Parkinson merupakan penyakit degeneratif yang ditandai dengan adanya tremor pada pergerakan dan kekakuan otot. Dalam kasus tertentu disebabkan oleh toksin, kepala terluka, dan obat-obatan.
Penyebab di dalam otak ada sebuah daerah yang disebut ganglia basalis. Ganglia Basalis inilah yang mengolah sinyal dan mengantarkan pesan ke talamus, yang akan menyampaikan informasi yang telah diolah kembali ke korteks serebral. Pada penderita parkinson, sel-sel pada ganglia basalis mengalami kemunduran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dr. Dewi Gentari, Sp.S. dalam presentasinya pada peringatan Hari Parkinson sedunia 2010 di Jakarta, Minggu (2/5/2010) menyebut ada 4 gejala utama pada penyakit parkinson.
Gejala berikut ini baru muncul jika sel penghasil dopamin yang mati telah mencapai 70 persen:
1. Tremor (gemetar yang tidak terkontrol)
2. Rigiditas (kekakuan otot dan sendi)
3. Bradikinesia (melambatnya gerakan motorik)
4. Ketidakseimbangan postur.
Hingga saat ini tidak ada terapi yang bisa menyembuhkan parkinson. Terapi medikamentosa (dengan obat-obatan), maupun terapi invasif seperti operasi sifatnya hanya untuk mengatasi gejala dan mencegah berkembangnya penyakit menjadi lebih parah.
Namun ada banyak cara yang bisa dilakukan sebagai terapi suportif (pendukung). Fungsinya beragam, mulai dari memperbaiki fungsi motorik hingga menjaga fungsi kognitif (kemampuan berpikir).
Mengoptimalkan tidur di malam hari termasuk cara untuk memperbaiki fungsi motorik. Menurut Dr. Dewi, produksi dopamin lebih banyak terjadi pada malam hari. Tidur siang hendaknya dibatasi jangan lebih dari 45 menit agar tidur malam lebih berkualitas.
"Siang hari justru harus banyak bergerak, misalnya dengan senam atau minimal berjalan-jalan. Ini untuk melatih kemampuan motorik," kata Dr. Dewi yang merupakan ahli syaraf di RS Azra Bogor.
Sedangkan untuk menjaga fungsi kognitif, Dr. Dewi menyarankan penyandang parkinson untuk rajin mengisi Teka-teki Silang (TTS). Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk brain gym, yang berfungsi menjaga kebugaran otak.
Lebih lanjut, Dr. Dewi juga mengungkap ada 2 macam penyakit parkinson. Yang pertama adalah parkinson primer, yang hingga kini tidak diketahui pasti apa penyebabnya selain sebagai dampak dari proses penuaan.
"Ketika masuk usia lanjut, semua orang akan mengalami degenerasi (penurunan fungsi organ). Ada yang mengalaminya di sendi, tulang, ginjal maupun otak. Peluang untuk terjadi di otak, sama pada semua orang," ungkap Dr. Dewi.
Berikutnya adalah parkinson sekunder, yang muncul menyertai penyakit lain. Biasanya terjadi setelah mengalami stroke, benturan yang berulang di kepala, serta infeksi pada otak.
Diduga, parkinson yang dialami mantan petinju Muhammad Ali adalah dampak dari benturan berulang pada kepala sepanjang karir bertinjunya. Dugaan tersebut hingga kini memang masih diperdebatkan.
Yang jelas, Dr. Dewi menyarankan untuk menghindari benturan yang terlalu sering. Lalu bagaimana dengan penggemar olah raga bela diri yang acapkali tidak bisa menghindari benturan di kepala?
"Ya harus pintar-pintar menangkis. Mudah kan?" katanya sambil tertawa.
Meski sulit dicegah karena siapapun bisa mengalaminya namun risikonya bisa dikurangi. Menerapkan gaya hidup sehat agar tubuh tidak terlalu banyak toksin, menghindari kepala terluka dan obat-obatan bisa dilakukan untuk mengurangi risikonya.
(up/ir)











































