Ya, menjadi dokter spesialis kanker anak membuat dr Anky Tri Rini Kusumaning Edhy, SpA(Onk), atau dr Anky, setiap harinya tentu harus berhadapan dengan pasien anak-anak. Bahkan ada yang masih berusia beberapa bulan saja, namun sudah menghadapi penyakit kanker.
Diakui oleh dr Anky, dirinya kadang sedih luar biasa melihat perjuangan pasien-pasien ciliknya. Namun sebagai dokter, ia harus tetap profesional dan menyemangati anak-anak tersebut, sehingga kesehatannya bisa ikut membaik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: dr Vivi Gigih Jadi Konselor HIV Demi Hapus Stigma pada ODHA di Riau
"Saya pernah punya pasien waktu itu usianya masih sekitar tiga bulan, dia kena neuroblastoma. Perutnya besar begitu ya, dia harus kemoterapi tiga siklus. Hasilnya alhamdulillah baik dan sekarang dia sudah SD. Ada juga pasien saya usianya 5 tahun kena retinoblastoma, sekarang dia sudah jadi dokter dan mau lanjut ambil spesialis radiologi nuklir. Saya tanya kenapa kok ambil itu, kata dia soalnya dulu dia diradiasi. Bagaimana tidak senang lihat yang seperti ini?," tutur dr Anky.
Dokter yang kini praktik di RS Omni Pulomas ini menuturkan, terkadang dirinya juga harus tetap tegar saat berhadapan dengan anak-anak kanker stadium akhir. Yang membuatnya terharu, anak-anak ini justru seringkali malah lebih kuat dibandingkan orang tuanya.
"Ada pasien saya yang suka gambar, dia menggambar bidadari, dia bilang nanti dia akan menjadi bidadari itu. Katanya 'ibu nanti jangan keliru cari aku ya, aku bidadari'. Kalau seperti itu, kita kan tidak boleh ikut sedih dan menangis ya, harus menyemangati dia. Kalau kita nangis, dia justru bisa down," imbuh dokter kelahiran 17 April 1954 ini kepada detikHealth.
Menjadi dokter anak, dr Anky mengakui bahwa dirinya juga harus bisa berkomunikasi dan menjaga hubungan baik dengan keluarga si anak, terutama orang tuanya. Sebab apapun yang terjadi pada anak, orang tua menjadi bagian terdekat yang bisa diajak bekerja sama. Khusus bagi orang tua dengan anak kanker, dr Anky menyebutkan bahwa pengobatan dengan sistem 'paliative care' menjadi hal yang penting.
Metode pengobatan ini tak cuma mengobati pasien anak secara medis, tapi juga mencangkup keseluruhan termasuk psikologis anak dan orang tuanya. Dengan begitu, orang tua bisa memiliki psikis yang lebih kuat dalam mendampingi anaknya.
"Sekarang ada paliative care. Saya kebetulan juga aktif mengembangkan metode ini. Jadi berobat itu tidak hanya berpikiran ke fase akhir, semuanya bukan tentang end of life. Ibu bisa stres kan menghadapi kenyataan anaknya punya kanker, tapi ibu tidak boleh menangis di depan anaknya. Yang seperti ini harus saya perhatikan juga," imbuh dokter yang menamatkan pendidikan spesialis anak di Universitas Indonesia tersebut.
Yang pasti, sejauh ini dr Anky mengaku dirinya tetap menikmati perannya sebagai dokter kanker anak. Dengan begitu, ia bisa melayani pasien-pasiennya dengan hati dan jauh dari stres. Terlebih hubungan erat dengan keluarga pasien juga membuatnya lebih senang. "Kepuasan jadi dokter anak seperti itu, meskipun mungkin tidak selalu bisa berhasil (menyembuhkan -red), tapi kami berusaha membuat anak dan keluarganya senang, nyaman, dan hidup bermartabat," tutupnya.
Baca juga: Bisa Merawat Orang Sakit Maupun Sehat, dr Dian Bahagia Jadi Dokter Gizi (ajg/vit)











































