"Dokter sebenarnya bukan cita-cita saya sejak kecil. Hanya memang saya sudah kepikiran, gimana caranya bisa menolong orang lain, setelah itu baru memutuskan jadi dokter," tutur dr Alex, panggilan akrabnya ketika ditemui di RS Premier Bintaro, Bintaro Sektor 7 beberapa hari lalu.
Tamat SMA, ia pun mengambil sekolah kedokteran di Universitas Diponegoro Semarang. Setelah menyelesaikan pendidikan selama kurang lebih 6 tahun, ia langsung hijrah ke Jakarta untuk mengambil pendidikan sebagai dokter spesialis bedah di Universitas Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu ketika saya masih idealis. Untuk berbakti kepada kemanusiaan. Cita-cita saya dulu itu bergabung ke organisasi relawan dokter internasional lho, Flying Doctors, Doctors Without Borders, MSF (Medicine Sans Frontier) begitu," ujar dr Alex sembari tersenyum.
Hanya saja, sudah memiliki keluarga membuat cita-cita tersebut nampaknya harus terkubur. Diakui dr Alex bahwa dirinya kini selain disibukkan dengan pekerjaan sebagai dokter namun juga sebagai ayah kepada dua anaknya. Meski cita-cita bergabung menjadi dokter relawan internasional padam, bukan berarti semangat membantu kemanusiaan di dirinya juga sudah luntur.
"Minimal skala lokal saja. Di Indonesia saja. Memberikan informasi terkait komunitas soal kesehatan, ke wilayah terpencil kan semoga masih bisa," tutupnya.
Konsultan Bedah Vaskular
Pendidikan spesialis bedah yang dilakukannya di FKUI kembali berlanjut. Mendapat rekomendasi dari seorang seniot, ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan menjadi konsultan bedah vaskular atau bedah pembuluh darah. Mengapa?
"Karena di Indonesia sendiri masih jarang ya setahu saya. Kalau pembuluh darah pasti dikaitkannya dengan jantung, dengan otak, stroke, padahal nggak cuma itu. Banyak juga penyakit berbahayannya seperti Aneurisma Aorta Abdominalis (AAA) tadi," sambungnya lagi.
Pendidikan spesialis bedah konsultan bedah vaskular dilakukannya selama tiga tahun. Dua tahun dilakukan di FKUI sementara satu tahunnya lagi dilanjutkan di St Fransiscus Hospital di Muenster, Jerman. Di sana, dr Alex berada di bawah bimbingan pakar bedah vaskular kenamaan yakni Prof Giovanni Torsello.
"Jadi saya hanya mengurusi bedah pembuluh darah selain jantung dan otak," tambah ayah dua anak tersebut.
Dokter yang memiliki spesialisasi di bidang pembuluh darah sendiri menurut dr Alex tidak banyak hanya ada kurang lebih 26 dokter yang memiliki kompetensi tersebut. Tentunya sangat jauh dari total kurang lebih 250 juta penduduk Indonesia.
"Memang sangat kurang. Tapi penyakit pembuluh darah non jantung dan otak termasuk langka. Perkiraan saya dibutuhkan sekitar 250 dokter SpB(K)V di Indonesia," tutupnya.
Nama: dr Alexander Jayadi Utama, SpB(K)V
TTL: Semarang, 12 Januari 1977
Status: Menikah (2 anak)
Riwayat Pendidikan:
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang (1995-2001)
Spesialis Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (2002-2008)
Konsultan Bedah Vaskular, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (2008-2010)
Pelatihan Operasi Endovaskular, St Fransiscus Hospital, Muenster, Jerman (2010-2011).
Pengalaman Kerja:
Dokter bedah di RS Persahabatan dan RS Fatmawati (2002-2008)
Anggota Indonesian Disaster Medical Team, Misi Gempa Bengkulu, Indonesia (2007)
Anggota Indonesian Disaster Medical Team, Misi Gempa Sichuan, Tiongkok (2008)
Staf Divisi Vaskular, Departemen Ilmu Bedah FKUI/RSCM (2008-sekarang)
Tim Bedah Vaskular RS Premier Bintaro (2013-sekarang)
(mrs/up)











































