Tidak ada kata tabu untuk mempersiapkan kematian yang baik, meskipun orang-orang di negara maju sangat mengerti manusia tidak bisa memilih tempat dan waktu kematiannya karena sudah takdir.
Dengan mempersiapkan kematian yang baik misalnya orang Amerika mencoba untuk melawan kesedihan atau ketakutan jika waktu itu tiba.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun tidak semua orang memiliki persiapan cukup untuk kematian, tapi dengan meluangkan waktu untuk berpikir soal kematian biasanya akan membuat orang mampu menentukan apa yang akan dipersiapkan.
Orang di negara maju menilai, kematian sama misteriusnya dengan kehidupan yang semuanya dibentuk oleh banyak faktor seperti kondisi fisik, perawatan medis dan orang-orang yang menemani mereka di hari akhir.
Kebanyakan orang Amerika mengatakan mereka akan lebih suka mati di rumah berdasarkan jajak pendapat baru-baru ini. Namun kenyataannya tiga perempat dari penduduk AS yang meninggal berada dalam perawatan medis yang menghabiskan banyak waktu di unit perawatan intensif.
Kebanyakan orang yang merasa waktunya sudah dekat tidak mau sendirian selama hari-hari terakhirnya. Berpegang pada spiritualitas dapat membantu banyak orang menemukan kekuatan dan makna hidup pada saat-saat terakhir mereka.
Seperti dikutip dari buku Ira Byock 'The Four Things That Matter Most', ada 4 kata yang akan diucapkan orang ketika waktu kematiannya datang: 'Maafkan saya', 'Aku memaafkanmu', 'Aku mencintaimu' dan 'Terimakasih' di luar bahasa komunikasinya dengan sang pencipta.
Ucapan itu keluar karena kematian yang baik adalah mengakhiri hidup tanpa urusan yang belum selesai, atau menyelesaikan hubungan yang rusak.
Sementara orang-orang yang sadar akan waktu kematiannya biasanya melakukan langkah-langkah:
1. Mempersiapkan tempat pemakaman
2. Siapa yang akan mendapat harta warisan dan pembagiannya
3. Menetapkan kapan akhir dari perawatan medis.











































