"Setelah selesai WKS (Wajib Kerja Sarjana) saya melanjutkan spesialis mata di FKUI. Entahlah rasanya jatuh cinta saja dalam menangani pasien-pasien mata," ujar dr Amyta saat dihubungi detikHealth dan ditulis Senin (16/7/2012).
dr Amyta menuturkan dalam menangani pasien-pasien mata membutuhkan ketelitian dan juga kesabaran. Diakuinya ia banyak sekali mendapatkan kesan saat menangani pasien-pasien mata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengalaman berkesan lainnya yang pernah dialami dr Amyta adalah saat harus menangani anak usia 3 tahun yang menderita tumor sehingga kedua matanya harus diambil. Meski begitu anak ini tetap tegar dan berprestasi di sekolahnya, salah satu sifat yang patut diteladani dari seorang anak kecil.
"Namun setelah melewati masa 5 tahun bebas tumor, ternyata ia dipanggil menghadap Ilahi karena demam berdarah. Saya pikir memang Allah sayang dengan anak tersebut yang nyatanya dipanggil dalam usia belia," ungkap dokter yang berpraktik di RS Mata AINI, Jakarta.
Meski begitu ibu dari 1 orang putra ini mengungkapkan kadang ada sedihnya juga kalau hasil atau penyakit yang diderita oleh pasien mata ini tidak bisa dibantu atau disembuhkan. Karena itu jika dr Amyta sedang stres maka ia sering melakukan hobinya seperti membaca buku, nonton, jalan-jalan atau memelihara tanaman.
dr Amyta berharap masyarakat bisa mensyukuri anugerah penglihatan yang sudah diberikan oleh Allah dan menjaganya, sehingga kalau memang ada kelainan di mata sebaiknya ditemukan secara dini sebelum banyak kerusakan yang terjadi.
"Memang penglihatan bukan segalanya, tapi tanpa penglihatan, dunia terasa tidak berarti," ujar dr Amyta yang pernah menjadi Direktur Utama RS Mata AINI, Jakarta pada tahun 2007-2009.
Sebenarnya menjadi dokter bukanlah cita-cita awal dari dr Amyta, dulu ia ingin sekali menjadi arsitek karena saat itu rasanya gagah sekali jika bisa menjadi arsitek.
"Tapi lama-lama terpikir kalau jadi dokter kok rasanya beda karena bisa ada nilai lebih dengan membantu dan menolong orang lain. Menjadi dokter semata karena dorongan pribadi dan impian seorang remaja," ungkapnya.
Pendidikan kedokteran pun berhasil ia selesaikan dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia pada tahun 1989. Setelah lulus ia pun mendaftar menjadi dokter inpres (saat itu belum ada PTT). Ia sempat mengunjungi sepupunya yang menjadi dokter di daerah Lebak Banten.
"Saat itu saya berpikir wow lumayan juga tempatnya asyk dan nggak terlalu jauh dari Jakarta. Ternyata setelah saya mendapat tugas di kabupaten tersebut, nyatanya saya mendapat di daerah bagian selatan," ujar dr Amyta.
dr Amyta menceritakan tempatnya punya pemandangan yang cantik, tapi jauh, tidak ada listrik, air sangat susah karena daerah gunung batu, serta penduduk jauh dari Puskesmas. Air bersih merupakan barang mewah, karenanya kalau hujan ia dan perawat-perawat akan mengambil ember untuk menampung air.
"Bagi 'anak kota', hidup tanpa listrik merupakan siksaan tersendiri, karena kalau malam hari pakai lampu templok dan pagi harinya banyak jelaga di hidung dan badan," ungkapnya.
Namun di luar itu hal yang lebih menyedihkannya lagi adalah kalau ada pasien yang datang malam hari, meski akhirnya ia bersyukur karena mampu bisa membeli genset sendiri.
Biodata
Nama:
dr Amyta Miranty, SpM
Tempat Tanggal Lahir:
Jakarta, 3 Oktober 1962
Status:
Menikah dengan Judy Nugroho dan dikaruniai putra bernama Aldo Danindro
Pendidikan:
SMA Negeri 8 Jakarta (1978-1981)
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (1981-1989)
Pendidikan Spesialis Mata, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (1994-1999)
Magister Manajemen Rumah Sakit di FK-UGM (2009-2012)
Pengalaman Kerja:
1990-1993 : Kepala Puskesmas kabupaten Lebak, Banten
2000- sekarang : Staf pengajar tidak tetap Bagian Mata FK-UKI Jakarta
2007-2009 : Direktur Utama RS Mata AINI, Jakarta
Organisasi:
IDI (Ikatan Dokter Indonesia)
Pembinaan Dokter Umum & Paraoftalmologi PERDAMI Pusat (Persatuan Dokter Mata Indonesia)
(ver/ir)











































