Senin, 16 Sep 2013 08:29 WIB

Doctor's Life

dr Sita Arumi, Pelajari Wanita Seutuhnya Melalui Spesialis Kandungan

- detikHealth
dr Sita Ayu Arumi, SpOG (dok: pribadi) dr Sita Ayu Arumi, SpOG (dok: pribadi)
Jakarta - Bisa memahami sesuatu secara utuh memang menjadi hal yang menyenangkan dan dapat membuat seseorang merasa bangga. Seperti yang dirasakan dr Sita Ayu Arumi, SpOG saat ia menjatuhkan pilihannya untuk mengambil spesialisasi di bidang kebidanan dan kandungan.

Dokter yang akrab disapa dr Sita ini mengaku tertarik mendalami bidang kandungan sejak duduk di bangku semester empat di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali.

"Ilmunya menarik karena bidang kandungan bukan hanya mempelajari organ reproduksi wanita tapi juga mempelajari wanita dalam semua siklus kehidupannya. Kita juga bisa mempelajari wanita seutuhnya," tutur dr Sita saat berbincang dengan detikHealth beberapa waktu lalu dan ditulis Senin (16/9/2013).

Menurut dr Sita, siklus hidup wanita yang dipelajari yakni mulai dari embrio kecil, janin dalam kandungan dan lahir lalu berkembang menjadi anak-anak. Setelah itu mereka akan mengalami perubahan dengan melalui masa pubertas, kemudian menjadi remaja yang penuh gejolak fisik dan hormonal.

"Setelah melalui masa remaja, wanita tumbuh dewasa dan memasuki masa reproduksi dimana mereka mulai merencanakan dan mengalami kehamilan. Lalu mereka memasuki fase menopause dengan segala perubahannya," papar dr Sita.

Hal itulah yang membuat dirinya mantap mendalami bidang kebidanan dan kandungan sebagai spesialisasinya. Apalagi, dari pihak keluarga, dr Sita mengaku tidak pernah mendapat protes, justru mereka selalu memberi dukungan untuknya.

Selama bekerja sebagai dokter kandungan, mayoritas pasien dokter kelahiran Banyuwangi 32 tahun lalu ini adalah wanita usia 20 sampai 45 tahun. Tapi, tak sedikit juga pasien yang ditangani dr Sita adalah wanita usia menopause dan remaja yang makin sadar terhadap pentingnya melakukan pemeriksaan ginekologi.

Pada pasien remaja atau yang belum menikah, mereka biasanya datang dengan keluhan datang bulan yang tidak teratur serta nyeri haid. Sementara itu, pasien yang sudah menikah mayoritas berkonsultasi dengan dr Sita untuk program hamil dan kontrol kehamilan. Sampai saat ini, kasus yang paling sering ditangani dr Sita adalah operasi Minimal Invasive dengan teknik Laparoscopy

Biasanya, operasi tersebut dilakukan untuk kasus-kasus mioma uteri, kista ovarium, dan angkat rahim. Selain itu, kasus lain yang banyak ditangani dokter yang hobi traveling ini adalah program kehamilan baik dengan bayi tabung atau dengan inseminasi.

Walaupun demikian, layaknya dokter kandungan yang lain, dr Sita juga sering membantu pasien melahirkan. Berbicara tentang persalinan pasien, dr Sita ingat ada satu pengalaman yang paling berkesan untuknya.

"Tahun 2010 saya pernah menolong persalinan wanita Iran yang tidak bisa berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Sayangnya di rumah sakit kami tidak ada penerjemah bahasa arab dan satu-satunya orang yang bisa jadi penerjemah adalah laki-laki teman suami sang ibu. Tapi, karena penerjemahnya laki-laki, si ibu tidak mau ada lelaki bukan muhrimnya yang masuk ke ruangan saat dia melahirkan dan oleh karena itu penterjemah berada dibalik pintu," cerita dr Sita.

Ia melanjutkan, "Jadi bisa dibayangkan hebohnya saat persalinan, karena saya harus memberi instruksi dengan suara agak keras agar penerjemah mendengar dan si penerjemah yang ada dibalik pintu berteriak dengan bahasa arab agar ibu itu mengerti. Untungnya persalinan berjalan lancar, ibu dan bayinya sehat," kenang dr Sita.

Jika proses persalinan wanita Iran tersebut cukup menghebohkan bagi dr Sita sehingga menjadi pengalaman yang paling berkesan baginya, secara pribadi dr Sita mengaku memiliki kesan tersendiri tehadap pasien program hamil yang bisa berhasil hamil.

