dr Indra Wijaya SpPD, Dokter yang Saat Bayi Tak Bisa Minum Susu

Doctor's Life

dr Indra Wijaya SpPD, Dokter yang Saat Bayi Tak Bisa Minum Susu

- detikHealth
Jumat, 01 Nov 2013 16:29 WIB
dr Indra Wijaya SpPD, Dokter yang Saat Bayi Tak Bisa Minum Susu
Foto: Vita/detikHealth
Jakarta -

Bagi bayi, makanan terbaik adalah air susu ibu (ASI). Tapi dr Indra Wijaya SpPD, M.Kes saat kecil sama sekali tidak bisa mengonsumsi ASI maupun susu formula. Alhasil Indra kecil hanya diberi air teh oleh orang tuanya. Meski kerap sakit-sakitan saat kecil, tapi siapa sangka dia justru menjadi dokter yang membantu mengobati orang-orang sakit.

"Dari kecil saya sakit-sakit, bolak-balik ke RS. Dari bayi saya tidak bisa minum ASI. Saya juga diare kalau minum susu formula. Jadi dari bayi saya minum teh," kata dr Indra saat berbincang dengan detikHealth, dan ditulis pada Jumat (1/11/2013).

Usut punya usut ternyata dr Indra memiliki lactosa intolerant. Di masa kecil dr Indra, tidak ada susu rendah laktosa seperti yang saat ini banyak ditemui. Saat usia dr Indra menginjak 3-4 tahun, diare akibat susu akhirnya berhenti. Namun dia mudah sekali sakit. Akibat batuk berkepanjangan, dia beberapa kali keluar masuk RS. Alhasil, baju putih khas dokter dan perawat serta rumah sakit melekat benar di benak dr Indra.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diam-diam dia mengamati para petugas medis yang dengan telaten merawat hingga penyakitnya berhasil disembuhkan. Baginya dokter adalah profesi mulia karena bisa membantu menyembuhkan orang sakit hingga sembuh. Sejak itu dia bercita-cita menjadi dokter.

Pada saat SMP, dr Indra sangat mencintai pelajaran biologi. Menurutnya, mendalami biologi adalah jalan awal untuk menjemput impiannya menjadi dokter. Bahkan karena nilai biologinya selalu paling tinggi, oleh gurunya di SMA, dr Indra diminta untuk mengoreksi ulangan teman-temannya.

"Kemudian saat kuliah saya ambil Kedokteran di Unpad, saya dapat beasiswa ke Belanda selama dua bulan untuk mendalami penyakit dalam. Saat balik dari Belanda, saya tinggal ujian saja di Unpad. Ketika teman-teman yang lain PTT, saya ambil spesialis ke UI dan bisa lulus tepat waktu," sambung ayah beranak dua itu.

Bahkan dr Indra juga menyempatkan diri mengambil kuliah S2 bidang Farmakologi saat sedang menjalani ko-asisten di RS Hasan Sadikin Bandung. Tak hanya itu, dia juga aktif mengikuti lomba poster maupun simposium. Terbiasa sibuk membuat dr Indra malah pusing jika tidak punya banyak aktivitas. Tak heran, selain mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan, dr Indra juga berpraktik di RSU Siloam, Siloam Hospital Karawaci, Siloam Hospital Kebon Jeruk, dan masih sempat menjalani aktivitas ilmiah sebagai peneliti dan redaksi majalah Ethical Digest.

Menurut dr Indra, dirinya sudah terbiasa mengelola stres dan menata waktunya dengan baik. Sehingga meskipun punya aneka kegiatan, tidak ada pekerjaan yang terabaikan. Tak hanya itu, dia juga berupaya menjaga kesehatan dirinya dengan cara makan teratur, serta olahraga dan istirahat cukup.

"Saya orangnya jarang sakit. Kalaupun sakit cukup dengan obat generik. Di waktu luang saya lebih suka berenang ataupun treadmill," ucapnya.

Dari semua penyakit dalam, yang paling didalami dr Indra adalah diabetes dan tiroid. "Ini karena saya banyak juara dengan mengikuti lomba poster atau penulisan tentang topik ini," ucapnya sambil tertawa. Keseriusannya dalam diabetes dan tiroid membuat dr Indra banyak diminta menjadi pembicara dalam berbagai forum ilmiah.

Bagi dr Indra, ilmu penyakit dalam adalah suatu ilmu yang holistik dan selalu berkembang. Karena itu menjadi tantangan tersendiri baginya untuk menjadi pengajar ataupun dokter penyakit dalam. Dalam menangani pasien, dr Indra pun selalu berupaya sebaik mungkin untuk mendengar pasien.

"Jadi sebagai dokter, saya harus ngerti apa yang pasien mau. Karena itu kan badan dia, jadi pasien juga punya hak atas badannya. Jadi misalnya ada pasien diabetes tidak mau pakai insulin, setelah kita jelaskan tetap tidak mau, ya jangan dipaksa," tutur pria berkacamata itu.

Pendekatan mencoba mengerti apa mau pasien itu rupanya membuat banyak pasien yang langsung 'nempel' ke dr Indra. Banyak pasiennya berasal dari luar Jakarta seperti Semarang, Manado, bahkan dari luar negeri seperti Malaysia dan Singapura.

"Menjadi dokter itu bukan sekadar memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga pengabdian. Pengabdian itu diwujudkan dengan cara banyak hal seperti mengajar mahasiswa, menolong orang tidak mampu, dan berbagi dengan pasien," kata dr Indra mengakhiri perbincangan.

(/ajg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads