Tidak terlalu mengherankan jika Dr Abidinsyah menyukai jamu-jamuan, sebab di Kementerian Kesehatan dokter berdarah Batak ini menjabat sebagai Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif dan Komplementer. Pelestarian jamu adalah salah satu bidang yang menjadi perhatiannya saat ini.
"Saya paling suka beras kencur. Untuk menambah vitalitas, karena saya kan banyak kerja. Untuk segar tubuh sehari-hari," kata Dr Abidinsyah yang ditemui detikHealth di sela-sela seminar 'Sehat, Cerdas dan Produktif dengan Djamoe' di Gedung Kementerian Kesehatan, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Senin (19/11/2012).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walaupun belum semua jamu memiliki bukti ilmiah dan hanya berdasarkan pengalaman empiris, Dr Abidinsyah meyakini jamu dan berbagai ramuan tradisional sangat perlu untuk dilestarikan. Kalau dipakai selama ratusan tahun, maka cukup masuk akal kalau ramuan tersebut dianggap punya khasiat.
"Sangat logis, dulu orang tidak punya akses ke dokter dan layanan medis. Tidak mungkin manusia bisa bertahan hidup sampai hari ini kalau tidak punya solusi untuk mengatasi masalah kesehatannya. Berarti ada kekuatan lain di luar kedokteran, itu yang harus dicari," jelasnya.
Selain suka minum jamu, Dr Abidinsyah juga menyukai pengobatan tradisional lainnya yakni pijat refleksi. Meski tidak memiliki jadwal yang pasti untuk pijat refleksi, namun ia cukup sering memanfaatkan teknik tersebut untuk mengatasi pegal-pegal dan kelelahan.
"Sesekali kalau nunggu pesawat, oh ada waktu 15 menit. Pijat saja dulu," tambah Dr Abidinsyah.
Bagi Dr Abidinsyah, cara untuk menjaga kesehatan tidak perlu susah-susah. Intinya adalah jangan banyak diam, perbanyak aktivitas sehingga lemak-lemak tidak akan menumpuk lalu menyumbat pembuluh darah.
"Manusia itu diberi kaki dan tangan. Celakalah manusia yang lebih banyak diam karena dia akan punya lebih banyak punya masalah kesehatan. Orang-orang di Himalaya bisa hidup sampai 120 tahun karena banyak bergerak, bukan diam. Sekali diam, datang masalah," pesannya.
BIODATA
Nama:
Dr H Abidinsyah Siregar, DHSM, MKes
Tempat dan tanggal lahir:
Banda Aceh, 25 Mei 1957
Istri:
Ny Haslinda Daulay
Karir:
Dokter Puskesmas Sigalingging di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara
Sekretaris Konsil Kedokteran Indonesia (2005-2008)
Kepala Pusat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI (2008-2010)
Sekretaris Itjen (2010-2011)
Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif dan
Komplementer (2011-sekarang)
Pendidikan:
International Diplome in Health Service Management di Perth Australia
S2 Kebijakan Kesehatan di Universitas Sumatera Utara.
(up/)










































