Pengalaman Seru Mendaki Gunung Bersama Tunanetra

Pengalaman Seru Mendaki Gunung Bersama Tunanetra

Ajies - detikHealth
Rabu, 06 Nov 2013 08:33 WIB

Jakarta - Memiliki gangguan penglihatan bukan berarti tak mampu beraktivitas. Mendaki gunung pun bukan hal yang mustahil dilakukan oleh tunanetra, hanya memang butuh cara yang berbeda dari orang lain yang berpenglihatan "awas".

R Ismail Prawira Kusuma MEI dari Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) dalam workshop memperingati World Sight Day 2013 di Hotel Bidakara beberapa waktu lalu mengatakan, julukan yang lebih tepat untuk tunanetra bukanlah disable melainkan diffable, karena memiliki different ability. (Foto: Ajies/ Teks: Uyung)
Anggapan bahwa tunanetra adalah 'sakit' kerap memicu diskriminasi. Beberapa kasus yang pernah diadvokasi oleh Pertuni antara lain seorang perempuan tunanetra diturunkan dari pesawat, dan seorang tunanetra tidak diizinkan membuka rekening di bank karena dianggap kebutaan membuatnya tidak cakap hukum. (Foto: Ajies/ Teks: Uyung)
Beberapa orang yang tergabung dalam Fellowship of Netra Comunnity (Fency) tanggap dengan kondisi ini dan berinisiatif untuk membantu para tunanetra agar bisa mandiri. Di antaranya dengan membuat buku braille dan mengadakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan tunanetra. (Foto: Ajies/ Teks: Uyung)
Bekerja sama dengan Yayasan Mitra Netra, Fency pernah mengadakan fun rafting dan jelajah museum bersama tunanetra. Akhir pekan lalu, tepatnya 1-3 November 2013, Fency mengajak sekitar 8 tunentra untuk mendaki Gunung Papandayan (3.662 mdpl). (Foto: Ajies/ Teks: Uyung)
"Banyak orang mengira tunanetra tidak butuh rekreasi. Itu tidak benar, justru penting untuk sesekali melakukan aktivitas yang biasa dilakukan oleh orang-orang pada umumnya. Kalau sering-sering refreshing seperti ini, kita jadi bisa menyikapi berbagai masalah itu dengan lebih positif," kata Aria Indrawati, tunanetra yang juga relawan Yayasan Mitra Netra usai mengikuti fun rafting, April silam. Aria sendiri kali ini tidak ikut mendaki Gunung Papandayan karena sedang tidak sehat. (Foto: Ajies/ Teks: Uyung)
Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan kebutaan paling banyak dipicu oleh katarak (51 persen). Sisanya dipicu berbagai sebab, antara lain glaucoma, kelainan refraksi (mata minus, plus, dan silinder), dan sebagainya. (Foto: Ajies/ Teks: Uyung)
Pengalaman Seru Mendaki Gunung Bersama Tunanetra
Pengalaman Seru Mendaki Gunung Bersama Tunanetra
Pengalaman Seru Mendaki Gunung Bersama Tunanetra
Pengalaman Seru Mendaki Gunung Bersama Tunanetra
Pengalaman Seru Mendaki Gunung Bersama Tunanetra
Pengalaman Seru Mendaki Gunung Bersama Tunanetra
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads