Dikutip dari WebMD, Rabu (21/7/2010), bersin merupakan refleks yang sangat cepat dan kuat, serta bersifat protektif atau melindungi saluran napas. Pemicunya bisa berupa benda asing di hidung maupun respon alergi terhadap sesuatu.
Sama halnya dengan orgasme seksual, bersin juga melibatkan respons fisik yang tidak dapat dikendalikan. Keduanya tidak mungkin dilakukan secara sengaja, meskipun rangsang pemicunya bisa dimunculkan dengan sengaja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begitu kuatnya mitos itu di masyarakat, sampai-sampai muncul sajak yang mengungkapkan keyakinan tersebut. Bunyi sajak tentang bersin yang terjadi beberapa kali itu adalah sebagai berikut:
Once, a wish
Twice, a kiss
Three times, a letter
Four times, something better
Mitos itu makin berkembang ketika seorang pakar seksualitas, Dr Ruth Westeimer menyampaikan pernyataan membingungkan bahwa orgasme itu sama saja seperti bersin. Padahal kesamaan yang dimaksud tak lain adalah bahwa keduanya sama-sama merupakan refleks, seperti halnya ayunan kaki ketika lutut diketuk dengan palu karet.
Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah bahwa bersin bisa memberikan kepuasan yang sama dengan orgasme. Meski sama-sama membuat tubuh sejenak mengalami kejang kemudian merasa lega, masing-masing tentu memberikan sensasi yang berbeda.
Namun jika ada yang mengatakan bahwa seks bisa memicu bersin-bersin, maka hal itu bukan mitos. Penelitian membuktikan, stimulasi pada saraf parasimpatis tidak hanya mendorong seseorang untuk mengalami orgasme tetapi juga dapat memicu bersin setelah hubungan seks berakhir. (up/ir)











































