dr Wikan merupakan pemilik klinik perorangan dan pengelola dari Paguyuban Diabetes Melitus Surakarta (Padimas) untuk Prolanis alias Program Pengelolaan Penyakit Kronis, yakni untuk pasien diabetes dan hipertensi. Ia praktik sebagai dokter umum di klinik tersebut, namun juga aktif mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM).
"Saya praktik pagi jam 6 sampai jam 8, lalu mengajar, kemudian nanti sore setelah Maghrib saya praktik lagi sampai waktu yang tak terbatas. Kadang bisa sampai jam 11 malam," ujar dr Wikan saat berbincang dengan detikHealth di Media Center Kantor Pusat BPJS Kesehatan, Jl Letjend Suprapto, Cempaka Putih, Jumat (10/10/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter yang kini berusia 53 tahun dan memiliki tiga orang anak ini mengaku tak masalah menjalani aktivitas seperti itu setiap hari. Ia sangat menikmati perannya sebagai dokter dan dosen, yang dapat melayani pasien namun juga bisa berbagi ilmu pada mahasiswa-mahasiswanya.
Menceritakan kisah pembentukan Padimas, dr Wikan menceritakan awalnya ia melihat pasien yang datang ke kliniknya mayoritas adalah diabetes dan hipertensi. Ia kemudian berinisiatif untuk mengundang para warga dan penyandang untuk membentuk kegiatan bersama-sama.
"Mereka inisiatif mau kegiatan apa. Nama Padimas itu juga inisiatif anggota. Dibentuk susunan anggota. Saya inisiasi dari belakang. Yang pasti saya setiap kegiatan pasti sempatkan hadir. Biasanya kegiatan kami dilakukan hari Minggu jam 6 pagi, aktivitasnya mulai dari senam, edukasi, pemberian testimoni, bahkan sampai bernyanyi-nyanyi," lanjutnya.
Dokter kelahiran Purworejo, 19 September 1961 ini juga berpesan agar masyarakat selalu mengendalikan pola makan dan tetap rajin berolahraga. Sebab dua hal inilah yang memegang peranan penting untuk mengendalikan komplikasi jantung dan diabetes melitus.
"Yang penting sekarang kan menjaga kesehatan, bukan mengobati," imbuh dokter lulusan FK UGM tersebut.
(ajg/vit)










































