dr Benny Philippi dan Keinginannya Membantu Pasien Tidak Mampu

dr Benny Philippi dan Keinginannya Membantu Pasien Tidak Mampu

- detikHealth
Senin, 24 Mar 2014 16:02 WIB
dr Benny Philippi dan Keinginannya Membantu Pasien Tidak Mampu
Foto: Zanel/detikHealth
Jakarta - Kerap kali profesi dokter dikaitkan dengan kondisi finansial yang mapan. Namun bukan karena alasan itulah Benny Philippi memilih menjadi dokter spesialis bedah digestif. Dia ingin membantu lebih banyak orang sembuh dari penyakitnya. Selain itu, dia pun ingin membantu para pasien yang tidak mampu. Bagaimana kiprahnya?

dr Benny Philippi, Sp.B-KBD memilih untuk menjadi spesialis bedah digestif atau yang biasa disebut dengan bedah saluran cerna karena menganggap banyaknya aspek tersebut sebagai suatu tantangan yang harus dihadapi. Maklum, bidang spesialis bedah saluran cerna memang tidak hanya menangani satu masalah organ tubuh. Beberapa aspek organ tubuh, seperti lambung, hati, saluran empedu, bahkan hingga anus, semuanya ditangani di bidang saluran cerna. Cukup kompleks memang, namun itulah yang menjadikan dokter yang akrab disapa dr Benny ini memilih bidang tersebut.

"Tantangan yang diberikan spesialis saluran cerna ini begitu banyak. Makanya saya tertarik mengambil spesialis ini. Masih banyak hal-hal yang belum terjawab namun harus segera ditangani pada bidang ini," tutur dokter yang berusia 68 tahun ini kepada detikHealth, dan ditulis pada Senin (24/3/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dr Benny, kompleksitas yang diberikan pada masalah saluran cerna memang belum semuanya terjawab. Ia memberikan contoh pada masalah kanker lambung. "Salah satunya itu kanker lambung. Itulah tantangan yang harus segera dijawab," imbuhnya.

Memang tidak mudah menjadi dokter spesialis bedah saluran cerna. dr Benny mengakui bahwa tidak sedikit masalah-masalah yang menyulitkannya selama berkarir sebagai dokter bedah saluran cerna.

"Masalah yang menyulitkan tentu saja di pasien ya. Saya kan menghadapi pasien yang berbeda. Komplain dari pasien yang tidak puas pasti selalu ada," ungkap alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

dr Benny mengungkapkan ia harus sabar menghadapi segala pasiennya. Menurutnya, tidak semua pasien bisa dijelaskan dengan cara yang sama. "Pasien yang usia lanjut kan tidak bisa dijelaskan dengan cara yang sama ketika menjelaskan ke pasien yang masih muda. Terkadang pasien usia lanjut juga suka komplain," jelasnya.

Namun, di situlah tantangannya. dr Benny tidak mempermasalahkan itu karena baginya itu memang menjadi bagian pekerjaan yang harus dilakukannya. Karena di samping segala tantangan tersebut, dr Benny juga mendapatkan hal-hal suka cita selama karirnya.

Bagi dr Benny, perannya dalam memberikan pertolongan kepada pasiennya itu adalah hal yang berarti. Dokter bukanlah sopir bajaj yang bisa saja 'meninggalkan' orang lain karena masalah biaya. Dokter adalah orang yang memang harus membantu orang lain yang membutuhkannya.

"Rasa ketika berhasil menolong orang itu adalah memberikan pengalaman suka cita untuk saya sebagai dokter," ujarnya sambil tersenyum.

"Pengalaman yang berkesan bagi saya adalah ketika saya melihat pasien saya yang waktu itu saya tangani karena kanker, kini ia masih hidup sampai sekarang. Lalu juga ada pasien saya yang waktu kecilnya dihilangkan anusnya karena ada masalah, kini ia sudah menikah," ungkap dokter yang berpraktik di RS Mayapada, Jakarta Selatan, ini.

