Selama ini penderita HIV AIDS yang terdeteksi adalah dari kelompok wanita pekerja seksual (WPS), waria, pelanggan WPS dan gay. Sedangkan LSL sulit diidentifikasi karena mereka sangat merahasiakannya dan hanya mau berinteraksi dengan komunitasnya.
Perilaku LSL banyak ditemui di komunitas yang mayoritas banyak lelakinya seperti di asrama, penjara, pekerja di tengah laut. Hasrat seksual LSL dengan pasangan wanita tidak tersalurkan karena kondisi lingkungannya tidak ada wanita.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemal menambahkan yang bisa berkomunikasi dengan kalangan LSL hanya dari kelompok itu sendiri, sehingga dibutuhkan pengembangan jaringan agar bisa masuk ke komunitas LSL ini. Diperkirakan sampai saat ini terdapat sekitar 1 juta LSL dan kelompok ini juga sangat berisiko terkena AIDS atau penyakit infeksi menular seksual (IMS lainnya.
Sampai saat ini jumlah LSL yang sudah teridentifikasi terkena AIDS baru sekitar 9 persen saja, tapi diperkirakan prevalensi penderita AIDS pada kelompok ini sebenarnya tinggi dan diketahui kelompok ini ada di hampir tiap daerah mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya hingga daerah-daerah lainnya.
"Risiko LSL terkena AIDS lebih tinggi dibanding wanita yang seks dengan wanita, karena pada LSL ini mudah sekali terjadi luka akibat tidak ada lubrikannya sehingga kemungkinan infeksinya lebih besar," tambahnya.











































