Jika menggunakan cara yang konvensional ada kemungkinan atlet tersebut belum 100% sembuh dan bisa menyebabkan cedera yang lebih serius lagi. Dengan menggunakan DBC (Documentation Based Care) cedera pada atlet bisa diatasi.
DBC adalah suatu konsep rehabilitasi aktif (otot pasien dituntun bergerak secara aktif) yang komprehensif dengan pendekatan cognitive behaviour menggunakan alat yang dirancang berdasarkan penelitian dan telah digunakan di klinik dan rumah sakit diberbagai negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahapan dalam DBC adalah pasien harus menjalani pre-assesment (pengisian kuesioner, pemeriksaan klinis, tes mobilitas dan EMG), setelah itu ditentukan terapi apa yang cocok dan berapa kali treatment yang dibutuhkan, dan diakhir terapi dilakukan post-assesment untuk melihat hasil dari terapi," ujar dr. Haidir Sulaeman, SpRM, Spesialis Rehabilitasi Medis Siloam Hospital Kebun Jeruk, pada acara Grand Opening DBC Center Siloam Hospital Kebun Jeruk, 23 Juli 2009.
Sementara dr. Ari Sutopo, SpKO, director of Sport Science, Program Atlet Andalan Kemenegpora mengatakan hampir 75% atlet Indonesia mengalami cedera lutut dan engkel. Cedera yang dialami atlet Indonesia adalah terapinya yang konvensional, sehingga cedera belum sembuh 100% sudah dipaksa latihan kembali, akibatnya menimbulkan cedera yang lebih parah.
Menurut dr. Haidir Sulaeman, SpRM, DBC hanya bisa menangani fase kronis saja, pada pasien yang masih kesakitan harus dikurangi dulu rasa sakitnya dan mempertahankan fase tidak sakitnya itu. Terapi ini bisa dilakukan oleh semua umur karena terdapat lock system dan bebannya bisa diatur asalkan tidak ada kontraindikasi pada pasien.
"Terapi ini juga bisa untuk pengobatan skoliosis dengan membantu penguatan dan koordinasi agar tulang kanan dan kiri seimbang, namun tulang tidak dapat diluruskan dengan DBC," ujar dr. Haidir Sulaeman.
Menurut Peter Halen, Director Regional Executive for DBC, 80-85% fisioterapi dengan DBC ini berhasil, karena cara kerja yang digunakan pada DBC sangat aman dan bagus. Pasien mendapatkan perbaikan fungsi yang bermakna, dapat beraktifitas kembali, dan meningkatkan kualitas hidup.
"Pada atlet dibutuhkan recovery yang cepat dan baik, jika cedera pada atlet sembuh 100%, maka itu bisa meningkatkan prestasi dari atlet itu sendiri," ujar dr. Ari Sutopo, SpKO.
Beberapa atlet yang sering mengalami cedera adalah atlet tenis, bulutangkis, lari, angkat besi, basket, dan sepakbola, seperti atlet muda tenis Sandy Gumulya yang sedang menjalani terapi.
Untuk mencegah timbulnya cedera disarankan untuk menjaga jasmani dengan baik, fleksibilitas dan kecepatan reaksi yang baik, sarana yang digunakan harus bagus, gunakan sepatu yang nyaman dan tepat, dan gunakan teknik yang baik.
Terapi ini juga bisa dilakukan oleh semua orang yang mempuyai keluhan nyeri leher, bahu, pinggang, dan lutut, asalkan memenuhi kriterianya.












































