Jakarta - Nama Sarah Gilbert diperbincangkan oleh dunia karena dia rela melepaskan hak patennya sebagai penemu vaksin AstraZeneca.
Foto Health
Ini Sarah Gilbert, Penemu Vaksin AstraZeneca
Nama Sarah Gilbert diperbincangkan oleh dunia karena dia rela melepaskan hak patennya sebagai penemu vaksin AstraZeneca. Hal tersebut membuat beliau mendapatkan pujian di seluruh dunia karena kemurahan hatinya untuk tulus menolong manusia dari COVID-19.
Dikutip dari biospace.com, vaksin yang diciptakan oleh tim Sarah diumumkan pada 23 November 2020. Sudah diuji coba di Inggris dan Brasil dan manjur hingga 90 persen.
Vaksin AstraZeneca efektif mencegah penularan COVID-19 tanpa rawat inap atau kasus parah pada orang yang sudah disuntik.
Sarah belum lama ini mendapatkan penghormatan dari para penonton Wimbledon sebelum pertandingan dimulai. Dilansir news.trust.org, disebutkan para penonton memuji upaya tim Sarah yang telah berkontribusi dalam perjuangan Inggris melawan COVID-19. Mereka memuji Sarah dan staf National Health Service (NHS). Steve Parsons/PA Images via Getty Images
Sarah Gilbert merupakan profesor vaksinologi di Universitas Oxford berusia 59 tahun. Bukan hanya vaksin COVID-19, dia pernah mengembangkan berbagai vaksin untuk influenza dan vaksin Ebola.
Harga vaksin AstraZeneca per dosis bervariasi di beberapa negara, misalnya US$ 2,15 di Amerika Serikat. Kemudian di Uni Eropa US$ 3-4. Harganya paling murah jika dibandingkan dengan vaksin-vaksin lainnya.
Ia mendapatkan ide untuk mengembangkan vaksin tersebut setelah China mempublikasikan kode genetik virus.
Pada Desember 2020, Inggris menyetujui vaksin COVID-19 yang dikembangkannya bersama rekan-rekannya.
Mulai menekuni vaksinologi di Oxford pada 2004, ia menjadi profesor di Jenner Institute. Prof Sarah Gilbert mengembangkan dan menguji vaksin flu universal pada 2011, juga memimpin uji klinis pertama vaksin Ebola pada 2024, lalu MERS.
Perlu diketahui Sarah Gilbert lahir di Northamptonshire pada April 1962. Gelar sarjana ilmu biologi didapatnya dari University of East Anglia, pendidikan doktoralnya ditempuh di University of Hull di bidang genetika dan biokimia.











































