Dr Dradjt menuturkan ketika ia sedang menjalani pendidikan untuk mengambil spesialis bedah ada beberapa bagian yang menawarinya untuk bergabung seperti bedah plastik, bedah digestif dan bedah onkologi.
"Bedah onkologi lebih menarik hati saya karena masih banyak misteri dibalik penyakit kanker, sehingga lebih menantang karena setiap saat ditemukan hal baru," ujar Dr Dradjat saat dihubungi detikHealth dan ditulis, Senin (13/8/2012).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dr Dradjat menceritakan pengalaman paling berkesan adalah saat ia melakukan follow up terhadap pasien selama belasan tahun dan ternyata penyakitnya tidak muncul lagi. Terasa puas karena apa yang dikerjakan selam aini mencapai hasil maksimal dan ditujukkan jalan oleh Allah untuk menyembuhkan.
Ada pula pengalaman lainnya yaitu ketika ia bisa menanganai kasus yang sebelumnya pernah ditangani oleh orang lain, tapi penyakit tersebut kambuh lagi dan berhasil ia tangani hingga tidak ada kekambuhan selama 12 tahun.
"Sedangkan duka yang sangat dalam bila ada pasien yang ketika sudah didiagnosa kanker menghilang untuk mencoba alternatif dan kembali lagi dengan stadium lanjut," ungkapnya.
Dr Dradjat mengungkapkan ada pasiennya berpendidikan tinggi yang pernah menjadi dokter kepala puskesmas menghilang untuk mencoba beberapa pengobatan herbal dan alternatif lain, tapi kemudian datang kembali dalam keadaan sudah stadium lanjut.
"Padahal dengan pendidikan dan pengetahuan mereka seharusnya bisa menilai sampai dimana tingkat keberhasilan pengobatan alternatif tersebut," ujar Dr Dradjat yang kini menjabat sebagai Ketua Umum PP Perhimpunan Onkologi Indonesia.
Untuk itu Dr Dradjat menghimbau pemerintah untuk melindungi masyarakat dengan membatasi iklan yang berlebihan dengan menyatakan bisa menyembuhkan kanker tanpa operasi, kemoterapi dan lainnya, sehingga masyarakat tidak terlena dengan janji-janji kosong dan terjerumus ke jalan yang salah.
Tidak dipaksa menjadi dokter, meski berasal dari keluarga dokter
Dr Dradjat memang berasal dari keluarga dokter, sang ayah diketahui adalah guru besar penyakit dalam di Universitas Padjajaran. Bahkan seluruh saudara kandung Dr Dradjat kini telah menjadi dokter.
Kakak pertama perempuan kini telah menjadi guru besar penyakit dalam dan ahli kardiologi, kakak keduanya menjadi dokter spesialis kulit, kakak ketiga meninggal dan adiknya menjadi dokter spesialis anak konsultan infeksi.
"Saya anak keempat dari 5 bersaudara. Tidak ada yang memaksa menjadi dokter, semua terjadi secara alami begitu saja. Saat test masuk perguruan tinggi diterima di Fakultas Kedokteran Gigi dan Fakultas Kedokteran Unpad, akhirnya saya masuk ke FK Unpad," ujar dokter kelahiran Bandung 61 tahun silam.
Menurutnya hal yang tak terlupakan adalah saat ia menjadi dokter di Kecamatan Jebus di bagian utara Pulau Bangka yang mana ada seorang kakek usia 70an tahun mengayuh sepeda sejauh 18 km hanya untuk mengantarkan 2 buah durian sebagai tanda terimakasihnya.
"Saya sangat terharu dengan pengalaman tersebut sehingga menitikkan air mata," ungkap dokter yang senang main golf, fitnes, karaoke atau travelling bersama keluarga dan teman ketika sedang stres.
Saat ini harapan Dr Dradjat adalah riset kanker bisa dilakukan di Indonesia sehingga ada kemungkinan kanker yang berkembang disini memiliki sifat khusus yang berbeda dengan dunia barat.
"Semoga juga minat dari para dokter muda ke bidang onkologi makin banyak sehingga bisa menjadi generasi penerus yang makin besar dan makin kuat," tutupnya.
BIODATA
Nama:
Dr Dradjat Ryanto Suardi, SpB(K)Onk, FICS
Tempat Tanggal Lahir:
Bandung, 11 Februari 1951
Status:
Menikah dengan Irza Zulfatarina SE
Pendidikan:
Pendidikan spesialis bedah di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran tahun 1990
Pendidikan spesialis bedah konsultan onkologi di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran tahun 1994
Oncology Training di Academische Ziekenhuis Groningen, Belanda tahun 1996
Jabatan:
Kepala Pusat Pendidikan Spesialis Bedah Onkologi Bandung
Ketua Tim Penanggulangan Kanker RS Hasan Sadikin/FK Unpad Bandung
Ketua Tim Paliatif RS Hasan Sadikin/FK Unpad Bandung
Organisasi:
Ketua Umum PP Perhimpunan Onkologi Indonesia (2010–2014)
Ketua Umum PP Masyarakat Paliatif Indonesia (2011–2014 )
Member of American Society of Clinical Oncology (Sejak tahun 2000)
Member of European Society of Surgical Oncology (Sejak tahun 1996)
(/)










































