Senin, 24 Jun 2013 16:05 WIB

Doctor's Life

dr Teguh Haryo Sasongko dan Terbatasnya Ahli Genetika di Indonesia

- detikHealth
dr Teguh dan keluarga (Dok. Pribadi) dr Teguh dan keluarga (Dok. Pribadi)
Jakarta - Bidang kedokteran genetika mungkin belum awam di Indonesia. Meski jumlah sarjananya cukup banyak, aplikasi ilmu tersebut masih sangat terbatas di negara ini. Namun hal itu tak menghalangi dr Teguh Haryo Sasongko untuk mendalami bidang genetika.

"Ketika orang bertanya, apa bidang keahlian saya, biasanya saya menjawab 'genetika'. Ternyata banyak yang tidak paham dengan istilah ini. Baru ketika saya memberi beberapa kata kunci seperti DNA, gen, dan seterusnya, barulah dapat lebih dipahami," jelas dr. Teguh Haryo Sasongko, PhD, Ahli Genetika Molekuler dari Human Genome Center, School of Medical Sciences, Universiti Sains Malaysia, kepada detikHealth, seperti ditulis pada Senin (24/6/2013).

dr Teguh mengatakan ahli genetika di Indonesia 'terlihat' masih sangat jarang. Statement ini perlu diberi penjelasan tambahan. Menurutnya, jumlah sarjana dalam bidang ini sebenarnya cukup banyak, terutama yang ia tahu di Indonesia. Namun demikian, kesempatan bagi mereka untuk mengaplikasikan ilmunya betul-betul sangat terbatas.

Keterbatasan ini disebabkan karena minimnya kesadaran akan pentingnya ilmu genetika dan juga karena terbatasnya sarana dan prasarana yang dapat menunjang aktivitas mereka. Sarana dan prasarana dalam bidang ini maju dengan sangat cepatnya dan umumnya melibatkan investasi yang sangat tinggi.

"Ini sebenarnya disayangkan. Saat ini tren kemajuan ilmu kedokteran dan ilmu biologi manusia secara umum sangat ditentukan oleh pemahaman dan penelitian atas materi genetika manusia, yaitu DNA dan kawan-kawannya. Praktis semua penyakit dan kondisi manusia dikaitkan dengan DNA. Jika ini diabaikan, dunia kedokteran Indonesia akan sangat tertinggal," lanjut pria kelahiran Balikpapan, 10 Oktober 1977 ini.

Tertinggalnya bukan hanya dalam arti tertinggal ilmunya dibandingkan negara-negara lain, tapi juga tertinggal dalam arti tidak mampu melakukan eksplorasi penelitian yang cukup baik terhadap potensi sumber daya genetika Indonesia.

"Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan begitu banyak penyakit tropis dan non-tropis yang terjadi. Saat ini praktis dalam penelitian-penelitian genetika, Indonesia tidak dapat bergerak tanpa bantuan peneliti-peneliti asing, terutama dalam soal pendanaan dan saran prasarana penelitian. Padahal dalam soal kepakaran, Indonesia tidaklah kalah dengan negara-negara lain," jelas dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

Menjadi seorang ahli genetika sebenarnya bukanlah cita-cita dr Teguh. Ketika masa-masa mendekati kelulusan menjadi dokter tahun 2003, ayah dua anak ini sebenarnya lebih tertarik menjadi spesialis bedah. Ia merasa tertarik dengan berbagai tindakan-tindakan bedah untuk menyelamatkan pasien.

Namun dr Teguh mengurungkan niatnya. Mengambil spesialis bedah artinya ia harus terus bergantung kepada orang tua setidaknya selama 5-6 tahun. Selama mengambil spesialis, tentu tidak ada pendapatan dan justru perlu membayar uang kuliah. Situasi ini ia anggapnya berbeda dari situasi yang seharusnya, di mana seorang mahasiswa pengambil spesialisasi adalah para profesional yang bekerja. Kondisi inilah yang kemudian membuatnya mengurungkan niat mengambil spesialisasi.

"Kalau saya masih belum berkeluarga, mungkin lain urusannya. Tapi waktu itu saya berencana untuk segera menikah. Ada juga perasaan gengsi terhadap calon istri saya jika selama menikah masih terus dibiayai orang tua," kenang dr Teguh.