Salah satunya, di tahun ini ada seorang pasien yang sudah menikah sepuluh tahun dengan riwayat saluran indung telurnya telah dipotong karena hamil diluar kandungan. Pasien itu sudah berobat ke berbagai tempat dan menghabiskan biaya besar tapi tak kunjung membuahkan hasil.

"Pada saat mulai program sang ibu berkata 'Dok mungkin ini usaha saya yang terakhir, saya sudah hampir putus asa untuk mencoba karena belum berhasil dan tekanan keluarga sangat besar', dan pada saat program bayi tabungnya berhasil sang ibu sampai menangis di ruang poliklinik saya karena tidak percaya bahwa dirinya hamil. Saya merasa bersyukur bisa menjadi bagian kebahagiaan keluarga itu," cerita dr Sita sambil menirukan perkataan pasiennya kala itu.

Tak hanya kesan mengharukan atau menghebohkan dari pasien, dr Sita juga tak jarang 'terkesan' dengan kebawelan atau kecerewetan pasien. Menurut anak kedua daru dua bersaudara ini, terkadang pasien yang terkesan bawel disebabkan karena mereka kurang paham dengan kondisi yang dia alami sehingga mereka diliputi rasa khawatir yang berlebihan.

Pada dasarnya, dr Sita menganggap bahwa setiap pasien itu unik dengan keluhan dan permasalahannya. Dalam artian, ia tidak bisa memukul rata setiap pasien walaupun keluhannya sama.Oleh karena itu, menurut dr Sita tak ada bedanya menangani pasien yang berusia masih muda atau sudah agak tua.

"Saya melihat masing-masing pasien sebagai individu yang memiliki latar belakang, masalah, keinginan dan kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu saya akan menangani masalahnya sesuai sesuai proporsi yang tepat," ungkapnya.

Selama menjadi dokter kandungan, dr Sita juga pernah berhadapan dengan kasus yang menurutnya cukup sulit. Tahun 2012, dr Sita menangani pasien dengan mioma besar serta kista dan ia belum memiliki anak. Pasien itu sudah divonis harus mengangkat rahimnya oleh beberapa dokter.

Lalu, saat berkonsultasi dengan dr Sita, ia menjelaskan ada beberapa teknik untuk menangani kondisi tersebut dan akhirnya dr Sita pun melakukan operasi Laparoscopy untuk mengangkat mioma dan kistanya sekaligus melakukan konservasi rahim. dr Sita mengaku sangat bahagia karena enam bulan pasca operasi si ibu akhirnya hamil.

Seperti diketahui, meskipun pasien di poli kandungan juga ada yang pergi ke dokter laki-laki, namun tak sedikit juga pasien yang justru lebih memilih dokter kandungan perempuan. Menurut dr Sita, hal ini dikarenakan pasien merasa lebih nyaman dan tidak risih.

"Kadang beberapa pasien juga merasa lebih enak untuk konsultasi dan curhat ke dokter perempuan bahkan beberapa pasien saya malah berlanjut menjadi teman. Kalau berbicara soal risih saat memeriksa mereka kayaknya enggak ya, organ kita kan sama," kata dr Sita sembari tertawa.

Selain bisa memahami wanita secara utuh, dr Sita mengaku ada keasyikan tersendiri dengan ia menjadi dokter kandungan. Menurut dr Sita, ia tidak hanya mempelajari wanita secara medis tapi juga mempelajari bagaimana meningkatkan kualitas hidup mereka.

"Selain itu kandungan merupakan gabungan ilmu medis dan bedah, kita bisa melakukan tindakan bedah di kamar operasi, tindakan pesalinan, bayi tabung, dan lain-lain," imbuhnya.

Lantas, kejadian apa yang membuat dokter berperawakan tinggi dan langsing ini merasa tidak salah memilih kebidanan dan kandungan sebagai spesialisasinya? "Setiap kali ada pasien saya yang berhasil program hamilnya maka saya akan merasa sangat bahagia sekali, bisa menjadi bagian dari kebahagian suatu keluarga membuat saya merasa tidak sia-sia bekerja dan belajar selama ini," tutur dr Sita.

 
Biodata

Nama lengkap: dr Sita Ayu Arumi, SpOG
TTL: Banyuwangi, 10 September 1981
Hobi: Travelling, dansa
Asal: Jawa Timur
Domisili: Salemba

Pendidikan
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
Spesialis Kebidanan dan Kandungan di Fakultas Kedokteran UGM

Pengalaman
Bekerja di RSPAD Gatot Subroto sejak 2010,
Bekerja di RSU Bunda Menteng sejak 2013
Dutch School Fellowship for Gynecology Laparoscopy di Eindhoven Belanda tahun 2012

Penghargaan
Peserta terbaik Elancourt Advance Gynecology Laparoscopy di Prancis tahun 2012



(vit/vit)
News Feed