Ya, sejak tahun 2013, drg Yulia Prapti (46) sudah turun ke berbagai daerah pinggiran Jakarta dengan bergabung bersama program 'mobil sehat' yang diusung CT Foundation untuk menyediakan layanan periksa gigi gratis untuk masyarakat kurang mampu.
Selama mengunjungi daerah di Jakarta seperti Marunda, Semper, dan Bintaro, dikatakan drg Yulia bahwa pendidikan tentang kesehatan gigi dan mulut belum sampai kepada masyarakat di sana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak sedikit pasien yang mengaku belum pernah memeriksakan giginya bahkan belum pernah ke puskesmas. Masalah yang paling banyak ditemui yaknj gigi berlubang dan peradangan gusi. Nah, menurut drg Yulia, peradangan gusi salah satunya bisa disebabkan karena masyarakat tidak rutin membersihkan karang gigi.
"Agak susah juga ya, karena bisa aja jarak puskesmas memang terlalu jauh atau justru mereka tidak tahu ada puskesmas,"ucap ibu dua anak ini.
Selama tujuh bulan menjadi tim mobil sehat, drg Yulia mengaku ada pengalaman yang menurutnya tidak akan terlupakan, yakni ketika ia mengunjungi daerah Semper, Jakarta Utara.
"Ada anak kecil yang nggak pake celana tahu-tahu masuk ke mobil. Tapi biar gitu mereka berani-berani lho. Cuma kita bilang ini giginya harus dicabut, udah ya diem, yaudah kita cabut setelah itu dia cuma senyum-senyum aja," kisah wanita yang memiliki hobi traveling ini.
Tak hanya itu, ban mobil kempes ketika dalam perjalanan pulang pun pernah dialami drg Yulia dan timnya. Oleh karena itu, drg Yulia mengaku banyak pengalaman baik suka maupun duka yang dia rasakan.
"Tapi kita senang karena sebenernya masyarakat antusias kalo ada tenaga medis untuk kesehatan gigi dan mulut yang turun sampai ke tempat mereka," kata wanita berambut sebahu tersebut.
Selain gigi berlubang, biasanya keluhan lain yang banyak ditangani drg Yulia yakni pembuatan gigi tiruan dan penyakit mulut seperti sariawan. Maka dari itu, dengan bergabung bersama mobil sehat, drg Yulia berharap bisa memberi penyuluhan tentang kesehatan dan kesadaran berperilaku sehat terkait kesehatan gigi dan mulut yang ditambah perawatan-perawatan sederhana.
Misalnya, setelah berobat, ada pasien yang giginya nyeri maka akan diberi obat atau vitamin untuk menjaga kesehatan gigi. Begitupun untuk anak-anak, akan diberi souvenir berupa gelas, pasta gigi, dan sikat gigi. Dengan begitu, diharap anak-anak bisa lebih semangat menjaga kesehatan gigi dan mulutnya. Jika ada kasus di mana pasien butuh tindakan lanjutan seperti operasi, biasanya akan dirujuk ke puskesmas.
"Tapi kalau kita pas lagi kerja sama dengan tim lain pernah juga kita lakukan operasi. Kalau emang waktunya panjang misalnya bakti sosial tiga hari ya kita lakukan," imbuh drg Yulia yang sudah berteman dekat dengan Anita Chairul Tanjung, ketua yayasan CT Foundation sejak duduk di bangku kuliah.
Dikatakan drg Yulia, sejak kuliah ia dan Anita sudah bercita-cita ingin memberikan pengertian serta penyuluhan pada masyarakat akan pentingnya menjaha kesehatan gigi dan mulut khususnya untuk masyarakat yang kurang mampu.
"Karena kita sering mendengar keluhan bahwa berobat gigi itu mahal. Nah, sekarang waktunya kita harus turun ke bawah memberi penyuluhan dan perawatan sehingag mereka nggak merasa canggung untuk berobat gigi dan mulut," kata drg Yulia.
Ke depannya, direncanakan mobil sehat akan tersedia di 33 provinsi untuk menyediakan layanan gigi gratis seiring dengan SMA Unggulan CT Foundation.
Nama: drg Yulia Prapti
Domisili: Bandung
Tempat praktik: Klinik An-Nur, Setiabudi, Bandung.
Pendidikan: FKG UI tahun 1987-1993.
Hobi: Traveling
(rdn/up)











































