"Daging kambing itu seratnya hampir sama dengan daging sapi yang nggak gampang dicerna dan mudah menempel di usus, jadi bisa bikin kanker usus," ujar Dr Phaidon L Toruan, MM, dokter gizi dan pakar hidup sehat dari Jakarta Anti-aging & Executive Fitness Consultant, saat dihubungi detikHealth, Rabu (17/11/2010).
Untuk itu, menurut Dr Phaidon, konsumsi sayuran dan buah harus diperbanyak setelah makan daging kambing, agar ada serat sehat yang dapat membersihkan usus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk meminimalkan risiko daging kambing, juga perlu diperhatikan cara pengolahannya. Sebaiknya jangan digoreng, jangan digulai, bumbu jangan dicampur dengan gula atau vetsin. Dan untuk orang di atas usia 30 tahun sebaiknya pilih daging yang nggak banyak lemaknya," jelas Dr Phaidon lebih lanjut.
Menurut Dr Phaidon, sebaiknya orang tidak makan lemak daging yang berwarna putih dari daging kambing. Dr Phaidon juga menyarankan daging kambing sebaiknya diolah menjadi sup atau sate saja.
Jika 100 gram daging kambing dijadikan gulai dapat menghasilkan kalori sebesar 125 kalori, sedangkan jika diolah menjadi sop kambing akan menghasilkan kalori sebesar 35 kalori, karena orang tidak hanya makan dagingnya saja tapi juga beserta kuah sop dan sayuran di dalamnya.
"Sebaiknya penderita darah tinggi tidak usahlah makan daging kambing. Bagi pecinta daging kambing juga jangan lupa untuk mengonsumsi sayuran dan berolahraga setelah makan untuk mengurangi jumlah kalori dan lemak yang masuk ke dalam tubuh," tutup Dr Phaidon. (mer/ir)











































