"Selera juga harus kita didik, jangan sampai jadi korban selera. Kita harus bisa menilai produk secara komprehensif," ucap Prof. Dr. Made Astawan, ahli Teknologi Pangan dan Gizi IPB, Rabu (15/7/2009).
Kebiasaan ngemil memang sulit dihindari, terutama bagi mereka yang sudah menjadikannya sebagai hobi. Bahkan menurut Made, Indonesia menempati urutan ketiga setelah China dan Jepang untuk tingkat konsumsi camilan yang paling tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Makanan camilan yang beredar di pasaran umumnya mengandung padat kalori dan MSG yang tinggi. Sedangkan camilan sehat adalah yang kaya protein, vitamin dan serat pangan justru masih jarang ditemui.
"Padahal camilan seperti itu sangat baik untuk mengurangi risiko penyakit jantung, diabetes dan mengontrol gula darah serta berat badan," ujar Made.
Made mempresentasikan hasil penelitiannya baru-baru ini mengenai Glycemic Index (GI) pada beberapa snack yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.
Glycemic Index (GI) sendiri merupakan istilah pemberian peringkat pada bahan pangan dari nilai 0-100 berdasarkan kemampuannya untuk menaikkan kadar gula darah. Disebut pangan low GI jika nilainya kurang dai 55, namun jika nilainya lebih dari 70 termasuk high GI.
Snack yang menjadi bahan penelitian pun terdiri dari cokelat batang, wafer cokelat, biskuit dan cokelat kombinasi kedelai dan buah. Berdasarkan studi tersebut, snack yang mengandung tepung kedelai yang ternyata berperan dalam proses penundaan lapar dan cukup banyak mengandung gizi.
Kedelai bahkan disebut-sebut sebagai Miracle Food of The Future karena kandungannya yang sangat bergizi. Selain proteinnya yang tinggi, kedelai juga mengandung isoflavon, antioksidan yang sangat berguna untuk menangkal radikal bebas dalam tubuh.
Serat pangan yang terdapat dalam camilan yang kita makan sebenaranya dapat melancarkan buang air besar dan mencegah kanker usus. Tapi menurut Made rata-rata konsumsi serat per hari orang Indonesia adalah 10 gram/hari, masih jauh dari kebutuhan hariannya yaitu 30 gram/hari.
Oleh karena itu, ia mengkhawatirkan penyakit-penyakit usus yang mungkin menghampiri jika jarang mengonsumsi serat. "Barangsiapa yang BAB-nya 2-3 hari sekali, siap-siap saja mendapatkan bom waktu penyakit kanker usus kolon," ujarnya.
Dia juga berharap industri pangan di Indonesia dapat membuat produk-produk yang tidak hanya enak dimakan, tapi juga memiliki efek benefit untuk kesehatan masyarakatnya.












































