dr Ayu SpBP, Sambung Menyambung Tangan Putus bak Tukang Jahit

Doctor's Life

dr Ayu SpBP, Sambung Menyambung Tangan Putus bak Tukang Jahit

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Senin, 20 Agu 2012 09:10 WIB
dr Ayu Diah Kesuma P, SpBP (dok: pribadi)
Jakarta -

Perempuan hobi menjahit itu biasa, banyak yang mahir membuat kemeja atau sekedar berkreasi dengan kain perca. Namun bagi dr Ayu Diah Kesuma Pravita Sari, SpBP, menjahit pergelangan tangan yang putus lebih menantang daripada kain perca.

Bagi dokter kelahiran Jakarta, 6 Februari 1981 ini jahit menjahit adalah sesuatu yang menantang. Meski tidak punya banyak pengalaman dalam menjahit kain, perempuan yang akrab dipanggil dr Ayu atau dr Ita ini mengaku tertarik mengerjakan hal-hal yang membutuhkan detail dan kesabaran seperti itu.

Sejak belajar di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang, dr Ayu sudah sering melihat seniornya menjahit pasien dengan begitu rapi. Baginya hal itu sangat berkesan, hingga saat mengambil spesialisasi di Universitas Indonesia dirinya memutuskan untuk menekuni spesialis bedah microvascular.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya tertarik bedah microvascular itu karena belum banyak yang mengerjakan. Operasinya biasanya lama, harus sabar dan telaten. Bagi saya itu menantang. Ada kepuasan tersendiri ketika bisa menyambung lagi organ yang putus," kata dr Ayu saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Senin (20/8/2012).

Sejak saat itu, urusan jahit-menahit untuk menyambung saraf dan pembuluh darah dari organ tubuh yang putus jadi pekerjaan sehari-hari dr Ayu. Sangat melelahkan karena operasi semacam itu biasanya makan waktu antara 3-12 jam, tetapi selalu ada kepuasan jika organ yang putus bisa berfungsi kembali.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi dr Ayu adalah menyambung pergelangan tangan seorang sopir sekitar akhir tahun lalu. Pasien itu datang dalam kondisi salah satu pergelangan tangan terputus karena dibacok kawanan perampok saat berusaha untuk membela diri.

Bisa dibayangkan bagaimana masa depan sang sopir kalau harus kehilangan telapak tangan untuk selama-lamanya. Satu-satunya mata pencaharian yang ia miliki sangat mengandalkan tangan yang sempurna untuk memegang kemudi, mengoperasikan tuas persneleng dan sebagainya.

Bagi dr Ayu, pengalaman tersebut adalah salah satu yang paling berkesan karena tingkat kesulitannya cukup tinggi. Selain itu, operasi untuk menjahit saraf dan pembuluh darah berlangsung cukup lama dan melelahkan yakni dari pukul 8 malam sampai pukul 5 keesokan paginya.

"Hampir 9 jam ya kalau nggak salah. Tapi begitu melihat pasien tangannya hidup lagi, bisa gerak lagi, itu sudah rasanya yang worth it lah, memang pantes saya kerjakan," kata dokter yang sehari-hari berpraktik di RS Pusat Pertamina (RSPP) ini.

Setelah operasi tersebut, kondisi sang pasien saat ini sudah jauh membaik. Menurut dr Ayu, sejak diobservasi selama beberapa hari di rumah sakit terakhir kontrol awal tahun lalu, pasien itu bahkan sudah bisa mengendarai mobil milik majikannya kembali.

Prihatin masih banyak operasi kecantikan yang tidak aman

Ketrampilan dr Ayu untuk urusan jahit-menjahit pembuluh darah dan jaringan saraf tidak perlu diragukan lagi. Selain di FKUI, dia pernah mendalami pendidikan dasar bedah microvascular di Singapura dan melakukan kunjungan ke Toronto, Kanada di sebuah rumah sakit yang banyak mengejakan kasus bedah mikro.

Namun seperti dokter bedah plastik pada umumnya, dr Ayu juga mengerjakan banyak hal yang memang masih masuk dalam bidang kerjanya. Operasi pengangkatan tumor yang menyebabkan deffect atau kecacatan cukup serius biasanya juga melibatkan dokter bedah plastik.

Begitu juga dengan operasi bedah plastik yang bersifat estetik atau untuk kecantikan. Terkait yang satu ini, dr Ayu menyimpan keprihatinan mengingat masih banyak orang awam yang menjalani prosedur bedah plastik dengan dokter yang tidak punya lisensi.

"Misalnya suntik silikon, masih banyak dilakukan. Kadang pasien tidak diberitahu silikon cair itu bahaya. Akhirnya hasilnya tidak bagus, baru larinya ke kita yang di bedah plastik. Padahal pasti sudah lebih sulit dibandingkan kalau dari awal dikerjakan dengan benar oleh kita-kita," pungkas dr Ayu.

BIODATA

Nama lengkap:
dr Ayu Diah Kesuma Pravita Sari, SpBP

Nama panggilan:
dr Ayu atau dr Ita

Tempat dan tanggal lahir:
Jakarta, 6 Februari 1981

Status:
Menikah dengan dr R Chandra Selandiawidiasmoro, SpS
Dikaruniai 1 anak, R Raditya Daniswara

Pendidikan:
SMU Tarakanita 1 (1996)
S1 - Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (1999)
Spesialis Bedah Plastik - Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (2006)

Praktik:
RS Pusat Pertamina
RS Islam Pusat Cempaka Putih

Organisasi:
Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik Indonesia (PERAPI)

(up/ir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads