Wanita dan Gay Lebih Pandai Mengingat Wajah

ADVERTISEMENT

Wanita dan Gay Lebih Pandai Mengingat Wajah

- detikHealth
Jumat, 25 Jun 2010 15:18 WIB
Toronto - Beberapa orang terutama pria sulit mengingat wajah orang lain meski sudah pernah berkenalan sebelumnya. Fenomena ini terkait dengan gender dan orientasi seksual. Dan ternyata gay dan wanita jarang mengalami kesulitan semacam itu.

Kecenderungan ini mudah diamati terutama dalam sebuah pesta atau pertemuan, ketika wanita tampak lebih aktif untuk memperkenalkan pasangannya. Sekalipun pernah berkenalan, pria cenderung mudah lupa dan butuh name-tag untuk mengingatnya.

Fenomena ini terbukti dalam eksperimen yang dilakukan Jennifer Steeves dari York University di Toronto. Ia melibatkan partisipan yang dikelompokkan berdasarkan gender dan orientasi seksual, yakni gay (pria homoseksual), pria heteroseksual dan wanita heteroseksual.

Dikutip dari Time, Jumat (25/6/2010), Steeve dalam eksperimen tersebut menggunakan 10 gambar wajah yang telah dimodifikasi. Telinga, rambut dan tanda khusus seperti cacat atau bekas luka dihilangkan agar partisipan mengenalinya bukan dari tanda atau ciri khusus tersebut.

Untuk menjelaskannya, ia mengaitkan gender dan orientasi seksual dengan kode genetik yang dimiliki setiap manusia. Kode tersebut menentukan kerja otak, termasuk dalam mengenali wajah.

Setiap manusia lahir dengan kode genetik yang mengatur simetri dan asimetri tubuh. Bukan hanya menentukan seseorang kidal atau tidak, kode itu bahkan menentukan arah tumbuh lingkaran rambut (whorl) di ubun-ubun.

Menurut Steeve, kode tersebut sering dikaitkan dengan gender dan orientasi seksual seseorang. Sebab penelitian lain membuktikan, 39 persen gay cenderung menggunakan tangan kiri dan memiliki arah tumbuh lingkaran rambut di ubun-ubun yang melawan arah putaran jarum jam.

Dalam kaitannya dengan kemampuan mengenali wajah, Steeves menduga kode genetik tersebut juga punya peran. Orientasi seksual yang terbentuk sebagai hasil pengkodean, menentukan cara otak mengkomunikasikan seluruh bagian yang ada di dalamnya.

Gay dan wanita heteroseksual diduga mampu menggunakan bagian otak kanan dan kiri sekaligus, dan ini sangat membantu dalam mengenali wajah. Komunikasi antara kedua sisi otak yang terjalin melalui corpus callosum, berlangsung lebih efisien pada kelompok tersebut.

Meskipun demikian, Steeve belum bisa menyimpulkan hal itu, karena masih membutuhkan eksperimen lebih lanjut. Ia tidak melakukan pemindaian otak dengan functional magnetic resonance imager (fMRI), karena universitas tidak mempunyai alatnya.



(up/ir)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT