Jumat, 28 Jun 2013 13:53 WIB

Doctor's Life

Kisah dr Triwaluyo, Sang 'Tukang Sunat' Modern

- detikHealth
Dr Tio (Foto: Ninta/detikHealth) Dr Tio (Foto: Ninta/detikHealth)
Jakarta - Kalau dulu kebanyakan tukang sunat adalah mantri, saat ini sudah banyak dokter umum yang handal menangani sunat. Image tukang sunat yang dahulu menyeramkan dengan baju putih dan peralatan tajam di tangan pun mungkin akan jarang ditemui, kecuali jika sunat dilakukan di rumah sakit.

dr Triwaluyo atau yang akrab disapa dr Tio adalah contoh 'tukang sunat' modern. Setiap kali berpraktik di klinik Rumah Sunatan Bekasi, dr Tio tak tampil kaku dengan seragam putih. Senyum yang kerap menghiasi wajahnya mengusir jauh-jauh kesan serang seorang dokter sunat.

Saat berbincang dengan detikhealth dan ditulis pada Kamis, (27/6/2013), pria berusia 28 tahun ini menggunakan rompi dan juga kemeja batik. Selain menjadi dokter sunat, ternyata dokter ini juga berpraktik di Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha, Serpong.

"Jika ditanya lebih senang di RSJ atau menyunat, dua-duanya senang dan keduanya membutuhkan kesabaran dalam menjalaninya," ujar dr Tio.

Tak berlebihan, sebab dr Tio senang dengan anak-anak. Dengan melakukan sunat, maka dia akan lebih sering bertemu anak-anak.

Tingkah dan ekspresi anak-anak yang lucu adalah salah satu yang membuatnya menggemari profesinya sebagai dokter sunat. Selain itu, semenjak 2 tahun bergabung di Rumah Sunatan banyak kejadian-kejadian unik yang membuat dirinya semakin senang menjalani profesi ini.

"Pengalaman di saat mengkhitan, ada seorang anak yang hanya ditemani oleh ayahnya. Dari awal sampai akhir khitan si anak benar-benar tenang dan kooperatif, tetapi pada akhir proses khitan justru ayah si anak tiba-tiba pingsan. Mungkin karena tidak kuat melihat proses khitan," ungkap dr Tio.

Selain itu hal menarik yang pernah dialaminya adalah ketika seorang anak yang telah selesai disunat menangis. Bukan karena sakit, melainkan karena ia tak suka melihat bentuk penisnya setelah disunat. "Kok bentuknya aneh, itu yang dia ucapkan," tambah Tio.

dr Tio membenarkan bahwa sunat zaman dahulu dan sekarang jauh berbeda. "Sunat dahulu lebih menakutkan. Tingkat kebersihan belum terjamin dengan baik, tapi dengan perkembangan dunia kedokteran saat ini maka metode sunat pun sangat bermacam-macam," katanya.

Jika dahulu tukang sunat hanya mengenal teknik konvensional, saat ini tukang sunat sudah bisa memilih metode apa yang akan digunakannya. Sebut saja seperti electric couter dan juga clamp yang saat ini populer.

Dokter yang sudah aktif dalam kegiatan menyunat sejak di bangku kuliah ini menuturkan bahwa ketika menghadapi anak yang akan disunat harus benar-benar sabar. Butuh pendekatan mental yang tepat dengan anak, selain itu untuk setiap tindakan yang akan dilakukan pada anak juga harus mendapatkan persetujuan dari pihak orang tua.

Dulu, sunat hanya menjadi tradisi atau budaya dalam sebuah amanat agama. Namun kini, sunat telah menjadi bagian dari program kesehatan. WHO sendiri telah menganjurkan sunat untuk mengurangi terjadinya kanker penis, prostat, dan juga serviks pada wanita yang dapat terinfeksi dari pasangannya.

Oleh sebab itulah, dr Tio benar-benar tergugah untuk menjadi dokter sunat. "Selain menjalani profesi sebagai dokter dan juga ibadah," kata dr Tio.



(vta/vta)
News Feed