Walaupun begitu, ia tetap berkeinginan untuk melanjutkan sekolah lagi dengan mencari beasiswa di luar negeri. Saat itu ia mengajukan dua beasiswa dengan jurusan yang sangat berbeda, yakni S2 dalam bidang Etika Kedokteran atau Bioetika di Australia dan S3 dalam bidang Genetika Molekuler di Jepang. dr Teguh akhirnya diterima di Universitas Kobe untuk mengambil S3 dengan beasiswa Pemerintah Jepang (Monbukagakusho).

Suka Duka Menjadi Ahli Genetika

Secara umum, terjadi miskonsepsi di kalangan masyarakat dan bahkan ahli-ahli kesehatan bahwa ketika berbicara mengenai genetika maka kita berbicara mengenai penyakit-penyakit aneh yang jarang dijumpai. Ada setidaknya dua argumen mengapa miskonsepsi ini salah.

Pertama, penyakit-penyakit yang secara langsung terkait dengan genetika pada umumnya dikelompokkan dalam kategori 'rare disorders' atau penyakit yang jarang dijumpai. Walaupun tiap-tiap penyakit dalam kategori ini pada umumnya memiliki tingkat kejadian yang rendah (lebih rendah dari 1 diantara 2000), tetapi keseluruhan jumlah pasien dalam kategori ini sangat besar.

Di seluruh dunia terdapat 350 juta penderita dalam kategori ini. Angka ini kurang lebih sama dengan seluruh populasi Indonesia. Jumlah penderita dalam kategori ini di Australia adalah sebanyak 1,2 juta orang, yang kira-kira sama dengan jumlah penderita diabetes di negara tersebut.

Perkiraan data mengatakan bahwa kemungkinan terdapat sekitar 30 juta penderita dalam kategori ini di Indonesia. Data ini mungkin lebih kecil dari kondisi yang sesungguhnya, sebab di seluruh dunia, 90% kelahiran dengan kecacatan genetik tiap tahunnya justru terjadi di negara-negara berkembang.

"Yang sesungguhnya sangat memprihatinkan dan menunjukkan lemahnya perhatian bagi pasien-pasien dalam kategori ini adalah bahwa ternyata dari sekitar 6000 jenis penyakit dalam kategori ini, 95%-nya tidak memiliki obat yang telah disetujui penggunaannya oleh FDA," terangnya.

Kedua, materi genetika manusia, terutama DNA, telah dikaitkan dengan peningkatan faktor risiko penyakit-penyakit yang banyak terjadi di kalangan masyarakat seperti diabetes, jantung, hipertensi, stroke, kanker dan lain sebagainya. Salah satu kasus baru yang cukup terkenal adalah yang dialami oleh Angelina Jolie, ketika dia memutuskan melakukan pengangkatan kedua payudaranya setelah mengetahui bahwa ia membawa mutasi DNA yang secara signifikan meningkatkan faktor risikonya mengidap kanker payudara.

"Miskonsepsi ini menyebabkan rendahnya perhatian terhadap pasien-pasien dalam kategori ini di kalangan pemerintah, publik dan bahkan ahli-ahli kesehatan sendiri," jelas dr Teguh.

Banyak pasien dengan kelumpuhan kaki, misalnya, tidak dapat bersekolah di sekolah normal semata-mata karena tidak ada fasilitas yang dapat membantu mereka. Padahal banyak diantara mereka yang sesungguhnya cerdas, lebih cerdas dari orang kebanyakan.

Kita mengenal Stephen Hawking yang menderita ALS, penyakit jarang yang membuat seluruh ototnya lumpuh dan bahkan untuk berbicara saja perlu bantuan alat. Karena fasilitas yang membantunya, ia memberi begitu banyak sumbangan bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Rendahnya perhatian ini merugikan negara dengan hilangnya potensi dari banyak orang-orang cerdas dengan penyakit-penyakit seperti ini.

