andri.

Selama menjalani profesi ini, dr Andri mengaku bahwa tantangannya lagi-lagi adalah anggapan orang yang takut disangka sakit jiwa jika berkonsultai dengan psikiater. Padahal sakit jiwa itu ada banyak, mulai dari insomnia sampai skizofrenia dan demensia. Orang terkadang takut dan ragu bahwa gejalanya disebabkan faktor kejiwaan karena keluhan yang dirasakan bersifat fisik.

Menurut Dr Andri, tantangan ini juga dihadapi oleh dokter-dokter psikiatri lainnya. Maka, sudah sewajarnya jika konsep psikosomatis ini dikenalkan kepada dokter dan masyarakat umum sehingga penanganan terhadap pasien akan lebih menyeluruh.

Untuk menyebarluaskan pemahaman ini, dr Andri juga telah menulis buku berjudul 'Jangan Sebut Aku Gila'. Buku ini merupakan kumpulan artikel dr Andri dari tahun 2006 sampai 2009 yang telah dimuat di koran.

Tak hanya itu, dr Andri juga 'mengkampanyekan' pendekatan pro aktif. Sebab, ada orang-orang tertentu yang rentan terhadap depresi, misalnya pasien kanker. Maka dr Andri akan menemani pasien sejak awal deteksi penyakitnya hingga menjelang dan pasca operasi.

Untungnya, saat ini pasien kanker sudah memiliki banyak teman yang mau membantu dalam terapi kelompok. Secara teknis, teori pendekatan ini dikuasai oleh psikiater, tetapi pelaksanaannya bisa juga dibantu oleh sesama penderita kanker dan orang yang telah selamat dari kanker (survivor).

Biodata:
Nama : dr Dr Andri, SpKJ
Tempat dan Tanggal lahir : Tangerang, 19 Desember 1978
Anak: Dastan Nararya Suryadi dan Dustin Narendra Suryadi (Kembar)

Pendidikan
S1 Fakultas Kedokteran Univesitas Indonesia, lulus tahun 2003
Spesialis Kejiwaan Fakultas Kedokteran Univesitas Indonesia, lulus tahun 2008
Spesialisasi Psikosomatis Medis American Psychosomatic Society 2010 di Amerika Serikat

Organisasi
Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Staf Publikasi di PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia)
Sekretaris Seksi Consultation Liason Psychiatry di PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia)
Ketua Unit Riset di Fakultas Kedokteran UKRIDA
Anggota American Psychosomatic Society (Satu-satunya anggota dari Indonesia)
Anggota Academy of Psychosomatic Medicine

Tempat Praktik dan Mengajar
Klinik Psikosmatis RS Omni Alam Sutra Jakarta
Mengajar Psikiatri di Fakultas Kedokteran UKRIDA

 

 

(pah/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads