Suara yang dihasilkan oleh setiap orang memang berbeda-beda, ada orang yang berbicara dengan suara kecil tapi ada juga yang gaya bicaranya seperti teriak-teriak.
Orang yang bicara keras-keras sering dianggap suka cari perhatian atau terkadang menandakan pendengarannya mulai hilang. Menurut si empunya dia bicara biasa tapi buat orang lain dia sudah teriak-teriak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebenarnya seberapa besar intensitas volume suara yang normal?
Selama ini orang melihat besarnya volume suara berdasarkan ukuran desibel (dB), sedangkan kepekaan pendengaran setiap orang berbeda-beda. Hal ini berdasarkan perbedaan intensitas suara (ukuran fisik) dan kenyaringan (respons sensorik).
Intensitas suara yang diukur dalam desibel akan direspons oleh sensor ditubuh untuk mengetahui tingkat kenyaringannya. Ada berbagai perbedaan skala dalam merespons suara yang muncul, hal ini berdasarkan faktor usia dan lingkungan di sekitar. Karena kepekaan pendengaran (kenyaringan) merupakan respons dari psiko-fisik.
Seperti dikutip dari Newton.dep.anl.gov, Selasa (23/2/2010) setiap percakapan memiliki intensitas suara normal yang berbeda-beda:
- Suara bisikan yang pelan sekitar 20 dB.
- Suara percakapan dengan kondisi lingkungan yang tenang sebesar 40-45 dB
- Percakapan dengan kondisi lalu lintas yang ramai sebesar 65-70 dB
- Percakapan dengan kondisi adanya kereta api sebesar 65-90 dB.
Percakapan dengan suara yang keras biasanya jika melebihi intensitas 50 dB. Umumnya telinga akan menganggap suara tersebut sangat keras jika intensitas yang ditangkap oleh telinga lebih dari 80 dB dan hal ini sudah sangat mengganggu.
Terkadang kenyaringan yang dirasakan tidak sebanding dengan intensitas suara yang dihasilkan, misalnya seseorang masih bisa mendengar suara bisikan yang paling tenang dan dengungan nyamuk sementara orang lain tidak.
Telinga manusia memiliki sensitivitas yang berbeda-beda, bagi orang yang sangat sensitif tentu masih bisa mendengar suara dengan volume kecil tapi bagi orang lain belum tentu bisa mendengar.
Selain itu dari 100 kali kekuatan suara yang dihasilkan hanya terdengar 4 kali lebih keras di telinga manusia. Sensitivitas pendengaran ini juga tergantung dari waktu dan tempatnya.
Volume suara yang terlalu keras bisa membahayakan kondisi telinga, terutama mengganggu sel-sel rambut yang terdapat di dalam koklea (rumah siput). Sel rambut ini berfungsi untuk menangkap frekuensi dari suara dan meneruskannya ke pusat pendengaran di otak. Jika suara yang didengar terlalu keras bisa mengganggu kerja sel-sel rambut yang lama kelamaan akan menurunkan fungsi pendengaran orang tersebut.
(ver/ir)











