"Selain itu, juga terdapat ironi di kalangan negara-negara Muslim yang notabene melarang aborsi untuk menghindari lahirnya bayi-bayi dengan kecacatan genetik. Kita mengetahui bahwa negara-negara barat membolehkan aborsi untuk bayi-bayi seperti ini," lanjut dr Teguh.

Walaupun membolehkan aborsi, bayi-bayi yang lahir seperti ini tidak lantas ditelantarkan atau dianggap tidak berguna bagi masyarakat. Kita melihat melimpahnya perhatian dan fasilitas yang diberikan pada pasien-pasien dengan kategori ini di negara-negara barat. Akibatnya banyak diantara pasien-pasien ini yang berhasil dalam hidupnya memberi kontribusi yang besar bagi masyarakat; menjadi sarjana, ilmuwan, pengacara dan lain-lain.

Sementara situasi yang berbeda justru terlihat di negara-negara yang melarang aborsi. Di satu sisi aborsi dilarang, namun disisi lain kelahiran bayi-bayi dengan kecacatan genetik ini tidak disambut dengan fasilitas dan perawatan yang memadai dan ada kecenderungan dianggap sebagai bagian masyarakat yang membebani.

"Akibatnya kita lihat anak-anak ini terlantar hidupnya, tidak mampu memaksimalkan potensi dirinya dan dituduh tidak mampu memberi sumbangan bagi masyarakat. Larangan aborsi oleh negara, menurut saya, secara simultan juga membawa kewajiban bagi negara untuk memberi fasilitas yang memadai bagi mereka yang harus dilahirkan dengan kondisi cacat untuk dapat memaksimalkan potensi dirinya, sehingga mampu memberi kontribusi bagi masyarakat," tutupnya.


BIODATA

Nama lengkap
dr. Teguh Haryo Sasongko, PhD

Tempat dan tanggal lahir
Balikpapan, 10 Oktober 1977

Status perkawinan, nama anak dan istri
Menikah dengan Lusi Akhreini, dengan dikarunia dua anak, Muhammad Aydhin Ataallah (8 tahun) dan Muhammad Sayyid Ataurrosyid (5 tahun).

Riwayat pendidikan
TK Tunas Harapan III, Balikpapan (1982-1984)
SD Pertamina III, Balikpapan (1984-1990)
SMP Negeri 1, Balikpapan (1990-1993)
SMA Negeri 1, Yogyakarta (1993-1996)
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (1996-2003)
Fakultas Kedokteran Pascasarjana, Universitas Kobe (PhD) (200-2008)

Pekerjaan
Postdoctoral Fellow di Human Genome Center, School of Medical Sciences, Universiti Sains Malaysia (2008-2009)
Dosen di Human Genome Center, School of Medical Sciences, Universiti Sains Malaysia (2009-sekarang)

Jabatan
Senior Lecturer dan Anggota Komite Etika Penelitian Manusia Universiti Sains Malaysia
Visiting Lecturer Universitas Jenderal Soedirman (Indonesia)
Research Fellow Institute of Pharmaceutical and Neutraceutical (Malaysia).

Organisasi
Ketua AMSA (Asian Medical Students’ Association) Indonesia (1998-1999)
Ketua BEM FK-UGM (1999-2000)
Pengurus PPI Kobe (2006-2007)
Editor, International Journal of Case Reports and Images (2010-sekarang)
Member International Advisory Board, Journal of the Medical Sciences (Universitas Gadjah Mada) (2011-sekarang)
Anggota Persatuan Genetik Malaysia (2009-sekarang)
Anggota Persatuan Biokimia dan Biologi Molekul Malaysia (2010-sekarang)

Penghargaan
Travel Award from the UK Wellcome Trust (March 2012 and July 2012)
Best Abstract “Codon Correction Inframing Approach for Dystrophin Gene Mutation Correction in Malaysian patients with DMD” during the 4th Malaysian Tissue Engineering and Regenerative Medicine Scientific Meeting, 3-4 June 2012.
Finalist of Mark S. Ehrenreich Award for paper presented at the 10th World Congress of Bioethics in Singapore (28-31 Juli 2010). The Pacific Center. University of Southern California.
Universiti Sains Malaysia Anugerah Sanggar Sanjung for Publication Category (2010, 2012)






(mer/vta)