Secara genetik, orang-orang Asia seperti di Indonesia ini memang memiliki postur tubuh yang terhitung pendek. Maka maklum jika kita sering menemui orang yang bertubuh pendek. Padahal, bisa jadi orang tersebut sebenarnya mengalami pertumbuhan tinggi badan yang kurang optimal
Bagi kebanyakan orang, mungkin permasalahan pertumbuhan tinggi badan ini adalah hal biasa. Tapi lain halnya buat Prof Abdul Razak Thaha. Terhambatnya pertumbuhan tinggi badan atau stunting merupakan pertanda bahwa masyarakat Indonesia kekurangan gizi.
"PR besar kita adalah stunting karena hal itu bukan hanya gambaran kekurangan gizi, tapi juga titik awal dari kelebihan gizi. Kita punya data stunting dari tahun 1989 sampai sekarang nyaris tidak berubah," kata Prof Thaha kepada detikHealth seperti ditulis, Senin (21/1/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Prof Thaha, masalah ini terjadi jauh-jauh hari sebelum seorang anak dilahirkan, yaitu sejak ibunya masih remaja. Gangguan gizi pada remaja putri yang berlanjut saat kehamilan akan menyebabkan bayi terlahir dengan kekurangan asupan nutrisi. Ini adalah penyebab tingginya angka stunting di Indonesia.
"Setelah lahir, anak masih mengalami masalah gizi kurang. Ada juga persoalan dengan ASI eksklusif. Memang persoalannya itu berantai, tapi semuanya bermula dari remaja putri," terang Prof Thaha.
Prof Thaha berpendapat, postur tubuh anak Indonesia yang cenderung pendek bukanlah perkara genetik, melainkan karena status gizinya. Ia memberi contoh tentara Jepang yang sering disebut 'tentara kate' oleh penduduk Indonesia bagian timur. Ketika perang dunia usai, sebagian tentara Jepang tetap tinggal di Amerika.
Beberapa tahun kemudian, ternyata anak-anak keturunan tentara Jepang yang tinggal di Amerika ketika remaja badannya lebih tinggi daripada rata-rata orang Jepang. Jadi, pengaruh gen atau keturunan dalam masalah tinggi badan sebenarnya hanya sedikit sekali.
"Anak saya juga begitu, badannya tinggi, padahal saya dan istri badannya pendek," imbuh Prof Thaha.
Prof Thaha menambahkan jika sejak remaja ibu hamil tercukupi gizinya, maka bayinya akan lahir dengan sehat. Ia memberikan contoh sebuah survei di NTB yang menunjukkan bahwa 50 - 90 persen remaja mengalami anemia. Daerah tersebut merupakan daerah dengan angka stunting tertinggi di Indonesia.
Artinya, remaja Indonesia memang pada dasarnya sudah kurang gizi. Tandanya adalah mengalami anemia. Apabila hal ini dialami ibu hamil, maka bayi yang dilahirkan akan memiliki berat badan rendah. Jika ditambah dengan kebutuhan ASI eksklusif yang tidak terpenuhi, lengkap sudah status kurang gizi anak-anak Indonesia.
Salah satu hal yang membuat prof Thaha menekuni masalah stunting ini adalah banyaknya kasus gizi buruk yang ia temui di lapangan dan puskesmas. Anak yang mengalami stunting jika tidak mendapat makanan cukup akan mengalami gizi buruk.
Anehnya, kalau diberi makan berlebih akan jadi obesitas dan rentan terserang penyakit seperti diabetes, stroke dan penyakit jantung. Jika dihitung-hitung, biaya pengobatan yang harus dikeluarkan akibat penyakit ini bisa sangat mahal. Jadi satu-satunya cara adalah mencegah agar tidak menjadi stunting.
"Pada bulan-bulan tertentu anak yang stunting itu jadi gizi buruk. Pada musim-musim hujan di akhir November air mulai ada, maka mulai muncul akumulasi kuman-kuman penyebab diare. Kalau mereka minum itu, maka mereka kena diare hebat dan kena gizi buruk. Di semua daerah seperti itu, polanya sama," ujar Prof Thaha.
Biodata
Nama : Prof DR dr Abdul Razak Thaha, MSc, SpGK
Pendidikan
Sarjana Ilmu Kedokteran Universitas Hasanuddin (1977)
Master of Applied Nutrition dari SEAMEO Tropical Medicine and Public Health (1986)
Doktor Kesehatan Masyarakat dari Universitas Indonesia (1995)
Karier
Dosen Muda ilmu Genetika Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (1977)
Mendirikan Bagian Gizi di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (1982)
Mendirikan Pusat Studi Gizi dan Pangan (1995)
Kepala Pusat Studi Gizi dan Pangan (1995 - 2004)
Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (2003 - 2006)
Direktur Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (2006 - 2010)
Organisasi
Presiden Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinis Indonesia (2008 - sekarang)
Anggota Kelompok Pakar Dewan Ketahanan Pangan Nasional
Ketua Pokja Kerangka Kuallifikasi Nasional Indonesia bidang Gizi (2010-2012)
Dewan Penasihat Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Dewan Penasihat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)
Dewan Penasihat Perhimpunan dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI)
Dewan Penasihat Asosiasi Institusi Pendidikan Gizi Indonesia (AIPGI)
Dewan Penasihat Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia (AIPTKMI)
Dewan Penasihat Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI)
Dewan Penasihat Ikatan Sarjana Gizi Indonesia (ISAGI)
Anggota SEAPHEIN (South East of Asia Public Health Education Institution Networking)
Anggota APACPH (Asia Pacific Academic Consortium of Public Halth)
Anggota Asia Pacific Clinical Nutrition Association
Wakil Ketua Kolegium Ilmu Gizi Indonesia (2009 - sekarang)
Wakil Badan Pembina Yayasan Koalisi Fortifikasi Indonesia
Ketua Dewan Pakar Pengurus Besar IDI (2012-2015) (pah/)











































