Tahun 1991, dr Agastjya ditugaskan praktik di Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara. Kala itu puskesmas yang sudah ada sejak 15 tahun silam belum pernah didatangi oleh dokter, karena selama ini hanya diisi oleh orang sanitasi dan pelayanan kesehatan dengan bidan, jadi dr Agastjya adalah dokter pertama di puskesmas itu.
"Di sana masyarakatnya 10 persen yang terdidik, tentunya hanya 10 persen yang memahami dan mengerti kalau sakit harus bagaimana. 90 Persennya masih lebih percaya pada hal-hal yang bersifat magic atau mistik," ujar dr Agastjya saat ditemui detikHealth dan ditulis pada Senin (10/12/2012).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kala itu masyarakat beranggapan segala penyakit dihubungkan dengan hal gaib, seperti dimakan setan atau ditempeleng setan. Kadang orang yang stroke dikatakan sudah ditempeleng setan. Untuk itu dr Agastjya ingin menolong masyarakat agar bisa berobat dengan benar.
Hal pertama yang dilakukan dr Agastjya adalah melakukan pendekatan dari rumah ke rumah, terutama pada masyarakat yang sakit parah dan katakanlah tidak mampu atau tidak mau ke dokter.
"Saya tidak bicarakan uang, kita datangi mereka, kasih obat, suntik, gratislah, nantinya mereka jadi lebih terbuka dengan pendekatan kita," ujar dokter kelahiran Malang 49 tahun silam ini.
Perjuangan ini tidaklah sia-sia, dengan perhatian, kesantunan dan senyum ramah, masyarakat mulai terbuka pikirannya bahwa dokter itu sangat perhatian, mau datang untuk membantu menolong dan merawat serta bukanlah makhluk yang harus dijauhi.
"Saya tidak berpikiran kalau pulang harus bawa sangu (uang), tapi bagaimana saya bisa menjalankan tugas di sana dengan baik dan masyarakat bisa menerima saya. Dan masyarakat sudah bergeser dari pemikiran magic ke rasional ilmiah," ujar dokter yang berpraktik di puskesmas tersebut selama 3 tahun 3 bulan.
Pengalaman yang didapat dr Agastjya memberikannya banyak pelajaran dan mendorongnya untuk memperdalam ilmu penyakit dalam, karena meski sudah lama merdeka tapi ternyata masih ada masyarakat yang percaya dengan hal gaib.
Selain itu salah satu alasan mengapa dr Agastjya ingin menjadi dokter karena ia melihat dulu pelayanan kesehatan masih sangat jauh dari apa yang diharapkan.
"Di sanalah saya melihat pilihan saya untuk menjadi dokter sesuai dengan apa yang saya lihat, jadi bukan karena lingkungan tapi karena saya mengamati," ungkap dr Agastjya yang merupakan anggota Bidang Humas, Publikasi dan Media PAPDI (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia).
Saat ini dr Agastjya berharap bisa memberikan pelayanan merata pada lapisan masyarakat, dan dari masyarakat tumbuh kesadaran untuk berobat lebih dini sehingga tidak datang ke dokter saat sudah stadium lanjut yang tidak bisa diobati lagi.
Biodata
Nama
dr Agasjtya Wisjnu Wardhana, SpPD, FINASIM
TTL
Malang, 3 Februari 1963
Status
Menikah dan dikaruniai 3 orang anak
Pendidikan
Pendidikan Kedokteran dari lulus tahun 1989
Pendidikan Spesialis Penyakit Dalam FKUI lulus tahun 1996
Organisasi
IDI (Ikatan Dokter Indonesia)
PAPDI (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia)
Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia
PUSDI (Perhimpunan Ultrasonografi Kedokteran)
Aktif di olahraga pencak silat
(ver/vit)











