Kendati demikian, dr Benny mengakui bahwa kedokteran bukanlah bidang awal yang ingin didalaminya semasa lulus SMA. Awalnya, dr Benny ingin sekali berkuliah di bidang teknik. "Tapi karena waktu jaman saya itu belum ada fakultas teknik di Jakarta, ya jadilah saya akhirnya memilih kedokteran," kenangnya.

Keputusan dr Benny memilih bidang kedokteran mungkin bisa dikatakan tidak terlepas kepada nuraninya yang ingin membantu orang lain. Hal ini dibuktikan kepada aktifnya dr Benny yang berkecimpung di berbagai organisasi non profit di bidang kesehatan, bersama dokter-dokter lain.

Kepada detikHealth, dr Benny bercerita bahwa ia saat ini bergabung dengan Indonesian Ostomy Association (InOA). InOA ini adalah organisasi yang bekerja sama dengan Yayasan Kanker Indonesia. Awal dr Benny bergabung dengan InOA adalah pada saat zaman krisis moneter di Indonesia. Saat itu, krisis membuat pasien yang membutuhkan kolostomi sangat kesusahan mendapat alatnya.

"Saya dan teman dokter yang lain akhirnya memutuskan untuk membantu pasien yang membutuhkan. Alatnya itu kan mahal, tapi kebanyakan yang membutuhkannya itu orang yang kurang mampu. Makanya dengan bekerja sama dengan Yayasan Kanker Indonesia, akhirnya kami menyediakan alatnya untuk dibagikan secara gratis," tutur dr Benny.

Menurut dr Benny, perannya dalam hal seperti itulah yang sangat berarti untuk dirinya. dr Benny pun tercatat sebagai dokter yang masih aktif memberikan materi perkuliahan kedokteran. Bahkan tidak hanya di Indonesia, namun ia juga memberikan materi kuliah hingga ke luar Indonesia.

"Tujuannya kan ingin mencerdaskan. Khususnya mencerdaskan bangsa Indonesia," terangnya.

dr Benny sadar bahwa keberadaan dokter spesialis bedah saluran cerna di Indonesia itu masih sangat minim. Ia pun menyayangkan hal ini. Karena menurutnya, masalah saluran cerna itu sangat banyak di Indonesia.

"Saya sangat senang jika ada mahasiswa kedokteran yang ingin menjadi dokter spesialis bedah saluran cerna. Karena jumlahnya masih sangat minim. Sebarannya di daerah Indonesia timur itu langkah, seperti Papua dan Maluku. Bahkan tidak ada," ungkap dokter yang juga berpraktik di RS Carolus dan RS Mitra Keluarga Kelapa Gading ini.

Lantas, apa yang disampaikan dr Benny dalam menanggapi kenyataan ini? "Saran saya, beranilah menghadapi tantangan. Saya memilih spesialis ini karena tantangan yang ada di dalamnya. Carilah spesialis yang ada intervensinya, seperti mata yang ada bedahnya, lalu THT, atau jantung. Jadilah mahasiswa kedokteran yang belajar dari masalah untuk menjadi dokter," sarannya.

Biodata

Nama Lengkap: dr Benny Philippi, Sp.B-KBD
TTL: Palembang, 28 Agustus 1946
Status: Menikah, mempunyai 3 anak perempuan
Pengalaman Karir:
- Dokter Umum di RS Koja Jakarta Utara
- Dokter Spesialis Bedah Saluran Cerna di RS Mayapada Jakarta Selatan (sejak 2013 hingga sekarang)
- Dokter Spesialis Bedah Saluran Cerna di RS Carolus Jakarta (sejak 1990 hingga sekarang)
- Dokter Spesialis Bedah Saluran Cerna di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading (sejak 2002 hingga sekarang)
- Staf Pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (sejak 1985)
Hobi: Bersepeda
Asal: Maluku
Domisili: Pulomas
Pendidikan:
- Pendidikan Dokter Umum di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
- Pendidikan Dokter Spesialis Bedah Saluran Cerna di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Kesibukan Lain:
- Ketua Program Studi Bedah Digestif
- Tergabung dalam Indonesian Ostomy Association (InOA)
- Tergabung dalam Yayasan Kanker Indonesia

(vit/vit)

Berita Terkait