Seksomnia adalah gangguan tidur yang menyebabkan penderitanya melakukan aktivitas seks saat terlelap. Penelitian menunjukkan, seksomnia dialami oleh hampir 8 persen penderita gangguan tidur.
Dikutip dari Live Science, Selasa (8/6/2010), penelitian yang dilakukan oleh tim dari University Health Network di Kanada ini melibatkan 832 penderita gangguan tidur. Hasilnya dipresentasikan dalam rapat tahunan Associated Professional Sleep Societies LLC.
Pria lebih sering mengalami seksomnia, yakni 11 persen sedangkan pada wanita hanya 4 persen. Secara keseluruhan, gangguan tersebut dialami oleh 7,6 persen pasien.
Sharon A. Chung, yang terlibat dalam penelitian itu mengakui hasil tersebut cukup mengejutkan. Sebuah penelitian dengan skala kecil memang pernah dilakukan, namun angkanya tidak setinggi penelitian kali ini.
Menurut Chung, seksomnia menyebabkan penderita melakukan aktivitas seks saat tidur, dengan seorang partner hingga mencapai orgasme. Namun aktivitas itu tidak terekam dalam memori si penderita, sehingga tidak akan disadari jika tidak diberi tahu oleh pasangan.
Saat tidur, aktivitas seks pada seksomnia terjadi pada fase yang sama dengan sleepwalking (berjalan dalam tidur). Keduanya digolongkan sebagai parasomnia, yang merupakan perilaku tak dikehendaki baik pada saat jatuh tertidur, selama tertidur maupun saat bangun tidur.
Sama seperti gangguan tidur pada umumnya, seksomnia juga disertai gejala-gejala seperti gelisah, insomnia, maupun depresi.
Penyebab seksomnia adalah:
- Konsumsi alkohol (41%)
- Menggunakan obat-obatan terlarang (15,9%)
- Insomnia
- Kafein
(up/ir)











































