Menjadi dokter atau menjadi notaris. Itulah pekerjaan impian Susie Rendra semasa kecil. Ternyata impiannya terwujud. Bertahun-tahun kemudian gelar dokter mengapit namanya: dr Susie Rendra SpKK. Namun profesi itu tak didapatnya dengan mudah karena terhadang kerusuhan 1998.
Mulanya dr Susie lebih diarahkan orang tuanya menjadi notaris. Pertimbangannya, pekerjaan notaris dinilai tidak terlalu berat secara fisik. Selain itu pekerjaan notaris kala itu masih jarang.
Namun suatu kali Susie mengalami sakit yang cukup berat dan butuh waktu lama untuk sembuh. Karena itulah Susie lebih ingin mendalami profesi dokter. Dia ingin membantu menyembuhkan orang-orang yang sakit. Kuliah kedokteran pun dijalaninya hingga lulus pada 1998.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada tahun 1998 sedang terjadi kerusuhan, saya tidak bisa langsung sekolah spesialis. Orang tua saya menganjurkan untuk menunda PTT," kata dr Susie kepada detikHealthm, dan ditulis pada Senin (25/3/2013).
Akhirnya dr Susie bekerja di sebuah perusahaan selama beberapa tahun. Namun dia tetap menyimpan tekad bulat untuk mengambil spesialisasi.
"Lama-lama mikir kalau dokter tapi kok gak praktik. Tapi harus jadi spesialis dan saya berpikir harus lebih. Saya memutuskan mengambil dokter kulit. Kenapa kulit? Zaman 80-an kulit nggak laku, karena dulu kulit hanya ngurusin borok. Tidak ada yang mau. Kulit hanya sebagai penampakan luar itu salah, tetapi dengan melihat kulit kita bisa merefleksi keadaan dalam tubuh orang itu. Itu yang membuat saya tertarik," tuturnya.
dr Susie tidak berlebihan. Memang dari kulit, kesehatan seseorang bisa terlihat. Misalnya jika ada orang yang punya masalah pencernaan atau ginjal, kulit bisa ikut berbicara.
Sejak menjadi spesialis kulit dan kelami, sudah banyak kasus yang ditangani dokter dengan 2 anak ini. Menurut dr Susie, pasien yang datang kepadanya lebih banyak yang mengeluhkan kondisi kelamin ketimbang kulitnya.
Dokter yang hobi memaca novel ini lantas berbagi kisah tentang pengalamannya menjadi dokter kulit. "Saya masih ingat benar, ada bapak yang datang dan berkonsultasi mengenai tanda di kulitnya. Akhirnya setelah diperiksa lebih lanjut saya menyarankan padanya untuk melakukan tes lebih lanjut karena saya menduga ini HIV," tuturnya.
Setelah diperiksa ternyata benar pria tersebut terinfeksi HIV. Pria yang sebelumnya menduga pun tidak telah terinfeksi HIV itu pun bersyukur. Sebab HIV telah dideteksi sebelum menggerogoti tubuhnya lebih jauh.
"Akhirnya bapak tersebut mendapatkan penanganan yang tepat, jadi masih bisa dikontrol dengan baik. At least kita menemukan pada fase awal, bukan yang sudah akhir. Masih ada harapan hidup dan pengobatannya lebih cepat," sambungnya.
Menurut dr Susie hingga kini pria tersebut masih tetap menjaga relasi dengannya. Inilah salah satu hal yang membuat dr Susie mencintai pekerjaannya: bisa memiliki banyak teman.
dr Susie menyadari benar dokter kulit dan kelamin zaman dulu dan sekarang sangat beda jauh. Sekarang kulit dan kelamin dilibatkan dalam bidang estetika sehingga menjadi lebih populer.
Setelah berlelah-lelah di tempat kerja, dr Susie ternyata masih punya waktu memasak untuk keluarganya. Kedua anak dan suaminya adalah tempat di mana dia bisa mendapatkan dukungan dan melepas lelas.
"Saya tidak pernah memaksa anak saya untuk menjadi dokter. Ingin sih, tapi saya bebaskan pada mereka saja. Talentanya apa dan bakatnya apa lebih baik itu yang dikembangkan," ujar dr Susie.
Biodata:
Nama: dr Susie Rendra, SpKK
TTL: Jakarta, 7 Februari 1973
Riwayat Pendidikan:
1998 Lulus Kedokteran Umum FKUI
2006 Lulus spesialis Kulit dan Kelamin FKUI
Tempat Praktik:
RSPI (Puri Indah dan Pondok Indah)
Erha Clinic Kemanggisan
Blog:
www.dokterkulitku.blogspot.com
(/)











































