Awalnya, para peneliti dari Amerika dan Brazil menemukan fakta bahwa seorang yang terkena gigitan laba-laba asal Brazil (Phoneutria nigriventer) pada bagian penisnya merasa kesakitan. Tapi ternyata efek lainnya adalah penis bisa mengalami ereksi dan bertahan lama hingga beberapa jam.
Akhirnya, racun yang dikeluarkan dari gigitan laba-laba tersebut diisolasi dan dimurnikan menjadi jenis racun Tx2-6 dan diinjeksikan pada tikus yang menderita hipertensi serta erectile dysfunction (ED) dengan dosis tertentu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengobatan menggunakan bisa sudah lama dikenal oleh masyarakat Brazil. Mereka percaya bahwa bisa atau racun yang dikeluarkan oleh beberapa jenis binatang adalah obat ampuh untuk mengobati luka atau penyakit.
"Di Brazil, sudah biasa mengobati sesuatu dengan racun binatang, dan kami sangat tertarik dengan bisa laba-laba yang ternyata bisa menormalkan kembali gangguan ereksi," ujar Kenia Pedrosa Nunes dari Medical College of Georgia seperti dilansir Health24, Senin (28/9/2009).
Laba-laba Brazil sangat banyak ditemukan di daerah Amerika Selatan dan Tengah. Laba-laba jenis Phoneutria nigriventer diketahui sebagai laba-laba paling berbisa dan menyebabkan beberapa kematian di daerah tersebut.
Penyakit ED yang dikenal dengan masalah impotensi bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Untuk beberapa kasus, penyebabnya adalah masalah psikologi. Namun tidak sedikit juga penderita ED yang disebabkan oleh kecelakaan, diabetes dan penyakit lainnya.
Berdasarkan National Kidney and Urologic Diseases Information Clearinghouse (NKUDIC), seseorang dikategorikan ED jika memiliki ketidakmampuan total mencapai ereksi atau tidak konsistennya proses ereksi. Kondisi tersebut menimpa hampir 30 juta pria di Amerika saat ini.
Penemuan obat viagra seperti Levitra dan Cialis di akhir tahun 1990-an telah terbukti bisa mengobati penyakit ED, namun obat-obatan tersebut memungkinkan efek samping yang kurang baik bagi tubuh.
Baru-baru ini peneliti juga sudah mengembangkan krim viagra yang lebih aman bagi tubuh, dan kini bisa laba-laba pun menjadi terapi lainnya yang cukup menjanjikan bagi penderita ED.
"Konsep penggunaan bisa in sangat unik dan menarik. Kami yakin suatu hari nanti penemuan ini bisa jadi terapi pengobatan di bidang farmasi yang bisa mengobati pasien yang tidak bisa mengonsumsi Viagra. Butuh studi lebih lanjut untuk mengembangkannya," ujar Dr Arnold Melman dari Montefiore Medical Centre in New York City.











































Main Tetris Bagus untuk Otak