Korsel Krisis Bayi Imbas Resesi Seks, Kenapa Warga Ogah Punya Anak?

ADVERTISEMENT

Foto Health

Korsel Krisis Bayi Imbas Resesi Seks, Kenapa Warga Ogah Punya Anak?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Sabtu, 26 Nov 2022 12:05 WIB

Jakarta - Di Korea Selatan, makin banyak anak muda yang tak mau menikah. Pun sudah berumahtangga, wanita memilih untuk tidak hamil.

Visitors wearing face masks to help curb the spread of the coronavirus walk under a canopy of cherry blossoms in full bloom in Seoul, South Korea, Sunday, April 10, 2022. (AP Photo/Lee Jin-man)

Korea Selatan mencatat tingkat kesuburan 0,81 persen pada 2021, padahal Idealnya, satu negara harus memiliki tingkat kesuburan 2,1 persen untuk menjaga populasi. (Foto: AP/Lee Jin-man).

Visitors wearing face masks to help curb the spread of the coronavirus walk under a canopy of cherry blossoms in full bloom in Seoul, South Korea, Sunday, April 10, 2022. (AP Photo/Lee Jin-man)

Di Korea Selatan, makin banyak anak muda yang tak mau menikah. Pun sudah berumahtangga, wanita memilih untuk tidak hamil. (Foto: AP/Lee Jin-man)

Visitors wearing face masks to help curb the spread of the coronavirus walk under a canopy of cherry blossoms in full bloom in Seoul, South Korea, Sunday, April 10, 2022. (AP Photo/Lee Jin-man)

Data dari pusat statistik Korsel menunjukkan hanya 260.600 bayi di Korea Selatan di tahun lalu. (Foto: AP/Lee Jin-man)

South Korean Buddhist monks wearing face masks, carry colorful lotus lanterns during the lighting ceremony to celebrate for the upcoming birthday of Buddha on May 8, in Seoul, South Korea, Tuesday, April 5, 2022. (AP Photo/Lee Jin-man)

Banyak anak muda Korea Selatan mengatakan bahwa tidak seperti orang tua dan kakek neneknya, mereka tidak merasa berkewajiban untuk berkeluarga. (Foto: AP/Lee Jin-man).

South Korean Buddhist monks wearing face masks, carry colorful lotus lanterns during the lighting ceremony to celebrate for the upcoming birthday of Buddha on May 8, in Seoul, South Korea, Tuesday, April 5, 2022. (AP Photo/Lee Jin-man)

Mereka mengutip ketidakpastian pasar kerja yang suram, harga rumah yang mahal, ketidaksetaraan gender dan sosial, tingkat mobilitas sosial yang rendah, dan biaya besar untuk membesarkan anak dalam masyarakat yang sangat kompetitif.  (Foto: AP/Lee Jin-man)

A couple takes a selfie with an illuminated Christmas decorations on the Eve of Christmas in Seoul, South Korea, Friday, Dec. 24, 2021. (AP Photo/Ahn Young-joon)

Perempuan juga mengeluhkan budaya patriarkal yang memaksa mereka melakukan banyak pengasuhan anak sambil menanggung diskriminasi di tempat kerja. (Foto: AP/Ahn Young-joon)

Korsel Krisis Bayi Imbas Resesi Seks, Kenapa Warga Ogah Punya Anak?
Korsel Krisis Bayi Imbas Resesi Seks, Kenapa Warga Ogah Punya Anak?
Korsel Krisis Bayi Imbas Resesi Seks, Kenapa Warga Ogah Punya Anak?
Korsel Krisis Bayi Imbas Resesi Seks, Kenapa Warga Ogah Punya Anak?
Korsel Krisis Bayi Imbas Resesi Seks, Kenapa Warga Ogah Punya Anak?
Korsel Krisis Bayi Imbas Resesi Seks, Kenapa Warga Ogah Punya Anak?

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT