Peneliti telah menemukan kunci yang membedakan produksi bau badan orang yang cenderung lebih sering digigit serangga dibandingkan dengan orang yang resistan terhadap gigitan serangga. Komponen tersebut dikenal dengan ketone, yang dapat menolak nyamuk. Orang yang memproduksi ketone dengan tingkat tinggi cenderung jarang digigit nyamuk.
"Nyamuk bisa mendeteksi dalan jarak yang luas untuk membedakan zat kimia dan sinyal yang bisa membantu nyamuk mengidentifikasi sesuatu sebagai manusia," ujar Dr James Logan, seorang peneliti dari Rothamsted Research, seperti dikutip dari Telegraph, Jumat (25/9/2009).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dr. Logan yang bekerja di Aberdeen University juga menganalisis produksi bau badan pada sukarelawan yang ditemukan resistan terhadap gigitan nyamuk, dibandingkan dengan orang yang bau badannya menarik bagi nyamuk. Sukarelawan tersebut melakukan diet ketat, tidak boleh minum alkohol dan menghindari penggunaan minyak wangi dan deodorant, sehingga menghasilkan bau badan yang alami.
Peneliti menemukan 5 jenis senyawa keton yang efektif untuk menolak gigitan nyamuk. Ini didapatkan saat sukarelawan yang bau badannya menarik bagi nyamuk, disemprotkan senyawa tersebut dan ternyata nyamuk tidak menggigit kulit orang tersebut.
Ditemukan lebih dari 3.500 jenis nyamuk yang berbeda di seluruh dunia, tapi hanya sedikit yang menggigit manusia. Nyamuk merupakan pemakan minuman yang lezat, tapi nyamuk betina meminum darah sebagai penyedia energi dan protein yang dibutuhkan untuk pengembangan telur-telurnya. Selain itu juga menjadi perantara berbagai macam penyakit mematikan seperti demam kuning, demam berdarah dan malaria yang bisa mengakibatkan kematian.
Jika Anda termasuk orang yang jarang digigit nyamuk, berarti tubuh Anda memproduksi senyawa keton yang relatif banyak. Dan nyamuk tidak menyukai bau badan yang seperti buah-buahan.












































