Senin, 22 Apr 2013 11:02 WIB

Doctor's Life

dr Michael Triangto, Dokter Ramah yang Dekat dengan Pasien Obesitas

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Menjadi dokter tidaklah mudah bagi Michael Triangto. Spesialis dokter kesehatan olahraga ini selalu saja mendapatkan pasien yang 'ngeyel' dalam menjaga kesehatan. Ternyata inilah yang dulu menginspirasinya untuk menjadi seorang dokter kesehatan olahraga yang dekat dengan pasien obesitas.

Dokter yang ramah ini selalu mengunakan pendekatan pribadi serta analogi saat memberika penjelasan pada pasien. "Saya tidak akan bilang ibu kadar lemaknya sekian kilogram, saya akan bilang setara dengan 1 karung beras, nanti ibunya mikir sendiri deh," tuturnya. Hal ini diungkapkannya pada detikhealth dalam bincang sehat mengenai isu hidrasi dan minuman yang mengandung nutrisi yang baik untuk merehidrasi di Din Tai Fung Resto, lantai 3 Plaza Indonesia, Jl MH Thamrin, Jakarta dan ditulis pada Senin (22/4/2013)

Salah satu pengalaman unik dr Michael adalah ketika pasien yang pernah ditanganinya sejak usia remaja menjadi peminum minuman beralkohol. "Saat itu saya sedang dites sepertinya, bapak ini bercerita dan bertanya pada saya, 'Dok boleh nggak saya minum minuman keras?' Wah, saya pikir ini pasti saya lagi dites sebagai dokter," terangnya.

Untungnya, dr Michael tidak gegabah. Dia mulai dengan mengajak pasiennya bercerita. Ternyata pasien ini mengeluh jadi cepat emosi dan marah-marah serta tak bisa tidur jika tidak minum 1 mug minuman beralkohol.

"Akhirnya, saya suruh minum terus. Dia kaget. Begini, kalau orang tubuhnya sudah terbiasa seperti itu justru salah jika diberhentikan. Tetapi, saya bilang ganti ukurannya jadi 1 sloki saja ini untuk kesehatannya," ujar dr Michael.

Selain itu, dokter yang juga penulis buku ini sangat peduli terhadap orang-orang yang mengalami obesitas.

"Saya tidak pernah gemuk, malah saya terlalu kurus dulu. Awalnya karena saya membayangkan orang lain yang punya berat badan berlebih memiliki banyak keterbatasan dibandingkan orang lain seperti sesak, ketiak gatal, paha merah karena terlalu gemuk. Kasihan, ini awalnya yang membuat saya memilih spesialisasi saya sekarang," ujar dr Michael.

Ia memberikan gambaran seperti pada pasien dengan berat badan 178 kilogram yang ditanganinya, "Itu timbangan saya sudah tidak bisa mengukur, akhirnya pakai timbangan untuk pengiriman paket, dan dia masih berumur 26 tahun. Kasihan kan? Bagaimana dia mau berkompetisi di luar sana, jangankan berkompetisi jalan saja susah, dan pasti mengalami kesulitan ketika melamar pekerjaan. Oleh sebab itu harus dibantu," cerita dr Michael.

Inilah salah satu bentuk kepeduliannya terhadap obesitas. Ia mengungkapkan belum banyak orang yang mau peduli untuk menaungi orang-orang yang demikian. Melalui sport therapy yang ia berikan, diharapkan masyarakat yang mengalami obesitas dapat menurunkan berat badan dengan cara yang sehat. Sebab, menurutnya cara instan hanya bertahan sementara saja atau justru menimbulkan dampak lain yang tidak baik.

"Terapi ini saya sesuaikan dengan kebutuhan pasien, tidak ada obat sama sekali kecuali seperti kasus yang ekstrim harus dibantu obat," katanya. dr Michael mengatakan cara instan baik by pass, potong usus, dan cara lainnya memang dapat menurunkan berat badan tetapi bersifat temporer.

Dr Michael pun bercerita kembali mengenai kondisi pasiennya yang lain lagi. Pasien ini telah memendekkan lambungnya, tetapi justru menjadi gemuk lagi. "Hal ini disebabkan pencernaannya tidak dapat menerima makanan padat, tersiksa sekali keluhnya, akhirnya es krim menjadi pilihan, ya sama saja jadinya," kata dokter dengan tinggi badan 180 dan berat 72 kilogram ini.

Menurut dr Michael yang perlu diperkuat itu motivasinya. "Mau bagaimana pun dietnya untuk langsing kalau motivasinya tidak kuat akan sia-sia," tegasnya. Inilah yang menjadi fokus untuk dr Michael, bagaimana masyarakat punya bentuk tubuh yang lebih baik tetapi dengan cara yang sehat.

Kembali bercerita mengenai kelebihan berat badan, jika ada pasien yang datang bersama orang tuanya biasanya dr Michael akan menyarankan agar orangtuanya ikut ber-diet. "Karena apa yang disajikan di meja makan pasti dimakan bersama kan? Jadi, agar anaknya terbantu, orang tuanya juga harus bekerja sama," katanya.

Sehari-hari dr Michael hanya akan memberikan resep latihan, bukan resep obat. Uniknya di dalam resep ini semua berubah menjadi program latihan. Resep latihan sama dengan resep obat, dosis merupakan intensitas latihan, waktu minum obat (2x1 hari) = frekuensi latihan, sedangkan durasi adalah periode obat seperti periode antibiotik yang harus habis dalam periode tertentu.

"Ukuran berhasil atau tidaknya program yang diberikan bukan dari turun berat badannya tapi dari ukuran lingkar badannya," kata dokter yang selalu terjun langsung untuk melihat perkembangan pasiennya itu.

Biodata

Nama lengkap: dr Michael Triangto, Sp.KO

Status pernikahan: Menikah dengan dr Meidy H. Triangto, SpRM

Tempat tanggal lahir: Jakarta, 28 oktober 1959

Praktik: Rs Mitra Kemayoran
Mall Taman Anggrek Lt.1

Riwayat Pendidikan:

1991 - 1996: Spesialis Kedokteran Olahraga di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

1979-1987: Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta.




(vit/vit)
News Feed