Jumat, 22 Nov 2013 07:57 WIB

Doctor's Life

dr Rinawati Rohsiswatmo, Ahlinya Bayi Prematur di Indonesia

- detikHealth
(dok: Merry / detikHealth) (dok: Merry / detikHealth)
Jakarta - Menangani bayi prematur bukanlah hal yang mudah karena bila tak segera mendapatkan pertolongan yang dibutuhkan, bayi prematur sangat rentan bahaya kesehatan. Di sini dibutuhkan keahlian seorang dokter anak yang khusus menangani bayi prematur. Di Indonesia, dr Rinawati Rohsiswatmo adalah salah satunya.

Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A(K) merupakan salah satu ahli bayi prematur di Indonesia. Berkecimpung di bidang perinatologi, dua pertiga kesibukannya dihabiskan untuk merawat bayi prematur. Baginya, dapat menyelamatkan bayi prematur dari kematian dan melihat mereka berkembang tanpa ada kecacatan merupakan kepuasan yang tak terbayarkan.

"(Menyelamatkan bayi prematur) dari yang mau mati, saya tolong, hidup dan nggak cacat, itu kepuasaannya tidak terbayarkan," tutur Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A(K), saat berbincang dengan detikHealth beberapa waktu lalu, seperti ditulis pada Jumat (22/11/2013).

Dari semua bayi yang lahir di Indonesia, 15,5 persennya adalah bayi prematur atau bayi yang lahir belum cukup umur. Ini bukanlah hal sepele, karena bayi prematur menyumbang angka kematian bayi (AKB) cukup besar, yang menyebabkan 250 bayi meninggal setiap harinya.

Semua bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu dikategorikan sebagai bayi prematur. Perkembangannya di dalam rahim yang belum sempurna membuat bayi prematur lebih rentan mengalami berbagai masalah kesehatan dan kejiwaan.

Kondisi inilah yang membuat dr Rina merasa tergerak. Bagi wanita kelahiran Sungai Pinyuh, Kalimantan Barat, ini menyelamatkan bayi prematur sama artinya menyumbang untuk kemajuan generasi muda Indonesia di masa mendatang.

"Kalau saya bisa menyelamatkan anak ini (bayi prematur), itu artinya sumbangan saya untuk generasi ke depan. Coba bayangkan kalau anak ini (kualitasnya) jelek, dia akan menjadi beban seumur-umur. Negara akan jadi bagus kalau dari setiap kehamilan, kelahiran sudah dipelihara dengan baik. Kalau ada masalah di saat lahir ya harus ditangani. Makanya saya mau berkecimpung di sini," pungkasnya.

dr Rina mulai serius menangani bayi prematur dari tahun 2002. Sejak lulus pendidikan dokter di tahun 1986, ia memang lebih tertarik mendalami dunia anak. Ia kemudian melanjutkan studi untuk perinatologi, ilmu khusus yang lebih banyak menangani masalah pada bayi.

"Dulu belum ada pelayanan seperti ini, belum maju. Karena saya di rumah sakit pendidikan, saya dikasih tugas untuk menyebarluaskan ilmunya, karena suatu saat akan jadi booming. Eh betul, MDGs (Millennium Development Goals) kan 5-6 tahun kemudian. Jadi kayaknya saya pas," tutur dokter yang lahir 24 Desember 1951 silam.

Kini, dr Rina beserta rekan-rekannya di FKUI dan RSCM, bersama dengan Dinas Kesehatan dan Pemerintah Daerah DKI Jakarta tengah berupaya membenahi dan memberdayakan pelayanan kesehatan perifer di tingkat Puskesmas dan RSUD.

Untuk urusan bayi prematur, ia berharap layanan intermediate care (pelayanan bayi prematur yang paling ringan) dapat diberdayakan di Puskesmas dan rumah sakit daerah, agar tidak semua bayi prematur dibawa rumah sakit pusat untuk mencari layanan neonatal intensive care unit (NICU).

"Pelayanan bayi prematur itu tergantung berat ringannya, NICU itu level 3 yang paling sulit. Ada juga yang namanya intermediate care, itulah yang ingin kita kembangkan di puskesmas-puskesmas. Biarlah rumah sakit tertentu yang punya NICU. Kalau dia itu bisa ditangani di perifer, di Puskesmas, RSUD, mungkin akan sedikit yang sampai ke NICU. Tapi karena sekarang semuanya tidak mampu, semuanya diserahkan ke kita (rumah sakit pusat)," tutupnya.

BIODATA

Nama lengkap
Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A(K)

Tempat dan tanggal lahir
Sungai Pinyuh, 24 Desember 1951

Riwayat pendidikan
1. Pendidikan Kedokteran FKUI, Jakarta, 1986
2. Pendidikan Spesialis Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Jakarta, 1998
3. Pendidikan Program Doktor Ilmu Kedokteran FKUI, Jakarta, 2011

Riwayat pekerjaan
1. Pimpinan Puskesmas Teluk Bayur, Kabupaten Berau Kalimantan Timur, 1987-1992
2. Staf Divisi Perinatologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FKUI-RSCM, 1999-sekarang
3. Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Perinatologi IDAI, 2008-sekarang

Riwayat Pelatihan
1. Neonatal Intensive Care Unit, Royal Women’s Hospital, Melbourne, Australia, 1999-2001
2. HFO Course; Melbourne, Australia, 2006
3. Neonatal ventilation Strategies and HFOV 3100A Neonatal Application Training, Amsterdam, 20



(mer/vit)
News Feed