Dr Gilbert WS Simanjuntak dan Selembar Brosur dari India

Dr Gilbert WS Simanjuntak dan Selembar Brosur dari India

- detikHealth
Senin, 23 Apr 2012 11:05 WIB
Dr Gilbert WS Simanjuntak dan Selembar Brosur dari India
Dr Gilbert (foto: DetikHealth)
Jakarta - Sempat bimbang dengan pilihannya untuk mengambil spesialisasi karena semula inginnya menjadi dokter bedah saraf. Tapi selembar brosur undangan yang dipungutnya di lantai mengubah jalan hidupnya menjadi dokter mata  sub spesialisasi retina yang piawai.

Menjadi dokter mata sebenarnya bukan minat awal dr Gilbert WS Simanjuntak, Sp.M(K), dokter mata dan bedah retina RS PGI Cikini. Pasalnya, ia lebih tertarik untuk mempelajari bedah saraf. Namun keinginannya itu urung karena mertua tidak merestui dengan pertimbangan masa studi yang lama, yaitu 6 tahun.

"Saya melamar ke bedah saraf dan sudah diterima, tetapi mertua tidak setuju karena sekolahnya lama. Kemudian saya bertemu Prof Mahar Mardjono (alm.). Beliau menganjurkan untuk mengambil spesialisasi mata dibandingkan bedah saraf. Akhirnya saya mengambil spesialisasi mata," kata dr Gilbert kepada detikHealth saat ditemui di Kedai Tempo, Utan Kayu, Jakarta seperti ditulis Senin (23/4/2012).

Setelah mengambil spesialisasi mata, dr Gilbert masih belum menemukan passion-nya dalam menekuni bidang yang dipelajari. Hingga seorang senior menganjurkannya untuk mengambil sub spesialisasi retina. Alasannya karena operasi bedahnya sangat susah dan hanya sedikit orang yang bisa melakukannya. Tapi begitu terjun ke dalamnya, akan banyak menemui kasus-kasus susah yang sampai tidak bisa tidur dibuatnya.

Sayangnya, di Indonesia waktu itu belum ada pelajaran yang mendetail mengenai retina. Jadi dr Gilbert harus menimba ilmu ke luar negeri yang mengkhususkan diri dalam bedah retina, yaitu di LV Prasad Eye Institute, Hyderabad, India. Institut itu merupakan satu-satunya dari 10 institut mata yang dirujuk WHO di luar Amerika Serikat. Tak disangka-sangka, di India inilah dr Gilbert menemukan passion-nya.

"Itupun sebenarnya blessing in disguise. Waktu mereka mengirimkan brosur ke Perdami (Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia), brosurnya dibuang karena dikira tidak penting. Kemudian kebetulan saya baca dan menurut saya institut di India ini hebat, mereka bisa melakukan banyak operasi. Saya kemudian menulis email kepada institut tersebut," kata dr Gilbert.

Menurut dr Gilbert, yang paling menarik di India adalah konsep filantropi, banyak sekali orang yang berderma di sana. Bahkan, orang yang miskin pun masih mau menyumbang kepada orang miskin. Masyarakatnya percaya dengan konsep reinkarnasi, jika kita berbuat baik kepada sesama, maka kita akan dilahirkan kembali dalam wujud yang lebih baik, bahkan bisa setingkat dewa.

"Tempat saya bekerja di sana juga selalu menyisihkan separuh pendapatannya untuk orang-orang miskin, sehingga bisa mengobati 30% pasiennya yang merupakan orang-orang miskin dengan gratis. Padahal itu adalah instansi swasta," kata dr Gilbert.

Ketika ditanya pengalaman yang paling berkesan saat menangani pasien, dr Gilbert mengaku pengalaman itu adalah saat gagal menyembuhkan pasien. Saat berusaha mengoperasi pasien namun pada akhirnya tahu bahwa pasien akan mengalami kebutaan, butuh waktu untuk membuat hatinya tegar kembali. Bahkan pada awalnya dr Gilbert sampai harus bertanya kepada senior yang sering menangani pasien kanker untuk mengenai cara menegarkan hati.

Kasus yang paling sulit ditangai dr Gilbert adalah kasus diabetic retinopati, yaitu kerusakan mata akibat diabetes jangka panjang. Ada banyak fibrosa di retina yang harus dipotong satu-satu di bawah mikroskop dengan ukuran mikron (1/10 milimeter) dan tidak boleh melenceng sedikitpun. Saat menemui kasus semacam ini, dr Gilbert menghabiskan waktu 2 jam mengerjakannya.

Dokter yang hobi membaca dan menulis ini juga ternyata mulai menggemari permainan saham. Menurutnya, orang-orang di negara maju banyak membeli saham untuk berinvestasi, terutama untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Berbeda dengan di Indonesia yang masih membeli tanah atau rumah untuk investasi. Rumah dan tanah memang menguntungkan, tetapi tidak liquid sehingga lebih sulit untuk dijual.

Biodata
Nama : Dr. Gilbert W S Simanjuntak
Istri : Drg. C Monica P Hutabarat
Anak :
1. Golda Asina Miranda Simanjuntak
2. Indira Nadia Rachel Simanjuntak
3. Elizabeth Basana Vallerie Simanjuntak
4. Gabriel Marvin Emilio Simanjuntak

Tempat praktek : Dokter bedah vitreo retinal RS PGI Cikini, Jakarta.

Pendidikan
MBBS (Sarjana Kedokteran dan Sarjana Bedah) Universitas Indonesia, 1989
Spesialisasi Dokter Mata, Universitas Indonesia, 2000
Retinal Fellowship, LV Prasad Eye Institute, Hyderabad, India, 2001-2002

Riwayat Pekerjaan
1990-1993 Kepala Puskesmas Nanga Mau, Kalimantan Barat
1993-1996 kepala Puskesmas Balai Karangan, Kalimantan Barat
2000 Dokter Mata RS Ciptomangunkusumo, Jakarta
Oktober 2002 - sekarang, dosen kedokteran mata fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia
October 2002 - sekarang, dokter bedah vitreo retinal RS PGI Cikini, Jakarta.

Organisasi
Anggota International Ocular Inflammation Society
Anggota IDI (Ikatan Dokter Indonesia)
Anggota Perdami (Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia)
Anggota Retinal Society, Perdami (Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia)
Anggota Indonesian Contact Lens Group, Perdami (Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia)
Anggota American Academy of Ophthalmology
Anggota Euretina Society
Anggota European Vitreo Retinal Society (EVRS).
Anggota International Society Clinical Electrophysiology and Vision (ISCEV)
 
 
(pah/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads