Para peneliti dari Duke University menemukan bahwa pola makan seseorang dipengaruhi oleh suatu kelompok atau teman-temannya. Sebanyak 210 responden mahasiswa dijadikan subjek penelitian dan dimonitor pola makannya sehari-hari.
Dalam Journal of Consumer Research, peneliti mengatakan bahwa porsi makan para responden mahasiswa disesuaikan dengan siapa ia makan. Jika teman-temannya tergolong gemuk, mereka cenderung makan sedikit mengikuti porsi temannya yang merasa harus makan sedikit karena sudah gemuk. Begitu pula sebaliknya, jika sedang bersama temannya yang kurus mereka ikut-ikutan makan banyak karena merasa harus gemuk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti percaya bahwa perilaku seperti itu dikarenakan mereka ingin tetap diterima dalam kelompoknya. Contohnya, orang gemuk sering menjadi korban pemisahan kelompok dan dipersepsikan buruk. Namun mereka yang berteman dengan orang gemuk mencoba menyamai pola makannya agar tidak menyinggung perasaannya.
Kegiatan meniru pola makan kelompok ternyata sangat berperan kuat, terutama bagi mereka yang masih senang bergaul dalam suatu kelompok. "Jika Anda merasa seseorang kelihatan bahagia dan sehat dengan pola makan atau hidupnya, Anda cenderung menirunya," ujar Fitzsimons.
Yang jadi bahaya adalah ketika Anda makan bersama orang kurus yang makannya rakus, sedangkan Anda sendiri termasuk orang gemuk. "Karena mereka kurus dan kecil, Anda pun mengikuti cara makannya yang ekstra besar tanpa berpikir dua kali. Padahal itu justru membahayakan diri Anda sendiri," tutur Fitzsimons.
"Kita tidak hanya harus bisa melawan keinginan diri sendiri tapi juga dari pengaruh sosial. Lain kali jika Anda makan bersama seseorang yang berlawanan dengan Anda, sebaiknya lihat kembali tubuh Anda dan pikirkan porsi bagaimana yang sepantasnya masuk ke dalam tubuh, jangan terpengaruh orang lain," ujar Fitzsimons.












































