Senin, 03 Sep 2012 09:57 WIB

Doctor's Life

Dr Frits M. Rumintjap, Dokter TNI yang Senang Tugas ke 'Antah Berantah'

- detikHealth
Dr Frits Max Rumintjap (dok: detikHealth)
Jakarta - Apabila kebanyakan dokter bisa berpraktik dengan leluasa di kota tempat tinggalnya, maka dokter yang satu ini rela ditugaskan ke daerah antah berantah.

Tak peduli betapa sulitnya medan, sang dokter harus sigap bertugas ke mana saja.karena selain berprofesi dokter, ia juga adalah seorang perwira.

Selain berpraktik sebagai dokter spesialis kandungan, Kolonel Dr Frits Max Rumintjap, SpOG(K), MARS juga menjabat sebagai Kasubdin Pelayanan Kesehatan Mabes TNI AU. Berbeda dengan dokter pada umumnya, dokter prajurit ini lebih suka berkeliling menjelajah nusantara.

Sebagai seorang prajurit, dr Frits sering diperbantukan ke daerah-daerah yang justru banyak dihindari dokter spesialis, yaitu daerah konflik, bencana serta daerah pelosok dengan sarana prasarana yang minim. Meskipun demikian, ia justru senang dengan ‘profesi ganda’-nya ini.

“Bangga sekali. Saya memiliki kebanggan sebagai prajurit yang juga sebagai dokter, 2 prestasi yang bisa diemban. Ada kepuasan moril, bisa lihat banyak tempat dan bisa berkenalan dengan banyak teman,” tutur dr Frits kepada detikHealth seperti ditulis Senin (3/9/2012).

Awalnya Dr Frits mengaku tertarik menekuni obstetri ginekologi tatkala sedang koas di rumah sakit. Ia melihat beberapa spesialisasi yang ada menurutnya biasa-biasa saja. Tetapi ketika melihat seorang ibu yang kesakitan sendirian masuk ke dalam ruangan kemudian keluar dengan wajah berseri-seri sambil menggendong bayi, batinnya merasa tersentuh.

“Awalnya dari kesakitan dan menangis, setelah dikeluarkan bayinya dan diperlihatkan ke keluarga akhirnya senang. Ada bayi, ada ibu, ada keluarga yang bahagia, itu yang membuat saya terkesan,” tutur dr Frits.

Lulus kedokteran tahun 1986 kemudian masuk wamil setahun berikutnya, dr Frits justru banyak menghabiskan waktunya melanglangbuana. Ia sempat bertugas sebagai dokter umum di Sentani dan Ujung Pandang selama 10 tahun sebelum mengambil kuliah spesialisasi.

Saat ini, frekuensinya dinas ke pelosok justru makin intens seiring makin gencarnya program KB. Dr Frits tergabung dalam tim ahli Pelayanan KB Medis Operasi Wanita/MOW. Metode operasi ini serupa dengan tubektomi atau pemotongan saluran telur wanita, namun dapat dapat dikembalikan seperti semula. Caranya adalah dengan mengikat saluran telur.

Dibantu oleh tim medis dari RSPAU dr. Esnawan Antariksa di Halim Perdanakusumah, dr Frits setia memenuhi permintaan dari BKKBN untuk melakukan operasi di berbagai daerah pelosok Indonesia. BKKBN memang tengah gencar mempromosikan MOW sebagai metode kontrasepsi jangka panjang untuk daerah pelosok yang sulit mendapat layanan KB.

Dengan metode laparoskopi, dr Frits dan tim dapat melakukan operasi MOW hanya dalam waktu 3 menit per pasien. Karena kemampuannya ini, pada tanggal 17 Juli 2010 lalu dr Frits berhasil meraih rekor MURI atas Pelayanan KB Medis Operasi Wanita/MOW dengan akseptor terbanyak, yaitu 404 orang pasien dalam waktu 2 hari.

Meskipun merasa senang dengan pencapaiannya saat ini, bukan berarti dr Frits tidak memiliki ganjalan dalam menjalani profesinya. Kewajiban untuk sering bertugas ke luar kota membuatnya harus meninggalkan keluarga dan pekerjaan profesionalnya yang lain.

Dr Frits memang berpraktik secara mandiri dan berpraktik secara teratur di beberapa rumah sakit di Bogor. Namun dengan adanya perintah untuk bertugas, maka mau tak mau ia harus menutup praktiknya dan merujuk pasien ke rekan sejawatnya.

“Kalau banyak pindah tempat, bagaimana pasiennya bisa dipelihara? Mungkin secara materi berkurang tapi ada kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa dinilai dengan uang. Saya juga sifatnya sudah terbentuk sejak jadi tentara, suka bergerak ke sana kemari, tidak terlalu suka dengan pekerjaan yang statis,” tuturnya.

Pengalaman menjadi dokter militer membuat dr Frits harus menghadapi persolan medis yang mencolok di daerah pelosok. Contohnya ketika di Pulau Rote, NTT, ia pernah bertanya kepada ibu-ibu mengenai penanganan kebidanan di daerahnya. Ternyata jika ada persalinan yang membutuhkan operasi, ibu hamil harus menunggu kapal untuk dibawa ke Kupang. Hal serupa juga ia temui di Bengkayang, perbatasan Kalimantan Barat.

“Kita himbau lah kepada dokter-dokter ObGyn yang baru lulus untuk tidak menumpuk di kota-kota besar. Contohnya di Jakarta saja jumlahnya sampai ribuan, padahal kalau ada satu saja di Pulau Rote bukan main bahagianya masyarakat. Tapi nggak ada yang mau, itulah anehnya. Paling yang mau ya dokter-dokter TNI kayak kita ini,” kata dr Frits.

Biodata

Nama : Kolonel Dr Fritz Max Rumintjap, SpOG(K), MARS

Tempat dan Tanggal Lahir : Makasar, 13 Mei 1960

Istri : Dr Agnes Anastasia, dikarunia 2 orang puteri

Praktik
RSPAU dr. Esnawan Antariksa di Halim Perdanakusumah
RS Ibu dan Anak Sentosa, Bogor
RS Hermina, Bogor

Pendidikan
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin (1979 - 1986)
Spesialis ObGyn Universitas Hasanudin (1996 – 1998)
Konsultan ObGyn Universitas Padjajaran (2008-2010)
Magister Administrasi Rumah Sakit Universitas Respati Indonesia (2010 – 2011)

Organisasi
IDI (Ikatan Dokter Indonesia)
Perdospi (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Penerbangan)
Perkespra (Perhimpunan Kesehatan Penerbangan dan Antariksa Indonesia)
POGI (Perkumpulan Obstetri Ginekologi Indonesia)

Karir
Perwira Kesehatan Skuadron 28 Bogor
Perwira Kesehatan RS Hasanudin Makasar
Dokter Spesialis Kandungan RS TNI AU Iswahyudi Madiun
Kepala RS Lanud Kalijati, Subang
Kepala RS Atang Sanjaya, Bogor
Kasubdin Pelayanan Kesehatan Mabes TNI AU

(pah/ir)