Hannah selalu merasa dirinya mendapat pandangan yang jijik dari teman-teman prianya. "Setiap kali melihat diri sendiri di cermin, saya merasa gendut. Saya melihat perut yang sudah menonjol keluar, pinggul yang lebar dan kaki yang besar. Saya memang bisa melihat ada bagian tubuh saya yang kurus, tapi saya menyingkirkannya dari pikiran," ujar Hannah seperti dilansir dari Dailymail, Senin (16/11/2009).
"Saya tidak tahan dengan pikiran jelek orang-orang yang seolah-olah jijik melihat saya. Saya hanya fokus pada itu saja yang akhirnya membuat saya depresi dan mencoba bunuh diri. Rasanya tidak ada gunanya lagi saya hidup. Saya jadi tidak takut mati," tutur Hannah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski sudah mencoba bunuh diri hingga beberapa kali, tapi ia selalu berhasil terselamatkan. Ia diselamatkan oleh teman-temannya dan 2 kali diselamatkan oleh Heather Samuels, wanita tua berusia 69 tahun yang ternyata adalah seorang terapis. Ia pun menyarankan agar Hannah melakukan terapi foto.
Dan ternyata terapi foto itu berhasil menyembuhkan penyakit Hannah perlahan-lahan. "Dengan melihat foto-foto itu, saya menganggap saya sebagai bagian dari sebuah seni, bukan sebagai diri saya sendiri. Terapi itu benar-benar membantu saya menerima diri saya apa adanya tanpa pikiran tentang bentuk tubuh. Foto itu membuat saya merasa bagaikan orang secara utuh," ujar Hannah.
"Mungkin penyakit BDD itu tidak akan pernah berakhir, tapi dengan mengatakan bahwa saya baik-baik saja semuanya bisa diatasi. Jika sudah melihat cermin dan berkata 'saya terlihat baik-baik saja', maka saya bisa pergi keluar dan melakukan semuanya dengan normal. Saya bisa pergi belanja atau piknik, saya merasa jauh lebih baik dari sebelumnya," kata Hannah.
Kini, Hannah mencoba mendorong sesama penderita BDD untuk melakukan terapi foto dan untuk melihat tubuhnya sebagai sebuah objek yang patut diterima dan disyukuri. "Hidup rasanya lebih indah ketika kita bisa menerima diri sendiri apa adanya," tambahnya.











































